
Bulan Desember liburan akhir tahun
Malam ini Diah, Aira dan Bima mengemaskan koper dan barang bawaan mereka. Karena besok pagi mereka akan terbang ke Palembang menemui orang tua masing-masing.
Diah juga ingin melihat kondisi mertuanya yang masih koma di rumah sakit saah ini. Diah juga ingin menemui papanya dan meminta maaf karena sudah pergi tanpa memberi kabar padanya selama 2 tahun lebih.
Semua koper sudah disusun di luar kamar, di depan lorong kamar mereka koper itu di simpan. Agar keesokan paginya tidak ada yang tertinggal atau ketinggalan.
Malam itu Diah siapkan camilan dan makan untuk mereka bawa dan bisa di makan di jalan. Tak lupa Diah juga siapkan oleh-oleh untuk semua keluarga dari jauh harinya.
Selain makanan ada juga baju dan kain-kain Bali untuk kerabat di Palembang nanti. Tapi ada yang spesial untuk papanya Diah, dia membelikannya sebuah lukisan yang menggambarkan kedamaian di pantai Bali. Beberapa hiasan dinding yang terbuat dari kerang-kerangan.
Bima memperhatikan Diah dari tadi wajahnya selalu tersenyum dan tak bisa di sembunyikannya kebahagiaannya itu. Bima pun jadi merasa ikut bahagia melihat Aira dan Diah senang ingin pulang ke kampung halaman.
Keesokan paginya...
Mereka pun terbang menuju Palembang, jantung Diah dan Aira berdegup kencang. Aira senang karena akan bisa bertemu dengan Mutiara dan abangnya lagi.
"Ma, Aira sangat kangen sama Mutiara. Nanti boleh main dan tidur di rumahnya bunda Sania ya ma..?" pinta Aira.
"Oh, iya sayang.."
"Aira boleh apa saja kok, asal yang baik." ujar Diah kepada anaknya.
Aira tersenyum dan sangat senang, dia sudah tak sabar saat berada didalam pesawat terbang itu. Sementara Diah terpikir oleh papanya yang pasti sangat marah padanya, Diah bingung mau berkata apa nanti pada papa dan mamanya nanti.
Tapi walau pun begitu tak di pungkiri hatinya sangat senang akan bertemu mereka semua seluruh keluarganya. Setelah sekian lama bertahun-tahun Diah tak bertemu atau memberi kabar kepada mereka.
Namun Diah tak tahu kalau Bima sudah memberi tahu keluarganya saat pertama kali bertemunya saat di Yogyakarta.
Karena Bima pernah berjanji pada papanya Diah akan mencarinya dan menjaganya, dan papanya Diah memberikannya kesempatan itu.
__ADS_1
Bima tak menceritakannya kepada Diah, karena menurutnya itu perjanjian antara sesama lelaki menanti dan mertuanya.
Prinsip Bima lelaki yang di pegang adalah janji dan kata-kat yang diucapkan. Sekarang Bima tak perduli apa kata orang-orang yang selalu mengkritik tentang keluarganya. Karena yang lebih tahu dan mengerti kehidupan keluarga kecilnya ya hanya dirinya dan istrinya saja. Bahkan orang tua saja pun tak akan tahu bagaimana perjalanan dan isi hati mereka anak-anaknya.
Pesawat sudah mendarat, Aira tak sabaran untuk keluar dari pesawat dan segera untuk ke rumah omanya. Sania, Mutiara dan adik Diah yang lainnya sudah menunggu mereka di bandara. Mereka baru di hubungi Bima saat akan terbang dan berangkat hari itu juga.
"Mbak Diah.., Aira...!" Sania melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Sania?!" Diah terkejut dan menoleh ke arah suaminya Bima.
Bima yang berjalan tepat disampingnya tersenyum saat Diah menoleh ke arah wajahnya.
Bima memberi kode agar segera temui mereka disana. Diah berlari saat koper dan tas Diah diambil oleh Bima suaminya.
"Sania...," mereka berpelukan dan Diah menangis begitu juga dengan Sania yang sangat merasa bersalah kepergian kakaknya dia tak tahu. Padahal Sania sendiri yang mengantarnya untuk naik angkutan pada saat itu.
"Mbak.., lama sekali kamu pergi dan sama sekali tidak memberi kabar pada kami semua keluarga mu." ucap Sania yang masih menangis.
"Loh Aira katanya gak sabaran ketemu sama adik Mutiara. Ini kok malah pada diam saja?" kata Bima yang memperhatikan mereka berdua.
Mereka hanya tersenyum dan saling menatap saja, Sania pun mengajak masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya papa Diah.
Namun setelah sampai Sania tak ikut masuk ke dalam rumah papanya, karena masih ada yanga akan di urus dan anak-anak di tinggalkannya. Sania ingin mengurus pajak mobilnya itu dan juga mengirim surat-surat pekerjaan milik suami Sania.
Semua harus Sania urus sendirian, dan dia juga sudah tahu suaminya itu sangat sibuk hingga tak sempat. Sania juga termaksud istri yang mandiri, terkadang dia di tinggal suaminya merantau 3 bulan, Sania bersama anak-anaknya hanya bertiga saja di rumah mereka.
"Assalammualaikum...," ucap Diah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam..," papanya Diah keluar dan melihat siapa yang dayang.
"Papa..?!" ucap Diah yang langsung menyalami papanya dan sungkeman dengan papa.
__ADS_1
"Diah kamu pulang nak..?" kata papanya.
Papanya mengelus kepala anaknya itu, papanya sekarang sudah tak bisa berdiri terlalu lama. Jadi dibantu dengan kursi roda, Diah melihat sesuatu yang dipeluk papanya.
Diah pun mengambil dan melihatnya bingkai foto itu, ternyata itu adalah foto mamanya Diah. Dia sudah pergi menghadap Ilahi satu tahun yang lalu, tapi papanya masih suka sedih dan menatapi foto-foto istrinya.
"Pa, mama...," Diah berhenti berbicara.
"Iya nak, mama sudah tiada. Dan hari ini papa sedang sangat merindukannya.
Kau angkat koper dan bawa masuk ke kamar langsung istirahatlah dulu sebentar. Nanti makan siang sudah siap di hidangkan mbok art akan di panggil untuk turun kebawah." ucap papanya.
"Baiklah pa," Bima memeluk mertuanya dan segera naik ke atas meletakkan barang-barang mereka.
Diah masih di kamar membereskan barang mereka dan beberapa oleh-oleh yang akan di bagikan nanti malam saat berkumpul bersama di ruang keluarga.
Sedangkan Bima pergi menemui papa mertuanya di ruang kerja papanya. Bima disama bercerita bagaimana mereka berdua berjumpa lagi dan dia meminta izin untuk terus bersama Diah anak papa mertuanya itu.
Bima juga bercerita akan berjanji memberikan kehidupan yang layak dan tetap akan membahagiakannya.
Mereka berdua sangat lama berbincang-bincang disana dan Bima mendengarkan nasihat dari mertuanya.
Sementara Diah menangis di dalam kamarnya sendirian mengingat kebersamaannya dengan mamanya sejak dulu. Namun sekarang mamanya sudah pergi untuk selamanya dari seluruh keluarganya.
"Ma, kenapa mama tidak menunggu Diah datang ma.., Diah pulang sangat ingin memeluk mama dan menyandarkan serta menumpahkan kesedihan dan segala rasa di pelukan mu."
"Tapi kau secepat itu meninggalkan ku, tanpa aku tahu dan aku juga gak pernah menanyakan diri mu disini."
"Maafkan Diah ya ma..?" Diah merasa bersalah tak pernah memberikan kabar dirinya saat sedang di Yogyakarta.
Sekarang rasa penyesalan sudah tinggal di dalam hatinya, sementara Sania tadi tak mengatakannya agar Diah sampai dulu di rumah dan menemui papa serta mengetahui sendiri bagaimana kondisi di rumah saat mama tiada dan juga dirinya saat itu.
__ADS_1