Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 82. Kembali Dari Awal


__ADS_3

~Kebetulan hari ini Vera menelpon, dia tak tahu kabar mengenai orang tuanya dan rumahnya yang terbakar.


Bapaknya menceritakan semuanya dan bagaimana jalan cerita rumahnya.


Akhirnya Vera geram dengan kakaknya Lastri, Vera tak izinkan lagi Lastri tinggal bersama bapak dan ibu.


Dalam hati Vera dia akan menelpon Lastri agar tidak disana lagi saat ini.


Vera lalu berpikir dan berkata pada bapaknya mengenai rumahnya.


Tapi bapak berkata rumah sudah di renovasi oleh abangnya Bima.


Semua perbaikan Bima yang menanggung, namun isi rumah semua habis terbakar. Vera sedikit terkejut dengan ucapan bapaknya, yang Bima lakukan untuk merenovasi rumah orang tua mereka.


"Baiklah pak, nanti aku akan telpon lagi atau kesana untuk melihat ibu." ucap Vera.


Pembicaraan pun di tutup, dan Vera tak habis pikir selama ini. Lastri yang selalu tak mau tahu dengan rumah dan orang tuanya membuat Vera kesal kepadanya.


***


Sebulan sudah rumah di renovasi, dan selesailah hari ini sudah bisa di tempati lagi. Vera juga sudah kembali pulang, dan mulai sekarang Vera yang akan tinggal disana bersama anaknya. Dia sudah keluar dari pekerjaannya dan menetap bersama orang tuanya.


Lastri sudah tak di izinkan lagi tinggal dirumah itu, Vera sudah menelponnya dan menyuruhnya keluar dari rumah.


Vera tak mau tahu Lastri mau tinggal dimana bersama anaknya, apa lagi sekarang sudah diceraikan sama suaminya.


Vera dulu bercerai karena hasutan Lastri kepada suaminya Vera, sehingga mereka harus bercerai dan hancur rumah tangganya. Kali ini Allah membuat rumah tangganya di penuhi ujian dan prahara, dan disaat begini semua menghampiri.


Tak ada tempat tinggal, suami menceraikannya, dan saudara juga tak ada yang mau membantunya lagi.


Semua itu akibat dari kelakuannya yang suka membuka aib keluarga dan saudaranya sendiri.


Kini dia harus hidup diluar dan pergi dari rumah itu. Namun Lastri tak sampai disitu, nanti dia berniat akan mengambil rumah itu dari mereka.

__ADS_1


Lastri masih tak berubah dengan niatnya yang ingin memiliki rumah itu untuk dirinya sendiri.


***


Saat itu Vera masuk ke rumah yang telah siap di tempati. Dan hari itu juga Vera memesan isian untuk di rumah orang tuannya itu. Bapaknya juga mengatakan tidak perlu terlalu banyak dan harus berhemat.


Monik juga ikut membantu Vera dan juga sangat senang karena rumah orang tuanya sudah di renovasi dengan bagus. Monik terkejut saat bapaknya berkata kalau abangnya Bima yang sudah membayar semua perbaikan rumah yang telah terbakar.


Monik masih gak percaya kalau Bima abangnya memiliki uang sebanyak itu untuk membangun rumah ibunya lagi.


Monik selalu merasa dirinya yang memiliki uang berlebih.


***


Diah dan Aira...


Sebulan yang lalu Diah sudah mengatakan kepada bu Sriana untuk pergi bulan depan. Jadi bulan depan Diah dan Aira tidak akan tinggal dan bekerja lagi padanya. Namun bu Sriana akan mendukung keputusan Diah saat ini.


Diah sudah pikirkan matang-matang dengan semuanya ini demi kebahagiaan anaknya Aira, tapi yang terutama Diah tak ingin Aira pergi darinya. Karena menurutnya hanya Aira yang ada dalam hidupnya selama ini, dari sesulit apa pun hanya Aira anaknya itu tempat terkuat baginya.


"Diah, kalau kau perlu apa-apa atau mau ikut usaha disana kita bisa bekerjasama. Jangan sungkan kalau kamu perlu sesuatu." ucap bu Sriana.


"Iya bu, terima kasih atas kebaikan ibu selama ini kepada saya dan anak saya." kata Diah yang sangat terbantu selama ini.


Bima hari ini sangat bahagia, diam-diam Aira memberi tahukan kalau mamanya sudah siap untuk kembali lagi kepadanya saat ini.


uang Bima sudah berkurang sekarang, jadi sekarang di luar rencana Bima yang dipikirkannya.


Tapi Bima tak hiraukan itu, dia sekarang sangat senang karena sudah bisa meyakinkan Diah untuk kembali lagi bersamanya.


Bu Sriana sangat sedih harus merelakan kepergian Diah, karena dia karyawan yang pintar dan rajin sekali.


Bahkan pelanggan bu Sriana sangat suka cara kerjanya atau hanya sekedar konsultasi tentang gaun.

__ADS_1


Diah juga sebenarnya tak ingin pergi dan sudah betah bekerja disana. Namun dirinya harus ikut Bima suaminya di Bali, dan tinggal disana bersama Aira.


Aira juga terlihat sangat senang, Diah pun senang melihat anaknya yang senang dan sekarang sudah sehat kembali.


Bima pun sudah datang dan menjemput mereka, langsung membawa mereka pergi. Bu Sriana sangat sedih dan memeluk Aira karena Aira dan Diah mengingatkan sewaktu dia dulu masih hidup susah dan tak ada suami.


Tetapi Sriana sangat bahagia karena suami Diah masih sayang dan mencintainya. Dan Bima juga masih bertanggung jawab kepada mereka, bisa di bilang sedikit iri karena Diah sangat beruntung memiliki suami seperti Bima.


"Ayah.., terima kasih telah penuhi janjinya ke Aira. Sekarang kita akan bersama lagi seperti dulu lagi." kata Aira.


Bima masuk ke dalam mobilnya dan begitu juga Diah serta Aira. Bima menjemput mereka dengan mobilnya dari Bali ke Yogyakarta. Bima ingin membawa mereka dengan nyaman tanpa harus kesulitan dengan barang bawaannya.


Mereka pun sudah di jalan dan menuju ke Bali tempat Bima berada. Diah di sepenjang jalan hanya diam saja, dan tak ada berkata atau bertanya apa pun ke Bima saat ini.


Bima mengerti dengan sikapnya Diah, bahkan Bima tahu istrinya selalu begitu bila kecewa dan belum bisa memaafkan.


"Diah ternyata kembali bukan karena hatinya yang ingin, mungkin karena perkataan Aira yang hari tu ingin bersama ku." berkata dalam hatinya.


Tapi Bima tak mempermasalahkannya karena dengan perlahan pasti bisa melunakkan hatinya Diah.


Bima bersyukur bisa bersama pujaan hatinya lagi kali ini, dan Bima akan berusaha tak akan membuat kesalahan lagi saat ini.


Perjalanan pun terus dilanjutkan kembali, Aira pun tertidur di belakang. Mungkin karena kelelahan dijalan karena memang jauh dari tempat mereka tinggal.


Bima mencoba mengajak Diah untuk berbicara, namun tak tahu apa yang mau dibicarakan. Bima terasa canggung karena sudah terlalu lama tak bersama kembali.


"Ma, ada yang mau kamu makan atau di beli gak? Apa mau berhenti dulu membeli minuman atau apa gitu?" tanya Bima yang membuka pembicaraan.


"Tidak ada, dan tak perlu untuk berhenti. Minuman sudah ada di sediakan di belakang bersama Aira. Lebih baik semakin cepat kita sampai akan lebih bagus." Diah bersikap ketus kepada Bima.


Namun Bima tersenyum melihat Diah dengan wajahnya itu. Karena Bima teringat saat dulu mereka bersama, Diah memang suka begitu bila sudah marah atau ngambek. Tapi biasanya tidak terlalu lama marahnya dan suka memaafkan di dalam hatinya.


Itu yang Bima suka dengan Diah yang memiliki hati yang mulia.

__ADS_1


__ADS_2