Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 58. Rencana Pergi


__ADS_3

🌟 Diah sudah beberapa hari ini tak berbicara pada Bima, hatinya terasa hancur saat ini. Tapi Diah masih melakukan tugasnya sebagai istri, dari masih memasak dan meyiapkan yang lainnya.


Tapi Diah tak pernah meminta atau berbicara manja kepada Bima istrinya, Diah masih berpikir bagaimana caranya membuat Tiara mengerti akan hal ini.


Pernikahan bukan hanya sekedar kita suka dengan seseorang, tetapi haru dua hati yang benar - benar siap dan mau memahami.


Dia hari itu pergi ke rumah Tiara bersama Sania, setelah anak - anak pergi sekolah dan Bima juga sudah pergi.


Sania dan Tiara pergi dengan motor Sania dan beberapa menit kemudian mereka pun sampai disana.


Ting, tong...


Bel rumah di tekan oleh Diah dan Sania hanya menunggu duduk di teras rumahnya saja.


Tiara pun keluar dari dalam membuka pintu, Tiara masih tidur saat itu. Dan dia membuka pintu dengan baju tidurnya.


Ceklek....


"Ah, kamu Diah. Ada apa kesini? mencari suami mu ya? Hari ini dia gak kesini.., apa tak kerja dia? atau sudah di pecat, katanya kemarin itu bosnya sudah marah - marah karena dia gak fokus." ucap Tiara.


Plak !"


Plak !"


"Mbak tahan emosinya mbak...?!" pekik Sania.


"Tak apa kau menampar ku, yang penting suami mu dapat untuk ku. Hahahaha...!" Tiara tertawa dengan senangnya.


"Kenapa harus suami aku yang kau ambil kalau hanya kau dendam dengan ku!"


"Saat itu anak aku sudah kau culik, dan kau buat dia menangis terus. Memang patut kau tak di beri anak, sebab kau tak layak menjadi seorang ibu bagi anak - anak mu." Diah mulai semakin kesal.


"Apa yang kau bilang itu...! pergi kalian dari rumah ku, pergi...!" Tiara sangat marah dan tersinggung karena perkataan Diah kepadanya.


"Ingatlah Tiara kalau kau ingin merebut suami ku, hadapi aku dulu baru bisa kau ambil sisanya untuk mu." Diah dan Sania pun pergi dari rumahnya.


Sania mengendarai lagi motornya, dia membawa pulang Diah dari sana, dan juga anak - anak sebentar lagi akan pulang sekolah.

__ADS_1


Diah menangis di belakang, dia tak habis pikir dalam pikirannya kenapa Tiara selalu tak senang dengan dirinya.


Selalu merasa tersaingi dengan Diah dalam hal apa pun, padahal Diah tak pernah bersaing atau ingin lebih menang dari dirinya.


"Sudah mbak..., jangan nangis lagi. Nanti kita cari solusinya dan mudah - mudahan ada jalan keluar dari masalah ini." Sania mencoba menenangkan Diah mbaknya.


Mereka pun sampai di rumah dan Diah mulai putar otak untuk membuat sebuah rencana.


Ibu mertuanya datang...


" Diah...!" memanggil dari luar.


"Eh, ibu datang berkunjung kenapa gak bilang - bilang dulu ibu..? kan bisa Diah memasakkan dulu untuk ibu makan siang. Hari ini Diah gak masak soalnya bu." Diah memberi penjelasan.


" Mbak, aku pergi jemput anak - anak dulu ya mbak?" Sania pamit kepada Diah dan lainnya.


" Oh iya gak apa. Terima kasih ya Sania...?" ucap Diah yang sudah ditolongnya.


"Mari silahkan msuk bu, dan duduk di dalam biar Diah buatkan minum untuk ibu." Diah menyambutnya dengan ramah.


"Gak usah pakai duduk dan minum deh, ibu kesini hanya mau bilang kalau kau harus sadar diri sama Lastri. Dia itu kakak ipar mu, kau harus sopan padanya dan jangan membuat mereka adik kakak bertengkar hanya karena Bima ingin membela kau yang tak tahu diri." kata mertuanya Diah.


Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka, setelah Lastri puas akan rencananya yang berjalan lancar.


"Baru tahu kau kan Diah bagaimana aku sekarang...?! kau ingin bermain - main lagi dengan ku? akan aku layani bila itu mau mu." berkata dalam hatinya.


Diah semakin kesal dan merasa sedih, menurutnya semua orang selalu menyakitinya. Bahkan suaminya sendiri bisa menutupi dan tak percaya kepadanya lagi.


"Nanti malam akan aku bicarakan dengan mas Bima. Menurut ku ini harus ada tindakan tak boleh begini terus." Pikir diah.


Diah pun sudah membuat rencana dan dia ingin pergi saja dari kota itu, mungkin dengan cara itu akan selesai dan membuat mereka puas untuk semuanya. Diah hanya berpikir untuk rumah tangganya saja.


***


Bima pagi sudah datang ke tempat kerjanya, dan dia bekerja seperti biasa. Namun tiba - tiba tangannya terkena mesin dan terjepit, bos nya langsung datang saat para rekan memberi tahunya saat itu.


Atasannya sangat kesal dan marah kepada Bima, dia lalu mengambil uang dan memasukkan ke amplop untuk di berikan kepada Bima.

__ADS_1


"Nih untuk kamu, besok tak perlu lagi kau masuk kerja di sini. Aku sudah muak melihat tingkah mu dan kau selalu tak benar dalam bekerja." atasannya lalu pergi setelah mencampakkan amplop coklatnya ke arah Bima.


Bima hanya terdiam dan menahan rasa sakit tangannya yang mulai membengkak.


Dia pun mengambil uang itu dan pergi dari sana, dia pergi untuk membawa tangannya berobat ke klinik.


Tangannya terluka bengkak dan mengeluarkan darah, Bima pergi sendiri dengan motornya.


Dalam hatinya sangat kacau dan tak mengerti kenapa hidupnya sangat berat ujian yang di berikan.


"Ya Allah rasanya aku tak sanggup kalau harus begini. Diah tak mau lagi berbicara pada ku. Keluarga ku juga menjauhi ku karena aku yang tak banyak uang. Tiara yang selalu membuat aku sakit kepala, beri aku jalan keluarnya ya Allah ..." Bima memohon dalam hatinya saat sedang mengendarai motornya.


Panas tering cuaca siang itu, Bima sudah membalut luka di tangannya. Bima bingung mau kemana, tapi dia tetap harus pulang dan memikirkan penyelesaiannya.


****


"Assalamualaikum..." Bima masuk dan langsung duduk di dalam rumahnya.


Dia termenung dengan tangan yang terluka ada di atas pahanya.


" Ayah sudah pulang?!" tanya Aira.


Dia sangat senang melihat ayahnya cepat pulang ke rumah, Aira memang sangat dekat dan senang bila ayahnya sudah dirumah.


Anak perempuan memang harus lebih dekat dengan ayahnya agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan dapat mengontrol emosi.


Bima seorang ayah yang baik bagi Aira, dan selalu mengutamakan anaknya mau bagaimana pun.


Diah datang menghampiri dengan minuman untuk Bima, dan dia duduk di sana bersama Aira.


Tak berapa lama Aira pergi dan ingin bermain katanya.


"Mas ada yang ingin aku bicarakan ke kamu, dan ini mungkin adalah solusi yang baik untuk rumah tangga kita." ujar Diah.


"Bagaimana kalau kita pindah saja dari kota ini mas, dan mencari tempat tinggal yang lain saja. Agar kita bisa hidup tenang dan rumah tangga kita tak di rusak sama orang lain mas..." ucap Diah yang sudah mulai putus asa dan tak tahu mau bagaimana.


Bima hanya diam dan tak memberi tanggapan akan ucapan Diah, Bima bingung mau mencari solusinya. Semua sudah hancur baginya, karena saat di klinik Tiara mengirimkannya pesan bahwa Minggu depan mereka akan segera menikah.

__ADS_1


Semua biaya Tiara yang tanggung dan Bima di suruh meninggalkan Diah lalu pergi tinggal di rumahnya.


__ADS_2