Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 109. Mendapat Kepercayaan


__ADS_3

Dito dan Raisa hari ini resmi menjadi suami dan istri, mereka menikah di depan papanya Dito dengan cara sederhana dan hanya kerabat dekat saja yang tahu akan hal itu.


Sekarang Raisa dan adiknya sudah tinggal di rumah papanya Dito saat ini, dan Dito sekarang sedikit merasa lega dengan keselamatan mereka.


Sekarang setiap pagi Raisa menemani papanya dirumah sakit, dan Dito masih menjaganya di malam hari. Namun papa pernah menyuruh Dito pulang untuk bersama istrinya, tapi Dito tak mau pulang dan menemani.


Dito malah lebih mengkhawatirkan papanya yang dirumah sakit sendirian.


***


Sudah sebulan papanya di rumah sakit dan kini di perbolehkan pulang, dan berobat jalan saja dokter menyarankan. Dito pun mengerti dan sangat senang karena papanya bisa berkumpul lagi bersama di rumah mereka.


Kali ini Raisa masih di rumah saja mengurus papanya Dito, papa baru sehari dirumah tapi tiba-tiba keadaan papa memburuk kembali. Papa terbatuk-batuk tanpa henti dan nafasnya sesak sekali, Raisa menelpon Dito dan juga ambulance.


Papa di bawa kembali ke rumah sakit di tempat papa di rawat. Namun papa tak sempat ke sampai rumah sakit, akhirnya papa menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan.


"Papa..!


"Pa...!


"Papa..., jangan pergi pa..!"


Raisa menangis histeris, Raisa teringat pada papanya yang telah meninggal saat itu. Dia tak kuasa untuk tak berteriak dan menangis dalam ambulance.


"Mas, mas, papa mas...!"


"Papa sudah meninggal mas...!"


Raisa menelpon suaminya Dito, dia sangat sedih sekali dan terbayang saat papanya meninggal saat itu dan kini hatinya terasa sakit menyayat sama seperti saat itu.


Akhirnya papa Dito di bawa lagi kembali ke rumahnya, dan Dito pun memutarkan arah mobilnya dan langsung melaju dengan cepat saat itu juga. Dengan berlinang air mata dan rasa tak percaya akan berita yang dikatakan oleh Raisa.


Tak beberapa lama ambulance itu sudah berhenti di depan rumah, dan kabar berita meninggalnya papa Dito sudah diumumkan oleh pak RT di kompleks itu.


Semua tetangga pada keluar dan membantu untuk mengangkat papanya Dito keluar dari ambulance. Setelah itu ambulance pergi dan semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing untuk keperluan jenazah.


Intan dan Raisa sangat sedih sekali dan tak tahu mau bagaimana, tiba-tiba Dito masuk kedalam rumah dan langsung berlari ke hadapan jenazah papanya.


"Papa..., pa bangun pa..!"


"Ini Dito pa, papa bangun, Dito pulang untuk jaga papa...!"

__ADS_1


" Pa...?!"


Dito terus memanggil papanya, dan sudah tak ada lagi jawaban atau respon dari papanya yang memang sudah meninggal.


"Sudah mas.., jangan begitu. Kasihan papa yang melihat kamu begitu mas.." Raisa mencoba menenangkan Dito yang sangat kehilangan papanya.


"Papa Rai.., mas cuma memiliki papa saja..!"


"Mama sudah pergi, kini papa yang ikut pergi..," ucap Dito sambil memeluk Raisa.


Intan sangat kasihan melihat abang iparnya yang sayang pada papanya itu. Tapi mereka tak boleh meratapi jenazah yang sudah pergi, papanya Dito sekarang sudah tiada tinggal Dito yang menjalani hidupnya bersama Raisa.


Proses pemakaman sudah dilaksanakan, dan Dito yang adzan di dalam liang lahat papanya. Dito sangat berbakti pada papanya sampai akhir hayat. Pasti papanya sangat bangga dan bahagia disana bersama mamanya Dito juga.


****


Diah setiap hari melihat dirinya di cermin yang besar di dalam kamarnya. Dengan mengangkat baju kaosnya dan memperlihatkan perutnya di depan cermin itu. Diah masih merasa tak percaya, sudah 13 tahun lamanya dia tak merasakan hamil lagi. Tapi kali ini dia bisa merasakannya, sampai menangis dia mengelus perutnya itu.


Bima yang sudah selesai mandi memperhatikan tingkah istrinya, lalu Bima menghampiri dan memeluk Diah dari belakang. Bima juga ikut mengelus perut Diah yang belum membesar.


"Sayang kenapa dibegitukan sih perutnya?" tanya Bima.


"Gak apa kok mas, aku cuma masih belum percaya aku bisa hamil lagi. Ini yang sangat aku rindukan, saat-saat menikmati dan merasakan mual, pusing, ngidam dan yang paling aku suka ketika hamil, suami ku sangat perhatian pada ku dan aku selalu dimanjakan." ujar Diah yang sangat senang.


"Oke, ayah akan manjakan terus mama walau tak hamil sekali pun." Bima mencubit pipi Diah karena terlalu menggemaskan baginya.


"Ayah...! Sakit tahu...!" Diah berteriak dan Bima lari keluar kamar.


Aira yang mendengar suara mama dan ayahnya sangat bingung. Lalu dia melihat ayahnya berlari turun dari tangga, Aira jadi mengerti pasti ayahnya yang usil mengganggu mamanya.


Aira lalu berlari untuk menghentikan mamanya berlarian mengejar ayahnya yang turun dari tangga.


"Mama stop!" pekik Aira.


Diah lalu berhenti dan diam di tempatnya, Aira datang dan memegang tangan mamanya untuk membantu mamanya turun dari tangga.


"Aira, mama ini masih bisa berjalan sendiri. Dan mama masih kuat kali Aira..," kata Diah.


"Iya sih ma, tapi sikap mama dan ayah itu membuat khawatir kenapa-kenapa pada adik aku." ucapnya.


Diah dan Bima baru tersadar kalau Diah sedang hamil sekarang. Dan tidak baik untuk berlarian di tangga yang dapat mengakibatkan terjadinya sesuatu nanti.

__ADS_1


"Baiklah sayang, maafkan mama." ucap Diah.


"Aira maafkan ayah."


"Ayah lupa kalau mama sekarang sedang mengandung adik kamu." Bima menyesal dan sangat ceroboh.


"Maaf ya sayang." Bima berkata pada istrinya.


"Ayo kita sarapan sekarang, Aira sudah lapar banget nih ma, yah." Aira pun segera duduk.


Mereka segera menyantap sarapan pagi mereka dengan bahagia dan semangat pagi. Setiap hari Bima mengantar Aira dan Diah ke tempat tujuan mereka. Aira ke sekolah, dan Diah ke butik serta toko pernak-perniknya.


Setelah sampai disana, butik sudah dibuka dan karyawannya sudah membereskan semuanya.


"Bu, ada tamu ibu di dalam. Katanya dia teman lama ibu saat di Yogyakarta." kata karyawan Diah.


Diah berpikir dan tidak merasa ada teman dekat disana, dan Diah pun masuk dan menemuinya. Saat melihatnya Diah pun terkejut dan sangat senang, dia memang tamu yang luar biasa hari ini.


"Hai Diah...?" ucap wanita itu.


"Bu Sriana? Sangat mengejutkan ibu datang ke butik saya, kapan ibu sampai disini?"


"Kenapa tidak beri kabar dulu ke Diah bu?" kata Diah yang sangat senang.


"Iya saya sengaja, dan saya datang semalam sudah sampai disini. Ada yang ingin saya sampaikan ke kamu dan ke Bali juga karena ada urusan dengan pelanggan." ujar bu Sriana.


" Nah ini bu Rianty dia ingin buat pernikahan anaknya di Bali, tapi anaknya masih di luar negri dan baru akan pulang 2 Minggu lagi."


"Jadi dia mau kamu gambar dulu desainnya beberapa untuk referensi, nanti setelah anaknya pulang mereka akan kesini lagi."


"Karena dari pada jauh ke tempat saya lagi, jadi saya ajak beliau kesini Diah." kata bu Sriana.


"Nah bu Rianty jangan khawatir bu Diah ini sangat handal dan profesional, dulu dia yang selalu desain bila ada yang ingin membuat gaun di butik saya."


"Bisa di bilang dia dulu mantan pegawai saya yang sangat mahir dan ter the best."


"Nah sekarang kami menjadi partner bisnis yang sangat keren."


"Iya kan bu Diah?" kata Sriana.


"Ah ibu bisa saja." Diah sangat malu di puji bu Sriana.

__ADS_1


Akhirnya bu Rianty pun percaya dan sangat setuju dengan ide dari Sriana. Jadi bu Rianty pun mempercayakan Diah untuk membuat gaun untuk anaknya yang akan menikah itu.


__ADS_2