Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 30. Keras Kepala


__ADS_3

Malam itu ibu mertua dan suaminya sudah pergi entah kemana.


Sudah ada seminggu ini tak ada kabar yang Diah dengar. Tetapi Bima tahu dimana ibu dan bapaknya berada, lalu Bima mengajak Aira dan Diah untuk pergi kesana.


Sampai disana ibu mertuanya masih sakit kakinya, namun bengkak kakinya sudah sedikit berangsur mengempis.


Aira juga sangat senang bertemu dengan neneknya malam itu, dan Bima menanyakan keadaan ibunya dan yang lainnya.


Tiba - tiba Lastri datang dengan anak - anaknya, dia selalu melirik matanya ke Diah dengan tatapan tidak suka kepadanya.


Diah pura - pura tidak tahu saja akan hal itu, bahkan Diah sesekali menganggapnya Lastri tidak ada di sekitarnya.


" Itulah ibu, karena membela anak dan menantu jadi korban seperti ini. Sementara yang di bela tak tahu diri dan santai makan dan tidur dengan tenang." ucap Lastri yang gak jelas arah pembicaraannya.


Setiap kejadian yang ada di dalam rumah selalu Diah yang disalahkan. Walau permasalahannya dengan yang lain tapi kalau di rumah itu, Diah selalu disindir oleh Lastri biar menjadi tambah riuh.


" Kak kalau ngomong yang jelas jalan cerita dan permasalahan, ngomong itu coba berpikir dulu." ucap Bima yang tak senang dan sebenarnya tidak mau ribut di situasi saat itu.


" Bu, Bima pulang dulu. Lain kali nanti kami akan datang kemari." ucap Bima yang langsung pamit saat itu juga.


Bima dan Diah serta anaknya pun pulang dengan hati yang kesal karena ucapan Lastri yang tidak mengenakan.


Motor Bima pun melaju meninggalkan mereka semua disana, Diah hanya diam saja tanpa berbicara apapun di jalan pulang kerumah.


" Sakitnya hati ku saat semua yang ada permasalahan dirumah selalu aku yang di kambing hitamkan mereka. Sebenarnya apa peran ku dalam rumah mereka dan dalam hidup ini? Kebahagiaan ku seperti tidak terlihat karena begitu banyak kesalahan yang mereka limpahkan."


Diah tetap diam membisu dan air matanya jatuh di pipinya tiba - tiba.


Sampai di depan rumah Monik hanya diluar saja setelah pulang kerjanya.


Dia tidak berani masuk dan sendirian berada di dalam rumah.


Setelah tahu kami pulang, Monik baru masuk kedalam rumah dan berani untuk mandi dan tidur di dalam kamarnya.


Dia itu memiliki sifat penakut dari sejak kecilnya, dan tak mau sendirian di dalam rumahnya.


Vera yang mengetahui akan hal itu menasehati Monik agar meminta maaf kepada ibu dan bapaknya.


Vera menyuruh monik untuk menemui ibunya dan mengajak kembali lagi kerumah itu.

__ADS_1


Vera marah kepada Monik karena sikapnya itu.


" Kau boleh tak suka pada apa yang mereka lakukan, tapi jangan menyakitkan hati orang tua."


" Kita anak cukup memberi tahu atau menasehati, tapi tak berhak memarahi sampai hati mereka terluka. Masalah dosa dan lainnya itu urusan kita masing - masing terhadap penciptanya." ujar Vera yang menasehati adiknya.


Dalam keluarga Bima yang abangan bukan tak bisa menasehati, tapi di mata para adiknya Bima bukan apa - apa di mata mereka. keluarga yang memandang semua dari segi yang dimiliki menjadi tak menghargai usia dan tata krama dengan yang lebih tua.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hari demi hari sudah berlalu Monik belum juga menemui ibunya sudah tiga Minggu. Monik masih bersih kukuh dengan pendiriannya itu, dan sifat keras kepalanya.


Setiap hari Monik bisa di hitung kapan membersihkan rumah, pagi hari saat mau pergi kerja dia mandi dan menyapu kamarnya saja sampai depan pintu kamarnya.


Setelah itu dia pergi kerja dan tak mau mengerjakan yang lainnya.


Begitu juga pulang kerja yang hanya masukan motor tak menyapu bekas ban motornya dilantai.


Ini ketika hari Minggu


Monik bangun jam 9 pagi, dan dia sibuk membersihkan kamarnya dari semua sampah dan pasir serta kain cuciannya.


Diah merasa heran, tak biasanya Monik berkata seperti itu. Jadi Diah merasa bersyukur pekerjaannya sedikit berkurang dan terbantu hari itu.


" Syukurlah Monik sudah mau membantu dan mungkin dia sudah berubah saat ini." ujar Diah dalam hati.


Diah yang sudah siap masak dan membersihkan dapur serta mencuci piring segera memandikan anaknya dan membersihkan dirinya.


Sementara Bima masuk kerja di hari Minggu karena atasannya meminta dia masuk. Setelah siap semua Diah santai di dalam kamar sambil menonton tv bersama anaknya Aira.


Monik menghidupkan radionya dengan sangat keras membuat suara tv mereka di dalam kamar tak terdengar.


Monik membersihkan rumahnya sebersih - bersihnya, rumah di sapu, dipel dan di semprot pewangi ruangan.


Diah sedikit heran dengan Monik yang sangat rajin sekali hari itu. Bahkan dia pergi ke pasar untuk belanja disana, dan masak dirumah.


Padahal Diah sudah masak banyak lauk untuk hari itu, sengaja karena Diah tak ingin berulang kali masak kembali.


Sekarang sudah pukul 12:00 Siang, Diah mengambil makan siang anaknya dan sekalian juga makan bersama anaknya. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara motor di depan rumah mereka, dan suara Monik menyapa seseorang diluar.

__ADS_1


" Hai, sudah datang ya? ayo masuk, duduk disini." ucap Monik dengan ramah.


" Assalamualaikum..." terdengar suara seorang pria yang berbicara.


Lalu Diah keluar dari kamarnya untuk meletakkan piring kotornya yang sudah selesai menyuapi Aira.


Diah melihat ada seorang pria yang duduk di atas sofa ruang tamu itu.


" Kak.." ucap pria itu menyapa Diah.


" Iya, mari.." ucap Diah membalas sapaan itu.


Monik terlihat sibuk membuat minum dan berbagai macam hidangan untuk disuguhkan kepada pria itu.


Pria itu sangat spesial bagi Monik, yang ternyata dia Damar adalah pacar Monik yang sekarang.


Damar adalah pacarnya yang sekarang, setelah putus dari Rian cinta monyetnya saat masih duduk di bangku SMA.


Damar dan Monik itu satu sekolah, namun baru terajut kasih saat mereka sudah bekerja saat ini.


Dan mereka sudah pacaran berjalan terbilang sudah lama. Ternyata Monik sangat rajin membersihkan rumah karena ada seseorang yang akan datang kerumahnya.


Mungkin dia merasa malu kalau pacarnya melihat keadaan rumahnya yang sesungguhnya tidak pernah sempurna.


" Aku pikir dia sudah berubah dan mau ikut menjaga kebersihan rumah, ternyata aku saja yang kepedean untuk merasa bahwa semua hanyalah impian ku saja." ungkapnya dalam hati.


Diah pun kembali ke kamarnya setelah mencuci piring di dapurnya setelah semua terletak bekas masak Monik tadi.


Diah berjalan masuk ke kamar dan tak memperdulikan mereka yang ada di luar kamarnya. Monik dan Damar pun makan di ruang tamu dengan menghidupkan tv dan nonton bersama.


Namanya juga sepasang kekasih, tak tahu apa yang mereka lakukan saat sedang bersama dan berdua.


Lalu tak berapa lama kemudian, Monik dan Damar pun pergi keluar. Monik sudah dandan dari tadi agar terlihat cantik di mata Damar saat berpergian.


Monik pergi meninggalkan semuanya di atas meja begitu saja makanannya tanpa menutup atau membereskan semua yang sudah dia lakukan.


Bahkan dia pergi tak berpamitan kepada Diah dikamarnya, membiarkan pintu dan apa pun diluar rumah.


Diah pun bangun dan keluar dari kamarnya, dia menutup pintu dan membereskan serta menutup makanan yang Monik biarkan.

__ADS_1


Begitulah Monik yang tidak pernah perduli dengan siapa pun dan dengan apapun.


__ADS_2