
Isu tersebar di lingkungan rumah tempat tinggal Diah. Semua orang bertanya kepada Diah akan hal itu.
" Diah, apa benar si Vera itu sudah menikah ya di Jakarta sana? Lastri yang selalu cerita kalau Vera nikah siri sama suami orang disana." ucap Mbah yang merupakan tetangga Diah.
" Maaf mbah saya tidak tahu akan hal itu, lagian Vera mau nikah sama siapa juga bukan urusan kita kan? Hidupnya mau berkeluarga, saya cuma orang luar gak ada hak untuk mengatur hidup mereka." ucap Diah yang membuat mereka semua terdiam.
Di rumah mbah itu setiap pagi dan sore selalu rame, bila pagi ibu - ibu yang mau belanja pasti bergosip dulu di situ.
Biasanya ibu - ibu yang tidak punya kerjaan yang suka duduk dan bergosip menceritakan orang.
" Selalu dimana - mana mereka tahu cerita dari kak Lastri, tapi aku kok gak pernah melihat dia duduk disini ya?" Diah bertanya - tanya dalam hatinya.
Mbah itu pun pergi setelah selesai belanja di warung Diah yang memang terletak di depan rumahnya. Mereka selalu mau tahu kehidupan keluarga Diah dan bagaimana cara hidup mereka.
Diah selalu berkata tidak tahu bila mereka bertanya apa pun tentang rasa ingin tahu orang - orang yang suka mencampuri urusan kehidupannya.
Mbak yang rumahnya di depan warung Diah sangat suka bertanya dan mencari tahu. Setiap Lastri ke rumah ibunya ternyata dia suka menceritakan keluarganya sendiri kesana dan kemari.
…………………………………………………………………
Monik...
Malam itu Monik pulang kerumah, dia pulang sampai malam karena lembur dan banyak pekerjaan di kantornya.
Saat dia masuk kerumah dia terkejut melihat seseorang yang tidak dikenalnya ada diruang tamu.
Tapi Monik tidak bertanya atau menyapa siapa pun yang ada di ruangan itu.
Diah yang tak tahu akan hal itu dan tidak mau ikut campur hanya di dalam kamar bersama anaknya istirahat. Diah selalu cepat tidur karena besok harus bangun cepat dan berjualan lagi.
Tiba - tiba lampu padam dan ruangan dimana - mana gelap gulita.
Diah menyalakan lampu cas emergensinya di dalam kamar, dan Aira sudah tidur dari tadi.
Bima yang baru selesai mandi masuk ke kamar dan langsung ikut rebahan untuk istirahat.
__ADS_1
" Sudah makan malam mas?" tanya Diah.
" Belum, nanti mas makannya. Mas belum lapar sekarang." kata Bima yang memejamkan matanya sejenak.
Bima merasa sangat penat sekali hari itu, sama seperti Diah yang badannya sangat pegal semua.
Tulang rusuknya yang patah pun belum sembuh masih terasa sakit dan tulangnya bergerak - gerak bila Diah bergerak.
Tiba - tiba terdengar suara ribut - ribut di ruang tamu, Bima terbangun dan melihat ada apa sebenarnya disana.
Bima terbangun mendengar suara ibunya menangis saat itu dan suara Monik yang sedikit kasar bicaranya.
" Bugh !"
" Sudahlah kalau ibu gak bisa di bilangin, lagian bapak bukannya melarang malah diam saja menyetujuinya." kata Monik yang membentak orang tuanya.
Monik tidak suka dengan perilaku orang tuanya, yang suka minta berobat pada orang pintar atau orang tua begitu. Menurutnya itu syirik percaya dengan yang begituan.
Tetapi caranya menegur orang tuanya sangat salah sekali. Monik membentak ibu dan ayahnya dengan nada tinggi dan marah - marah.
" Monik! apa maksud mu berkata seperti itu sama ibu ?!" kata Bima meninggikan suara juga.
" Iya lah, kamu pun jadi abang juga gak becus, kau biarkan orang tua menjadi sesat. Bugh !" Monik membanting pintu kamarnya.
Monik selalu egois dan kurang rasa hormatnya kepada orang tua. Sudah terlalu banyak Monik menyakiti hati ortunya terutama ibunya sendiri.
Monik setelah marah kepada orang tuanya tidak keluar - keluar lagi dari kamarnya. Bahkan dia tak perduli ibunya tengah menangis karena ucapannya.
ibu mereka lalu membereskan pakaiannya kedalam tas putih dan membawa obat - obatnya.
setelah itu bapak menyalakan motornya dan ibu berjalan menghampiri motor bapak di luar.
Diah keluar ingin ke kamar mandi, sebenarnya dia dengar pertengkaran itu. Tapi Diah tak ingin ikut campur dengan urusan mereka.
" Loh ibu mau kemana? Sudah malam mau kemana ibu masih sakit?" tanya Diah yang sedikit heran mertuanya mau keluar malam - malam membawa tas dan bajunya.
__ADS_1
" Ibu mau pergi saja, biar sajalah dia dirumah gak ada ibu kan senang. Sudah bisa hidup sendiri, jadi biar saja ibu keluar dari rumah ini." kata mertuanya ke Diah.
" Ibu pergi ya, jaga rumahnya baik - baik." ucap mertuanya lagi.
Diah tak bisa bilang apa - apa, hanya melihat mertuanya ingin pergi di depan pintu rumahnya.
" Monik! minta maaf sama ibu, lihat ibu mau pergi karena ucapan mu! Monik!" Bima mengetuk pintu kamarnya Monik tapi tidak ada tanggapan dari dalam.
" Brem..., motor sudah jalan dan mereka pergi dari rumah malam itu juga.
Monik benar - benar tidak keluar atau pun menyesal karena sudah menyakiti hati ibu kandungnya. Bima sampai tak habis pikir melihat sifat adiknya itu, dan juga orang tuanya.
Mereka semua sama - sama keras kepala dan terlalu tinggi egonya, jadi membuat banyak perpecahan dalam keluarga.
Lalu Diah menutup pintu rumah dan menguncinya, tapi kuncian atas pintunya tidak di kunci. Diah masih berpikir kalau nanti ibu dan bapak mertuanya akan pulang kerumah.
Bima dan Diah pun masuk ke dalam kamar lagi melanjutkan istirahatnya. Bima tak tahu kemana orang tuanya pergi dan tidur dimana malam ini.
Tubuh Bima direbahkan ke kasur, namun pikiran masih terpikir ibu dan bapaknya. Semua terjadi karena tidak adanya rasa hormat kepada yang lebih tua. Serta merasa diri sudah mampu dan tidak memerlukan orang lain disisinya.
Diah pusing harus bagaimana, semua di luar kendalinya. Dan Diah selalu tak pernah dianggap, jadi sekalian saja tak menganggapnya.
Berurusan sama Monik bagaikan kita berurusan dengan seorang bos atau atasan. Monik terlalu sombong dengan hasil yang dia miliki sekarang ini.
Diah pun tertidur begitu juga dengan Bima yang tiba - tiba tertidur tanpa makan malam.
Bima sudah tak selera makan setelah kejadian itu, Bima tidur dengan perut kosongnya dan tubuh lelahnya.
Rumah itu seperti hampa tanpa ibu mereka, bila sudah siang sangat sunyi terasa. Tapi bagi Monik itu sangat biasa saja, Diah tak mengerti dengan Monik yang juga manusia, tapi tak memiliki hati nurani kepada ibunya.
Hanya kesombongan yang dia tampakkan ke semua orang yang tidak selevel dengannya.
Monik tidak memiliki moral, dalam hidup bila masih begitu juga.
Ternyata tingginya pendidikan yang ditempuh Monik tak menjamin memiliki akhlak dan moral yang tinggi di diri Monik itu sendiri.
__ADS_1