Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 42. Tak Perduli.


__ADS_3

🌟 Hari ini hari kelima, dan Diah seharusnya akan pulang dari rumah sakit tersebut. Kebetulan hari itu hari jumat, dan Bima tak bisa menjemput Diah dari rumah sakit dan membawanya pulang ke rumah.


Diah selalu tak mempermasalahkan hal itu, dan mengerti akan kesulitan suaminya.


" Mas, aku gak apa kok harus pulang naik angkutan umum. Lagian ada Aira yang menemani, ya kan Aira sayang?" kata Diah ke putrinya.


" Iya ma.., gak apa kok pa. Sekali - sekali naik angkutan umum Aira belum pernah." ucapnya sangat bijak.


" Iya deh.., anak ayah pintar bicaranya." Bima memeluk anaknya.


Lalu Bima berbicara lagi ke Diah sambil menggenggam tangannya.


" Sayang, mas minta maaf bukannya mas gak mementingkan kepulangan kamu dari pada pekerjaan mas, tapi.." suara Bima terhenti.


" Stts...! Mas berisik banget sih. Gak apa - apa sayang. Sudah jangan di bahas lagi ya, entar aku gak mau pulang - pulang." Diah malah melawak.


" Iya deh gak bahas lagi. Aira ayo kita tidur sini sama ayah." Bima mengajak anaknya tidur bersamanya di tempat tidur di sebelahnya.


Malam itu pun mereka pada tidur semua dalam kamar rumah sakit.


Bima memeluk anaknya dan Diah pun tertidur dengan tenang.


***


Besok paginya Sania adik Diah datang ke rumah sakit.


" Mbak kok kamu gak ada bilang ke aku kalau masuk rumah sakit. Aku tadi ke rumah mbak mau antar sesuatu. Tapi kata ibu kamu di rumah sakit karena keguguran, jadi aku langsung ke sini." ucap Sania.


" Mbak memang gak ada bilang ke siapa - siapa. Karena gak mau merepotkan kalian semua. Mbak gak kenapa - kenapa kok.., ini saja mbak sudah mau pulang sekarang." kata Diah yang terlihat sedang merapikan pakaian dan barang bawaannya ke dalam tasnya.


" Oh kalau begitu biar aku antar saja mbak kerumah. Ini anak - anak biar aku antar duluan saja nanti aku balik lagi menjemput mbak." ucap Sania yang langsung pergi membawa pulang anak - anaknya dan Aira ke rumah duluan.


Sedangkan Diah masih harus merapikan barangnya dan menunggu suster memberikan berkas dan obat yang akan di bawa pulang.


Sania mengantarkan anak - anak ke rumah orang tua Bima, mereka di rumah pada main bersama. Dirumah hanya ada ibu mertua Diah disana Sania tak perduli mau di bilang apa karena menitipkan mereka sebentar saja.

__ADS_1


Lalu Sania kembali ke rumah sakit untuk membawa mbak Diah nya pulang kerumah. Kebetulan Diah sudah menuju ke bawah dan melewati parkiran. Sania yang dari jauh sudah melihatnya langsung datang dan menjemputnya.


Sania membawa motor miliknya yang selalu kemana - mana dia bawa.


Dan sekarang dia menjemput Diah dengan motornya itu pulang ke rumah mertua Diah.


Sampai di rumah Diah pun masuk dengan tas yang di bawanya.


" Assalamualaikum..." ucap Diah dan langsung masuk ke dalam rumahnya.


" Kamu sudah pulang Diah? kok Bima tak ada bilang kalau kamu akan pulang hari ini?" kata mertuanya ke Diah dan di depan Sania adiknya Diah.


" Mungkin mas Bima lupa kali bu, kasih tahunya ke ibu." ucap Diah yang langsung masuk ke kamarnya.


" Sania, mbak mau istirahat. Kamu ke kamar mbak saja biar bisa tiduran juga bersama anak - anak." Diah yang memberi kode ke Sania.


Sania menurutinya, dan ibu mertuanya pun tak berkata apa - apa lagi saat itu.


Setelah Diah pulang ke rumah mertuanya pun pergi ke tempat suaminya bekerja. Dengan alasan ingin membawakan bekal makan siang suaminya siang itu.


Setelah mertuanya pergi, Diah langsung menceritakan kenapa dia bisa masuk rumah sakit dan juga tentang mereka ingin pindah rumah dan hidup mandiri.


Sania mendengarkan semua cerita kakaknya itu, lalu dia memberi usulan kepada kakaknya.


"Mbak, bagaimana kalau mbak bangun rumah di sebelah rumah ku. Itu masih tanah ku kok, nanti akan aku bantu dan bilang ke suami ku." kata Sania yang ingin mbaknya bisa tinggal dekatnya.


" Sepertinya kalau membangun kami belum ada uang San.., coba kamu bantu cari rumah sewa yang murah - murah saja deh untuk mbak dan keluarga." pinta Diah ke Sania adiknya.


" Okelah mbak, nanti coba saya lihat dan tanya - tanya ke mereka, teman - teman ku yang tahu ada rumah sewa." kata Sania yang ingin membantu kakaknya.


Dirumah sangat sunyi, hanya ada Diah, Sania dan ketiga anak mereka. Dan setiap hari Diah juga selalu begitu kalau dirumah, tak ada yang di rumah. Semua pergi dengan kesenangan mereka masing - masing diluar sana.


***


Minggunya...

__ADS_1


Hari itu Monik akan pindah rumah, dia sudah mendapatkan rumah yang dia pilih. Dan tak jauh amat dari rumah ibunya, hanya beberapa kilo meter saja dari jalan raya keluar dari rumah ibunya.


Saat itu ibunya sibuk ikut dan ingin tahu dimana rumahnya Monik saat itu.


Walaupun ibunya sudah pernah di bentak dan di maki, tapi yang namanya seorang ibu pasti akan tetap sayang pada anaknya.


Bima pun juga sibuk membantu adiknya karena rasa sayang dan memikirkan keluarga. Jadi dengan rasa tanggung jawabnya seorang abang dan sesama manusia saling menolong.


Hari itu sangat sibuk sekali karena Monik pindahan, dan semua orang memperhatikannya dan membantunya saat itu. Bima hanya mengantarkan saja dan tak ikut membereskan barang - barangnya.


Setelah itu Bima pun pulang dan tak perduli dengan yang lainnya lagi.


Diah dirumah hanya di kamarnya saja dan tiduran, dia tak perduli dengan urusan mereka.


***


Di rumah Oma...


Oma yang masih belum sehat benar selalu memanggil nama anaknya yaitu ayahnya Diah, kakeknya Aira.


Orang tua Diah sudah pulang ke Batam sebulan yang lalu. Namun oma meminta mereka balik kembali menemuinya, setiap hari yang oma ingat dan tanyai adalah Sardy anaknya yang tak lain ayah kandung Diah.


" Dimana Sardy? apakah sudah kesini?


Sardy mana nak?" bertanya ke Shanti anak paling kecilnya.


" iya mak.., nanti bang Sardy akan datang kok." ucap Shanti dengan sedikit sesak di dadanya.


Shanty pun menelpon abangnya yang di Batam itu, lalu mereka pun pulang kembali karena oma sudah semakin kritis dalam beberapa bulan itu.


Sehingga rumah mereka disana pun di tinggalkan dan hanya disewakan ke orang lain. Sardy dan istrinya kembali hanya membawa pakaian saja dan menyewa rumah untuk sementara.


Maksud Sardy sampai ibunya sembuh dari sakit ginjalnya yang harus cuci darah 2 sampai 3 kali dalam seminggu.


Seluruh keluarga sudah berusaha untuk oma dan berupaya ke beberapa rumah sakit untuk membawa berobat oma.

__ADS_1


Namun hanya itu yang bisa dilakukan untuk oma agar bertahan dari sakitnya tersebut.


__ADS_2