Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 37. Akad Nikah


__ADS_3

🌟 Hari minggu pagi semua orang pada sibuk semuanya, Diah dan yang lainnya pun sudah bersiap dengan busana seragamnya keluarga besar dari Bima.


Bima dengan kemeja dan jas hitamnya, membuatnya terlihat sangat tampan.


Sedangkan Diah dengan kebaya yang senada warnanya dengan Aira anaknya.


Penghulu sudah datang, dan duduk di kursi yang telah di sediakan.


Monik dengan kebaya putihnya keluar dan berjalan menghampiri meja akad yang sudah ada di depan pelaminan.


Bima menjemput adiknya dan membawanya ke hadapan Damar dan duduk bersama di depan pelaminan.


Acara terasa sangat hikmat dan sangat hening, semua para tamu duduk dengan rapi di kursi yang telah di sediakan.


Mereka semua sangat menantikan Damar mengucapkan ijab kabulnya di hadapan bapak penghulu di depan4ria hadapan mereka semua.al


Diah saat itu sebenernya sudah sangat kelelahan sepanjang hari sudah sibuk karena mengurus pesta itu.


Akad nikah sudah terjadi, dan Monik sudah sah menjadi istri Damar.


Mereka sudah mengucapkan ijab kabul di depan semua para saksi pagi itu.


Lalu acara di langsungkan ke proses yang lainnya.


Setelah setengah proses terlaksana, waktunya kedua mempelai untuk sungkeman kepada orang tuanya.


Wajah ibu dan bapaknya Monik terlihat murung dan sedih, senyum mereka tertutup dan tampak dipaksakan.


Hati ibunya masih sakit karena ucapan Monik tadi malam, sementara hari ini dia ingin meminta restu kepada ibunya.


Bapaknya Monik juga hanya cuek saja saat mereka meminta restu darinya.


Ternyata malam itu Monik juga ada membentak bapaknya di depan teman - teman dan para saudara yang datang pada malam itu.


Dia memarahi bapaknya hanya hal sepele saja.


Flash Back


Malam itu monik keluar sedang menyambut temannya datang, bapaknya yang suka bernyanyi mengundang temannya yang mempunyai keyboard ke rumah.

__ADS_1


Maksud si bapak mereka ingin bersenang - senang disana, jadi saat itu bapak membuka satu karpet yang masih tergulung. Karpet itu mau di gunakan untuk bapaknya dan teman - temannya bernyanyi disana.


Namun Monik sudah melirik ke arah kumpulan teman bapak yang ada di pojokan. Setelah teman - temannya pulang, Monik menghampiri bapaknya yang sedang bersama temannya itu.


Monik langsung marah kepada bapaknya di depan para teman bapaknya itu. Semua terdiam saat itu, yang lainnya juga pada menoleh ke arah mereka.


Suara Monik sudah menarik perhatian semua orang yang ada disana, namun mereka hanya diam saja.


" Bapak ngapain sih itu karpet punya orang pelaminan, belum mereka buka sudah bapak buka saja !" Monik dengan suara tingginya.


Monik yang sudah emosi dari dalam rumah kepada ibunya menjadi bertambah emosi lagi kepada bapaknya. Monik seperti tak menghargai orang tuanya di hadapan para sanak saudara, tamu bahkan teman bapaknya sendiri.


Sakitnya hati orang tua, seperti tertampar di tengah orang banyak dan mereka semua dapat menghina orang tuanya sendiri.


" Monik, bapak cuma buka sebentar biar mereka bisa duduk saja kok. Tak mungkin bapak buat mereka duduk di tanah begini kan?" ucap bapaknya.


" Hallah !"


" Lagian siapa yang suruh mereka datang kesini dan main keyboard bernyanyi disini?" tanya Monik semakin kesal.


" Bapa...k..." terhenti.


" Sudahlah pak, pusing aku melihat orang tua yang gak bisa memberikan kebahagian dan mengatur semua acara ku." ucap Monik yang memberhentikan mulut bapaknya saat mau berbicara.


Mereka yang melihat bukan tak ingin menegurnya, tapi mereka tak mau ikut campur dengan urusan Monik.


Monik dari dulu memang sudah terkenal dengan kelakuannya yang sangat tak terpuji.


Dan bila berurusan dengannya nanti semua keluarga akan menjadi lebar masalahnya. Jadi semua orang tak mau urus urusannya, biar itu menjadi urusan dalam keluarganya sendiri.


" Monik!" Bima menegur adiknya.


" Jangan begitu sama orang tua, kau nanti bakal menjadi seperti mereka. Didepan orang banyak kau hina bapak seperti itu." ucap Bima yang kesal dengan adiknya.


" Sudahlah Bima, jangan membuat keributan disini. Sudah sana pergi !" kata bapaknya.


Bapaknya pun langsung menggulung karpet itu lagi, Bima yang baru datang memang tak tahu apa sebab Monik marah ke bapaknya.


Dia hanya tahu Monik sudah bersikap kurang ajar pada bapaknya di depan orang banyak. Monik pun pergi tak terima kalau di nasehati oleh abangnya ( Bima ).

__ADS_1


Dirumah itu Bima adalah abang tetapi tak bisa banyak berperan dalam keluarganya sendiri.


Karena bila Bima memarahi adiknya yang bersikap kurang ajar, orang tuanya, kakaknya dan yang lain malah menyalahkan Bima semuanya.


Sementara Bima itu hanya ingin mengajari adiknya untuk bersikap yang baik untuk mereka orang tuanya.


Namun sikap Bima yang menegur adiknya itu tak di terima oleh mereka, malah orang tuanya balik menegur dan memarahi Bima di depan adiknya.


Makanya Monik menjadi besar kepala dan semakin menjadi dengan sikap dan perilakunya yang sangat bermoral.


Begitulah kejadian tadi malam yang masih membuat bapak dan ibunya sedih terhadap perilaku anak - anaknya kepada mereka.


***


Masih resepsi Monik...


Sekarang Monik sudah berganti pakaian, Monik dan Damar duduk berdua di pelaminan. Semua tamu pun datang berhamburan, dan menyalami mereka di atas pelaminan.


Monik terlihat bahagia bertemu banyak teman - temannya yang memakai pakaian bridesmaid yang Monik berikan kepada mereka.



Senyum Monik melebar saat berfoto dengan teman - teman dengan yang berseragam maroon tersebut. Tetapi tak dengan kedua orang tuanya sendiri yang duduk berdua tampak sangat murung wajahnya.


Sementara ibunya dari pagi tak juga makan untuk mengisi perutnya.


Tadi malam pun dia juga belum makan malam, karena sudah bertengkar dengan Monik anak yang paling kecilnya.


Padahal ibunya selalu memberikan perhatian yang lebih dan khusus untuk anaknya Monik. Tetapi Monik tidak memberi kasih sayang pada ibunya dengan tulus karena ke kesombongannya yang sekarang sudah menjadi karyawan di sebuah bank.


Dan Monik terlalu bangga akan dirinya sendiri, dan beranggapan bisa hidup tanpa mereka. Sementara dia tak pernah berpikir, dari kecil siapa yang sudah menyongsong dia menjadi seperti sekarang ini kalau bukan orang tuanya.


Bima yang masih sibuk mengatur semua acara dan melayani tamu yang datang dan pergi di acara tersebut.


" Terima kasih ya bapak dan ibu sudah datang dan menghadirinya." ucap Bima yang menyalami para tamu yang akan pulang kerumahnya.


Diah juga sibuk melayani para tamu yang baru datang untuk menikmati makanannya, Diah yang berdiri di dekat prasmanan ikut melayani bila para tamu memerlukan sesuatu.


Sementara Aira sibuk bermain kesana dan kemari dengan teman dan saudaranya. Semua satu persatu teman, saudara dan adik - adiknya Diah undang datang menghadiri acara tersebut.

__ADS_1


Dan semua Diah layani dengan baik, bahkan mereka sangat senang bisa berkumpul dalam acara tersebut.


Acara itu pun sukses dan lancar sampai dengan selesai pukul 22:30 malam.


__ADS_2