
Bima, Diah dan Aira pergi ke sekolahan dasar di daerah Bali. Aira hari itu juga akan masuk ke sekolah, mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Penjaga sekolah mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Wah.., sekolahnya cantik ya ma? Halamannya luas dan banyak bunganya." ujar Aira.
Dia terlihat sangat senang sekali, dan sepertinya Aira suka dengan sekolah barunya kali ini.
"Ayo sayang kita ke kantor kepala sekolahnya dulu, nanti baru ke kelas Aira." kata Bima.
"Permisi pak, saya mau tanya kantor kepala sekolah sebelah mana ya pak?" tanya Bima ke penjaga gerbang sekolahnya.
Lalu satpam itu menjelaskan dan menunjukkan arah, satpam itu tak bisa meninggalkan gerbangnya.
Jadi Bima dan Diah harus berjalan sendiri untuk menyusuri ruangan satu persatu.
"Oh terima kasih banyak kalau begitu ya pak..," ucap Bima yang merasa sudah terbantu oleh satpam itu.
mereka pun pergi ke arah yang di tunjukkan oleh satpam tadi, dan menemukan satu ruangan dengan tulisan kantor disana.
Tok...
Tok...
"Permisi..," ucap Bima yang melihat ada seseorang disana.
" Ya.., ada yang bisa saya bantu pak..," ucap seorang pria yang dari dalam menyapa dan bertanya.
Bima, Diah dan Aira pun masuk ke dalam ruangan itu dan menjelaskan semuanya. Dan tujuan mereka apa saat itu, tak beberapa lama berbicara dan melihat berkas-berkasnya Aira. Bapak itu pun segera mengantar Aira ke kelas belajarnya, mereka menyusuri jalan dan melewati kelas satu demi satu. Dan kelas Aira pun sampai juga, Aira di bawa ke dalam dan di perkenalkan ke semua murid-murid disana.
Mereka senang melihat Aira yang sangat manis itu, bahkan mereka berebut untuk bisa duduk dengannya.
Setelah itu Aira pun bersekolah dan di tinggal oleh mama dan ayahnya.
Setiap siang hari supir Bima akan menjemput Aira dari sekolahnya.
Bima dan Diah pun pulang ke rumah, Bima akan mengantar Diah pulang dulu lalu pergi ke kantornya.
" Sayang, apa tak mau main ke kantor atau melihat hotel yang aku kelola juga?" tanya Bima kepada istrinya itu.
"Enggak deh yah, mama mau masak saja dirumah dan beberes. Lagian dari kemarin gak ada kerja apa-apa." ujar Diah yang sudah mulai berubah hatinya.
__ADS_1
"Oh, atau mama belanja saja dulu di supermarket di dekat rumah untuk masak." ujar Bima.
"Boleh deh yah, di rumah pun mama lihat sudah pada habis." Diah sangat suka belanja untuk dapur.
Karena Diah orangnya memang suka memasak, dan Bima sangat suka masakan istrinya. Masakannya selalu lezat, semua adik-adiknya Diah juga sangat menyukai masakan Diah. Kalau datang ke rumah mereka adiknya selalu makan di rumah.
Brem...
Sudah sampai di supermarket Diah langsung membuka pintu mobilnya dan ingin segera turun.
"Tunggu sayang! Ini uang untuk belanja kamu, semalam belum mas beri ke mama kan?" ucap Bima sembari membuka dompetnya.
Diah hanya diam saja dan memang belum ada Bima memberikan uang kepada Diah dari kemarin.
Karena mereka baru ini berbicara layaknya orang yang sudah mengenal.
Bima mengeluarkan uang 500 ribu dan memberikannya kepada Diah.
"Sayang ini dulu kamu pegang untuk belanja sementara, nanti mas akan beri lagi. Soalnya mas belum tarik lagi dari ATM dan nanti sore atau besok akan mas beri lagi kamu uang belanjanya." ujar Bima menyerahkan kepada Diah istrinya.
"Iya mas, ini cukup kok mas. Nanti kalau kurang Diah ada bawa uang." Diah berkata dengan nada rendah.
Diah masih penuh hati-hati dan belum terbiasa, mungkin Diah masih sulit untuk terbiasa kembali.
Diah turun dari mobil Bima, dan segera pergi berbelanja, Bima menatap istrinya itu dari kejauhan. Bima tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Bima sangat mencintai istrinya yang sangat imut baginya.
"Aku memang tak bisa bila di suruh move on darinya, dia sangat menggemaskan aku saja." Bima berkata dalam hatinya.
Bima pun melajukan mobilnya dan segera pergi ke kantornya, dia mengemudikan mobilnya itu dengan perlahan saja. Hatinya lagi berbunga-bungan karena sudah berbaikan dengan Diah istri tercintanya.
Bagi Bima hanya Diah yang mengerti akan dirinya dari dulu sampai sekarang. Makanya Bima tak bisa move on dari Diah istrinya itu, terpisah 2 tahun darinya membuat Bima banyak belajar dalam kesendiriannya itu.
Sekarang dia tahu bagaimana rasanya jadi Diah yang dulu hidup dengan ibu mertua dan para ipar-iparnya. Kini terlihat ada semangat baru pada Diah dan dia penuh energi setelah ada kebebasan selama 2 tahun berlalu.
Hidup mandiri membuat dia lebih kuat dan memiliki kebebasan dalam hidup mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan yang lainnya. Karena hanya ada dia dan Aira anaknya saat itu, jadi tak begitu banyak pikiran untuk yang dia jalani terhambat karena memikirkan orang lain.
****
Diah pun masuk ke supermarket dan melihat ke sekelilingnya. Ternyata disitu sangat lengkap dan juga nyaman untuk berbelanja.
__ADS_1
Diah memilih segala bahan untuk dimasaknya siang itu dan makan malam mereka.
Diah sangat menikmati belanja disana, dan harganya sangat terjangkau. Segala macam bumbu instan juga lengkap, malam ini Diah ingin masak kesukaan anak dan suaminya.
Lalu pergi ke kasir untuk membayarnya, namun Diah harus mengantri untuk beberapa saat.
"Terima kasih sudah berbelanja disini..," ucap Kasir tersebut.
Diah pun berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Dan itu tak terlalu jauh untuk bisa sampai ke rumah dan segera masak makanannya.
"Kira-kira mas Bima pulang kerumah tuk makan siang gak ya?" bertanya dalam hatinya.
"Tapi Aira sebentar lagi akan pulang sekolah, biar bersemangat lagi saat lelah dari sekolahnya." pikir Diah.
Diah pun sibuk di dapur dengan pekerjaannya, semua dia siapkan dan dimasaknya. Hari ini Diah sangat sepesial pertama kali masak di rumah untuk suami dan anaknya.
Sekarang sudah pukul 11:00 siang dan semua sudah siap terhidang di meja makan. Sekarang Diah segera pergi mandi dan berganti baju, karena sudah kotor untuk memasak dari tadi.
Lantai dapur sudah di pel, piring siap masak dan peralatan semua sudah di cuci. Sekarang waktu untuk membersihkan diri, dan bersiap menyambut Aira pulang dan juga suaminya Bima. Mana tahu Bima nanti pulang untuk makan siang bersama-sama.
Tring...
Tring...
"Hallo?" ucap Diah.
"Sayang mas akan makan siang di rumah. Apakah sudah selesai masaknya?" tanya Bima.
"Sudah mas.., pulang lah nanti akan mama siapkan piring untuk ayah." ucap Diah yang memerah wajahnya karena merasa senang.
"Mama...!" Aira masuk dari pintu depan dan memeluk mamanya.
"Hem.., harum sekali. Mama sudah siap masak ya? Aira lapar ma..," Aira mengelus perutnya.
"Ya sudah gantilah baju mu dulu dan kita tunggu ayah sampai di rumah lalu makan bersama." kata Diah.
"Iya ma," Aira terlihat senang karena akan makan bersama ayah dan mamanya.
Kebahagiaan seorang anak dapat berkumpul dan melakukan segala sesuatu dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Walau itu hal yang sangat sederhana sekali pun, dan seorang anak tak akan mengeluh dengan suatu keadaan bila adanya perhatian dari kedua orang tuanya itu.