
🏵️ Jantung Bima berdetak kencang saat sudah sampai di depan rumah orang tuanya Diah. Bima sangat ragu untuk masuk kedalam saat itu, dan dia tak tahu bagaimana ingin menjelaskannya.
"Ini pasti tentang masalah kami, sebenarnya aku tak ingin sampai begini. Tapi ini memang salah ku dan aku harus segera menyelesaikannya." berkata dalam hatinya.
Tok, tok, tok..." suara pintu di ketuk.
"Assalamualaikum...," mengucapkan salamnya di depan pintu.
Ceklek...," pintu terbuka.
Sania yang membukakan pintu rumah itu, ternyata Sania ada disana. Bima pun masuk setelah Sania mempersilahkan Bima untuk masuk ke dalam rumah orang tua mereka.
"Silahkan mas Bima, papa sudah menunggu di ruang tamu dan juga saudara yang lainnya." kata Sania yang langsung mengantar ke ruang tamu.
"Hah?! saudara yang lainnya? Mati deh aku kena sidang sama papanya Diah." pekiknya dalam hati.
Bima semakin ragu dan semakin terasa sesak dan aura rumah itu tiba-tiba berubah baginya. Dia seperti akan memasuki wahana rumah hantu saat itu juga.
"Huh..., aku harus menghadapinya sekarang juga biar semua terselesaikan." berkata sendiri.
"Papa..., mas Bima sudah datang pa." ucap Sania yang menunjukkan diri Bima kepada semua orang yang ada disana.
"Malam pa..," ucap Bima yang dengan nada rendah.
"Mari sini duduk Bima, papa hanya mau tanya sama kamu sekarang ini." ujar papanya.
"Iya pa, baik." ujar Bima yang segera duduk di sofa coklat yang berbahan kulit itu.
Disana ada 4 orang lainnya yang memang saudara dari Diah juga, Bima semakin merasa sesak nafasnya dan tak nyaman berada disana.
"Bima, papa mau tanya ke mana Diah dan kenapa dia?" tanya papa mertuanya.
"Hah? kenapa papa bertanya seperti itu, bukannya Diah ada disini?" berkata dalam hatinya.
Bima melihat semua orang yang ada disana, dan melihat ke arah Sania juga. Bima menjadi bingung dan belum menjawab pertanyaan dari papa mertuanya.
"Bima ?!" papa mulai memanggilnya.
"Ah, iya pa. Bukannya Diah ada disini? Pulang kemari?" Bima bingung mau menjawabnya.
"Mas, mbak Diah tidak pulang kemari. Makanya papa bertanya kepada mas, dimana sekarang mbak Diah? Mana tahu ada di bilangnya dari pesan yang dikirim kepada mas tadi pagi." Sania coba menjelaskan.
"Maafkan saya pa, saya pikir Diah pergi pulang ke rumah papa. Karena saat kami bertengkar dia minta di pulangkan ke rumah orang tuanya."
__ADS_1
"Tapi kali ini saya benar-benar tidak tahu dimana dia berada pa..?!" ucap Bima yang menyesali kesalahannya.
"Saya minta maaf ke papa, dan saya janji akan mencari Diah sampai ketemu. Kami akan menyelesaikan permasalahannya." tegas Bima menyatakan janjinya.
" Yang saya inginkan anak saya, permasalahan kalian bila masih bisa di selesaikan berdua selesaikanlah. Bila tak bisa baru bicarakan ke papa dan akan kita bahas bersama.
"Bima kami yang paling dituakan meminta pada mu bijaklah sebagai suami dan kepala rumah tangga."
"Kami juga akan ikut mencari keberadaan Diah dan Aira saat ini. Dan kami mohon pada mu jangan membuatnya terluka, atau kau bisa pulangkan dia kepada kami." ucap para kakek dan abang-abang dari papanya Diah dan Sania.
Lalu Bima pun pamitan pulang setelah selesai berbicara pada papanya Diah malam itu.
Bima mengendarai motornya di jalanan menuju ke rumahnya.
Namun dia berhenti di tengah jalan saat melihat seorang wanita yang menyebrangi jalan bersama anak perempuannya.
Bima langsung cepat menghampiri wanita itu dan anaknya, dia tak sabar ingin mendekatinya.
" Diah !"
" Diah...!"
Bima memanggil-manggil namun wanita itu tak melihat ke arahnya.
Pluk !"
"Diah?! kau kemana saja?" tanya Bima menepuk bahu wanita itu.
"Maaf, mas siapa ya?" wanita itu heran menatap Bima.
"Oh, maaf mbak? Saya kira saudara saya mbak maaf ya sekali lagi." ujar Bima yang malu kalau ingin bilang istrinya yang entah kemana.
"Oke mas gak apa-apa." ucap wanita itu, dan dia kembali berjalan lagi dengan anaknya.
Bima pun segera kembali lagi berjalan ke arah motornya yang terparkir. Bima sangat kesal dan sedih ternyata buka Diah istrinya yang dia cintai.
Sementara itu hari juga sudah semakin malam dan Bima memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Besok Bima akan melanjutkan pencariannya lagi, dia akan mencari Diah dimana pun keberadaannya.
Akhirnya Bima pun sampai di rumahnya, dan teringat akan sama anak dan istrinya saat biasanya dia pulang kerumah.
"Ayah...," Aira biasa menyapanya.
__ADS_1
"Mas sudah pulang, mau minum teh mas? capek ya?" Bima teringat saat dia membuka pintu rumahnya.
Tapi sekarang dia sadar bahwa anak dan istrinya tak ada di rumahnya.
Rumah itu begitu sunyi dan sepi, bahkan rumahnya seperti tak ada kehidupan di dalamnya.
"Diah..., aku sangat merindukan mu dan anak kita.." Bima pun terlelap dalam mimpinya.
Malam sangat sunyi dan udara terlalu dingin, malam itu Bima sangat merindukan istri dan anaknya. Bahkan Bima sampai bermimpi mereka berkumpul bersama sedang naik perahu. Bima mendayung dan Aira duduk bersama Diah di depan Bima.
"Ayah, Aira suka sekali... dan belum pernah naik perahu ini." ungkap Aira saat itu.
"Iya, mama juga belum pernah naik perahu, baru ini naik perahunya sama Ayah. Terima kasih ya ayah..." ucap Diah yang tersenyum manis saat itu.
Bima merasa senang bisa bersama mereka, dan tak merasa kesepian lagi.
Setelah beberapa lama mendayung tiba-tiba kapal itu masuk air yang entah dari mana. Diah dan Aira panik karena air mulai naik dan menenggelamkan perahu mereka.
Di depan mata Bima Aira dan Diah tenggelam bersama masuk kedalam air tersebut.
Namun Bima tak dapat menolong mereka, tubuhnya seperti tak bisa bergerak untuk membantunya.
Aira dan Diah tenggelam dan tak terselamatkan.
"Diah...!"
"Aira...!"
"Hosh.., hosh.., hosh.." Nafasnya Bima tak stabil.
Bima terbangun dari tidurnya dan wajahnya merasa sedih sekali, dan Bima menitihkan air matanya di atas tempat tidurnya.
Bima mulai tak bisa mengontrol dirinya, tapi masih ada tekatnya untuk mencari istri dan anaknya. Sekarang masih pukul 02:00 pagi, Bima pergi ke kamar mandi untuk segera berwudhu.
Bima ingin menunaikan tahajud malamnya dan berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.
Dan tak lupa Bima berdoa untuk keluarga kecilnya bisa berkumpul dan permasalahan dalam rumah tangganya ada jalan penyelesaiannya.
Dalam doanya itu, Bima menangis dan tak sanggup untuk memanjatkan doanya.
Dia menyadari selama ini sudah bersikap tak adil kepada Diah, dan tak membuatnya bahagia. Bima menyadari dia bukan suami yang baik tak peka terhadap istrinya.
Bima menangis dan mencurahkan isi hatinya malam itu, sampai dia lelah dan tertidur di atas sajadahnya sampai pagi menyapa.
__ADS_1