Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 24. Emosinya Bima


__ADS_3

Seninnya Bima tidak bekerja, dia duduk dirumah dan malah pergi mengantar anaknya Aira ke sekolah dengan motornya.


Diah tidak mau bertanya dan mencari tahu, dia hanya diam saja dan memperhatikan suaminya.


Setelah mengantar anaknya Bima pergi entah kemana. Diah sangka suaminya pergi kerja tapi agak siang begitu.


Padahal Bima tidak pergi ke tempat kerjanya sama sekali. Dia menemui teman - temannya untuk membahas sesuatu disana. Satu harian Bima tidak pulang kerumahnya, dan tidak mengabari Diah serta tidak membawa bekal dari rumah.


Diah sedikit khawatir bagaimana suaminya akan makan siang diluar sana. Sementara Diah tahu uang Bima tidak pegang uang sekarang.


Bima dan Diah tidak ada berbicara dari sejak pagi tadi, mereka berbicara hanya yang perlu saja baru di bicarakan.


Namun Diah tidak mau bertanya ke Bima suaminya. Diah masih menunggu Bima bicara duluan tentang isi pembicaraannya di ponsel itu.


Diah juga tak mau duluan mencari masalah dalam rumah tangga, karena sudah ada perjanjian pranikah saat itu.


Siapa berkhianat dia yang akan pergi tanpa apa pun, termaksud anak - anaknya.


Itu sudah menjadi kesepakatan antara Diah dan Bima saat itu. Dan mereka menandatangani surat itu secara bersamaan.


Diah menyimpan surat dari Bima uang ditandatanganinya, sedangkan Bima sebaliknya kertas punya Diah dia yang memegangnya.


Siang itu Bima tidak ada kasih kabar apa pun seperti biasa. Dan Diah masih mengira suaminya pergi kerja, dia tetap merasa cemas.


Lalu dengan ragu - ragu dia mengambil ponsel lalu mengirim pesan ke ponsel suaminya.


" Mas, kamu pergi tak bawa bekal, apakah sudah makan?" tanya Diah ( terkirim )


Setiap hari hati Diah sangat terluka, dan dia merasa suaminya sudah tak mencintainya lagi.


" Tring...," suara ponsel Diah


Diah langsung melihat ponselnya dan membuka pesan itu.


" Mas sudah makan, ini sedang sibuk jangan ganggu dulu," ucap Bima.


Diah jadi kesal dengan isi pesan Bima itu, karena biar bagaimana sibuknya bekerja tidak pernah Bima begitu saat Diah kirim pesan atau telpon.

__ADS_1


" Sepertinya mas Bima memiliki rahasia yang tidak mau menceritakannya kepada ku, "


" Aku akan menunggu kamu saja yang mengakui penghianatan kamu kepada ku." berkata dalam hatinya.


Diah pun segera tak memikirkannya lagi dia pergi menjemput anaknya dari sekolahnya.


Guru Aira berkata hari ini mereka memang lama pulang sekolahnya.


Karena ada yang mau dilakukan di sekolahnya.


Diah membawa pulang Aira dan terlihat lesu hari ini. Sampai dirumah Lastri dan anak - anaknya ada di rumah, semua membuat berantakan, dan semua makan siang di rumah.


Sementara Aira dan Diah yang baru pulang belum makan siang juga.


Namun lauk dan lainnya yang dimasak Diah tadi pagi sudah pada habis semua.


Diah lalu menggantikan pakaian Aira dan segera mengambil piring untuk memberi makan anaknya.


Diah membuka tudung saji di atas meja dan..., semua sudah tiada.


Diah menutup kembali penutup itu dan piringnya juga di kembalikan ke rak piring lagi.


Di tengah jalan sambil berjalan Diah rasanya ingin menangis dan dadanya terasa sesak saat itu.


Diah datang ke rumah Mona dan memesan nasi ayam di depan rumahnya. Di depan rumah Mona ada yang berjualan nasi ayam disana.


Diah memesan satu porsi saja dan bagi dua makannya dengan anaknya, uang diah tak bisa untuk membeli dua porsi. Lagian Aira juga gak akan bisa menghabiskan satu porsi sendirian nasi ayamnya.


Mertuanya Diah dirumah tidak tahu kalau Diah sudah pulang bersama Aira dari sekolah. Lastri mengetahui akan hal itu tapi dia tidak perduli dan malah diam saja.


Di rumah Mona diah sampai sore disana, sampai Bima pulang dari kerjanya. Diah sudah kirim pesan untuk menjemput mereka di rumah Mona temannya Diah.


Bima tahu rumahnya dimana, dan mengerti Diah dan Aira suka main kesana. Jadi Bima pun menjemput setelah pulang dari kerjanya.


" Tin, tin," Ayah...!"


" Ma..., ayah sudah datang." ucapnya.

__ADS_1


" Oh iya nak ? kak Mona saya pulang dulu ya.., terima kasih kami boleh main kesini." kata Diah.


" Iya mama Aira, mainlah kesini kalau bosan dirumah. Saya juga tak ada teman dirumah menunggu jualan saja." kata Mona.


Diah pun pamit pergi dengan Bima suaminya, Bima tidak bertanya apa pun selama perjalanan pulang. Dan Bima juga hanya diam saja seperti orang yang tidak memikirkan istri dan anaknya.


Hubungan keduanya menjadi serba salah, dan mereka seperti orang lain yang tidak kenal satu sama lainnya.


Orang lain yang tinggal satu atap tanpa saling menyapa dan bercerita.


Sampai dirumah Lastri sudah pulang dan tak nampak lagi disana, rumah berantakan dan piring kotor berserakan.


Mendengar suara motor Bima pulang Mertuanya keluar dari kamar dan menyapa mereka di ruang tamu.


" Loh, Diah dan Aira dari mana? kok bisa pulang sama Bima?" tanya mertuanya.


" Nak belikan ibu obat yang biasa nak. Kaki ibu sakit dari tadi, mau di suruh orang dirumah gak ada yang bisa disuruh. Ibu dari tadi sendirian dirumah, Aira dan Diah juga tak ada di rumah." ucapnya seperti itu.


Diah hanya pergi masuk ke kamar dan mencari baju anaknya lalu memandikan Aira karena sudah sore tapi belum mandi.


Bima yang mendengarnya sedikit mengerutkan dahinya dan berpikir.


Bima mengambil uang dari tangan ibunya dan pergi membelikan obat itu ke apotek yang ada di pasar dengan motornya.


Bima sedikit kesal karena istrinya bisa main keluar di rumah temannya sementara ibunya sendirian dirumah kesakitan.


" Aku akan menanyakan ini pada Diah nanti. Apa maksud dia main keluar ibu sampai tak tahu dan di biarkan sendirian." dalam hatinya sedang marah.


Bima pun memberikan obat itu setelah sampai dirumah, Diah mulai merapikan rumah, menyapu dan mencuci piring yang menumpuk di wastafel dapur rumah itu.


Lalu diah memasak mie instan untuk makan anaknya Aira. Hari sudah hampir malam, dan Aira sudah mengantuk tapi masih di suapi makan mie instan oleh Diah.


Mie yang dimasak itu hanya untuknya, Bima dan Aira saja. Diah tak perduli dengan yang lainnya, sebenarnya dia tak ingin begitu. Tapi Diah punya uang hanya cukup untuk membeli itu saja hari itu.


Hari itu jualannya Diah tak banyak yang terjual, dan mereka yang berhutang setiap belanja belum pada membayar kepadanya.


Diah terpaksa seperti itu jadinya, dan menjadi tega karena belajar juga dari mereka yang tega kepada dirinya dan Aira anaknya. Bima semakin kesal dan menjauh sampai tak mau makan mie yang dimasak Diah tersebut.

__ADS_1


Perasaannya masih di selimuti rasa marah dan emosi kepada Diah yang tahu tentang kondisi ibunya hari ini.


__ADS_2