Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 87. Cerita Kehidupan


__ADS_3

Bima dan Diah makan bersama malam itu, tapi Diah hanya menemaninya saja karena tadi sudah makan dengan Aira anaknya. Bima sidah sedikit lega Diah sudah mau menerima kehadiran dirinya kembali.


Malam sudah sangat larut sekali, setelah selesai makan malam mereka pun pergi tidur di kamarnya.


Sebelum tidur mereka ke kamar Aira untuk melihatnya disana. Diah menyelimuti Aira dan mencium keningnya, Bima juga melakukan hal yang sama dan membelai anaknya.


Bima dan Diah pun segera menutup pintu dan keluar dari kamar Aira. Mereka kemudian masuk ke kamar yang ada di depan kamar Aira, dan segera tidur. Karena besok akan bangun pagi-pagi sekali untuk mengurus sekolah Aira.


Diah sudah tertidur dan berselimut kain tebal karena memang cuaca sangat dingin. Bima pun juga tidur disampingnya, Bima tidur dengan senyuman karena dia merasa bahagia.


****


Dito hari ini ada Meeting dengan kliennya di resto Kembar yang selalu ramai dan nyaman tempat meeting.


Dito sangat suka makan dan duduk di resto itu. Saat dia duduk sedang tenangkan diri seorang pelayan resto datang menghampirinya.


"Selamat siang tuan.., mau pesan apa untuk makan dan minumnya hari ini...?" tanya pelayan itu dengan suara lembutnya.


Dito tersadar dan melirik ke arah pelayan itu, seorang wanita yang manis tersenyum kepadanya. Wanita itu tinggi dan sangat menarik, serta begitu ramah dalam melayani pengunjung resto.


"Ah, em..., saya pesan cappucino satu. Itu saja, nanti saya akan pesan lagi setelah klien saya datang." kata Dito yang masih terus memperhatikan.


"Baiklah nanti saya akan datang lagi." kata pelayan wanita itu.


Dito melirik ke bed namanya, disana tertulis Raisa dan tanpa ada kepanjangannya. Dito memperhatikan Raisa yang berjalan pergi dari hadapannya. Dia sungguh sangat tertarik pada wanita yang bernama Raisa itu.

__ADS_1


"Selamat siang pak Dito, saya Vito perwakilan dari perusahaan Samudra. Pak Gery lagi ada urusan keluarga, kebetulan istrinya masuk rumah sakit. Jadi saya yang di utus untuk mewakilkan rapat kita siang ini." ucap Vito dari perwakilan pak Gery.


"Oh, baiklah kalau begitu. Sampaikan nanti salam saya pada beliau, dan mari silahkan duduk. Biar kita mulai segera rapat ini, karena nanti saya harus balik lagi ke kantor." kata Dito dengan sopan.


Mereka berdua pun mulai berbicara dan membahas beberapa berkas yang di keluarkan. Dan sesekali menulis serta menjelaskan apa saja yang di bahas dari dalam berkas itu.


Dari kejauhan Raisa memperhatikan Dito dan Vito yang sedang rapat di meja mereka. Raisa sedikit bingung mau bagaimana menyuguhkan minuman Dito, sementara mereka sedang berbicara berdua.


"Raisa kok kamu malah diam saja disini? Ya diantar minumannya, keburu dingin nanti." kata temannya yang ada di meja bartender.


"Iya bang ini mau saya antar kok bang." ucap Raisa.


Dia pun mengangkat nampan itu dan berjalan menghampiri Dito di mejanya.


"Minumannya pak..," Raisa menyuguhkan.


"Oh, saya teh saja satu, dan terima kasih." ujar Dito kepada Raisa.


Lalu Raisa melirik ke arah Dito, dan pria itu tersenyum kepada Raisa. Sepertinya mereka ada kemisteri dari pandangan mereka.


Pesanan pun datang dan mereka tetap masih melanjutkan. Lalu Dito memesan makanan untuk di bungkus bawa ke kantornya.


"Pak Vito, maaf saya tak bisa makan siang bersama. Jadi saya membungkusnya, karena saya benar-benar buru-buru sekali hari ini. Saya mohon maaf, dengan semua tak kesopanan saya kali ini." Dito meminta maaf kepada Vito.


"Tidak masalah kok pak, saya juga habis ini akan segera langsung ke rumah sakit menemui pak Gery disana." ujar Vito yang memakluminya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu dan selamat siang pak Vito. Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan anda, sampaikan salam saya pada pak Gery." ucap Dito yang menyalami Vito.


Dito lalu ke kasir dan menanyakan pembayarannya. Lalu Dito menuliskan sesuatu di kertas, menitipkan kertas itu ke kasir untuk diserahkan ke Raisa pelayan resto itu tadi.


Mbak yang menjaga kasir pun mengerti dan menyimpan kertas tersebut. Dito pun pergi setelah membayar minumannya tadi bersama Vito. Lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan resto itu dengan cepat.


Raisa dari tadi tak nampak di depan resto, dia sedang istirahat makan siang di belakang. Penjaga kasir tak bisa meninggalkan kasirnya, jadi dia menunggu Raisa keluar untuk bertugas kembali baru menyerahkan kertas titipan itu.


Penjaga kasir itu bernama Mia yang memang teman baiknya Raisa. Bahkan mereka satu kosan dan membayarnya dengan patungan. Tapi Mia sudah punya kekasih dan sering di jemput pakai motor setiap pulang kerja. Sementara Raisa pulang sendirian dan naik angkutan atau ojek untuk perlu sampai ke tempat kosannya.


Raisa kerja tak penuh di resto itu, dia masuk di siang hari dan pulang dimalam hari. Paginya dia masuk kampus dan siang barulah dia bekerja. Raisa masih seorang mahasiswa yang masih melanjutkan pendidikannya.


Orang tuanya sudah tiada yang dia tahu, sedangkan ibu tirinya tak mau mengurus dan menerimanya di rumah yang sebenarnya itu rumah milik papanya. Tapi Raisa tak mau mencari keributan dengan ibu tirinya itu.


Raisa di usir dan barang-barangnya di campakkan diluar pintu rumahnya saat pulang kerja pukul 11:00 malam. Ibu tirinya mendengar hasutan dari Boy yang mengatakan Raisa kerja menjadi kupu-kupu malam sekarang.


Boy sengaja mengatakannya karena Raisa menolak cinta dari Boy, yang ternyata menyukai Raisa diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya.


Raisa pernah ditipu Boy dan di kunci di kamar bersama Boy. Namun untungnya ibu Boy memanggil Raisa saat itu. Jadi Boy membuka kunci itu dan membebaskannya lagi.


Raisa juga merasa tak tahan dengan kelakuan Boy dan ibu tirinya yang selalu membawa pria yang tak di kenal kedalam rumahnya. Pria itu selalu berganti-ganti setiap minggunya, bahkan orang-orang tetangga rumahnya juga sudah mulai berkomentar dan resah melihat kelakuan ibu tirinya Raisa.


Ibunya suka sekali berpakaian yang sangat mini saat keluar rumah dan mengantarkan tamu prianya di depan halaman untuk pulang ke rumahnya.


Boy juga selalu pulang malam dan mabuk ketika sampai dirumah.

__ADS_1


Bila ibunya tak ada dan pergi keluar kota Boy selalu party dirumah dengan teman-temannya. Sementara Raisa mengunci pintu kamarnya dengan berbagai kunci dari dalam. Dia merasa takut kalau Boy dan teman-temannya akan masuk ke kamarnya dan menyakitinya.


Atau Raisa selalu pergi menginap dirumah temannya saat tahu ibu tirinya akan pergi dan Boy akan party di rumah itu. Raisa sangat malang hidupnya semenjak papanya meninggal dunia dan meninggalkan dirinya sendirian.


__ADS_2