
🌟 Minggu depan Bima dan Diah akan pindah dari rumah orang tua Bima, namun mereka belum memberi tahukan kepada mereka. Bima berencana akan memberi tahukannya nanti ketika sudah mau bergerak saja.
Rumah sewa sudah di dapat dari Sania, dia yang mencari tahu rumah sewa itu. Dan rumah itu tak jauh dari rumahnya, jadi masih ada teman dikala jenuh sendiri.
Diah juga sudah mengepak beberapa barang milik mereka untuk tinggal di bawa saja nanti. Sudah banyak kotak - kotak dan juga kantong plastik tempat beberapa mainan Aira disana.
Mertuanya tak menyadari akan hal itu, dan Diah juga tak pernah bercerita apapun. Mereka tak mau membicarakannya dulu karena nanti ibunya pasti tak mengizinkan dan akan menangis saat mau kepergian.
Sekarang kondisi sudah mulai membaik dari paska operasi pengangkatan rahimnya itu.
Diah sekarang hanya memiliki Aira bersamanya, dan Bima suaminya yang dia percaya selama ini.
***
Aira sekarang sudah besar dan bulan depan sudah wisuda dari sekolah TK nya. Jadi Diah mencoba untuk menabung kembali untuk membeli keperluannya nanti saat masuk ke sekolah Dasar.
" Ma, nanti Aira mau sekolah SD nya dimana ma?" tanya Aira.
" Hem, mama juga belum tahu. Maunya Aira sekolahnya dimana?" Diah malah balik tanya ke anaknya.
" Aira sebenarnya pengen sama sekolahnya dengan Mutiara...( anak Sania). Tapi rumahnya saja jauh ya ma?" ucap Aira yang merasa tak mungkin.
" Ya bisa - bisa saja sih, kalau Aira sholat dan berdoa, pasti nanti Allah akan kabulkan." kata Diah menyemangati.
Aira pun tersenyum ke mamanya, dia terlihat semangat saat mendapat dukungan dari mamanya. Diah sangat sayang pada Aira, dialah putri satu - satunya yang Diah miliki dan juga anak satu - satunya karena Diah tak bisa memiliki anak lagi saat ini.
Apapun akan Diah curahkan kepada Aira dan selalu berada di sampingnya saat ini. Diah dan Aira kembali merapikan dan mengemas barang - barang mereka lagi.
" Tring..."
" Tring..."
" Hallo..?" Diah menjawab ponselnya.
" Hallo Diah! ada kabar duka. Oma telah meninggal dunia, sekarang lagi di bawa ke rumah dengan ambulance.
Diah sangat terkejut dan shock tiba - tiba mendengar berita itu. Lalu dia termenung dan mengingat masa lalunya bersama omanya yang membuatnya sedih saat ini.
" Diah..!"
__ADS_1
" Hallo? Diah?!" terdengar suara dari seberang memanggilnya.
" Ah, iya - iya. Diah akan segera kesan setelah bersiap - siap." ucapnya lagi.
Diah lalu segera mandi dan bersiap untuk segera kesana. Diah yang bergegas pergi saat itu juga, namun dia lupa untuk beri tahu Bima dan mertuanya yang sedang tidur di dalam kamar.
Diah hanya ingat akan pergi ke rumah omanya dengan sesegera mungkin sampai kesana. Akhirnya Diah memutuskan untuk naik angkutan umum yang ada di depan jalan raya tak jauh dari rumahnya itu.
Aira dan Diah pun berangkat dengan cuaca yang sangat terik sekali mataharinya. Diah pun teringat akan pada Bima.
" Astagfirullah mas Bima belum aku beri tahu." dalam batinnya.
Diah langsung mengambil ponselnya
dan mencari Bima di kontak ponselnya.
" Tut.., tut.., tut.., angkat dong mas.." dalam hatinya sedikit gelisah.
" Iya hallo ma? ada apa mama telpon ayah?" tanya Bima.
" Yah! mama lupa bilang ke ayah, kalau mama sekarang sedang di jalan. Oma meninggal yah, jadi mama kesana sama Aira sudah naik angkutan." jelas Diah ke suaminya.
Diah pun menyudahi pembicaraan mereka, karena Diah sudah akan sampai di depan gang rumah Oma.
" Ayah, sudah dulu ya. Sebentar lagi mama sudah mau sampai di depan gang. Assalamu'alaikum ayah..." kata Diah yang menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya sembari mengambil ongkos untuk angkutan itu.
" Pinggir pak!" teriak Diah dari belakang supir.
Angkot itu pun menepi di pinggir jalan, dan Diah pun turun bersama putrinya.
Diah mengucapkan terima kasihnya kepada supir itu dan membayar ongkosnya.
Diah dan Aira langsung cepat - cepat masuk dan berlalu dari gang kecil itu, dari kejauhan sudah terlihat begitu ramainya orang di depan rumah Oma.
Air mata Diah langsung berlinang dan berkaca - kaca seketika. Diah berlari masuk ke dalam rumah saat itu juga tanpa memperdulikan orang - orang yang dia lewati begitu saja.
" Om...ma..., ucap Diah yang langsung memeluk jenazah yang ada di depannya dengan tangisannya. Diah tak tahan melihat omanya dengan wajah pucat terbaring disana.
Namun Diah tak bisa melakukan apa - apa lagi, karena oma sekarang sudah tak menahan rasa sakit lagi saat ini.
__ADS_1
Diah menangis hanya sekedar saja, dan tak ingin terlalu menangisinya. Karena tak baik kalau terlalu menangisi orang yang sudah pergi menghadap penciptanya.
***
Bima di tempat kerjanya...
Bima bergegas menghadap atasannya saat itu juga, dia ingin permisi pulang saat itu juga. Dan dia menjelaskan alasan kepulangannya siang itu, atasannya pun mengerti dan mengizinkan Bima untuk pulang kerumahnya.
Beberapa menit kemudian Bima sudah sampai dirumahnya dan cepat - cepat masuk kerumah.
" Assalamualaikum." ucap Bima yang segera mandi dan bersiap.
Ibunya Bima terbangun karena mendengar ada yang masuk ke dalam rumahnya. Lalu dari dalam ibunya melirik ke luar ada motor Bima disana.
Ibunya Bima pun mencari Bima di dalam kamarnya dan melihat tak ada siapa pun.
" Bima?!"
" Bima?!" Ibunya memanggil.
Bima tak mendengar panggilan dari ibunya dari dalam kamar mandi.
" Burr, burr, burr..." terdengar suara air mandinya Bima di dalam kamar mandi.
Ibu Bima pun mengerti dan sudah paham, bahwa anaknya sedang mandi saat ini.
Tak beberapa lama Bima keluar dengan baju dan pakaian rapinya serta peci yang ada di kepalanya.
" Loh Bim, kamu mau kemana? Dan dimana Diah dan Aira? kenapa mereka tak ada dirumah?" tanya Ibunya sedikit heran.
" Iya bu mereka sekarang ada di rumah omanya, saat ini omanya sudah meninggal dunia. Tadi Diah sudah memberikan kabar kepada Bima bu."
" Kenapa tadi Diah tak ada beri tahu ibu ya? dan malah main pergi begitu saja." ucap ibu Bima yang sedikit kesal.
" Sudahlah bu, masalah kecil jangan di besarkan. Mana tahu Diah tak mau mengganggu ibu yang sedang tidur di kamar, atau dia juga bingung saat pergi tadi sehingga tak ingan mau bilang ke ibu dikamar." kata Bima yang sudah bersiap siap.
" Bu, Bima pergi dulu. Mungkin kami akan pulang malam, karena Bima masih mau mengikuti prosesnya." Bima pun menghidupkan motornya dan segera pergi kesana.
Ibunya hanya melihat dirinya dari kejauhan, dan tak ada berkata apa - apa lagi saat itu juga. Setelah itu ibunya Bima masuk ke dalam rumah dan melanjutkan tidurnya lagi.
__ADS_1
Dia seperti tak menghiraukan kabar duka dari keluarga Diah saat hari itu.