Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 86. Godaan Tak Tertahan


__ADS_3

Malam ini Bima sudah tertidur tanpa makan apa pun, dia terlelap di sofa ruang tamu itu. Diah sudah menyiapkan makan malamnya namun tak ingin membangunkannya saat itu. Lalu Diah hanya menyuruh anaknya makan malam bersamanya saat itu.


Setelah selesai Diah menyuruh Aira tuk menggosok giginya dan pergi ke kamarnya untuk siapkan tas dan buku-bukunya.


Karena Bima semalam mengatakan besok akan mendaftarkan Aira ke sekolah.


Aira pun menuruti perkataan mamanya malam ini Bima membawakan ayam betutu yang ada di Bali untuk mereka makan. Aira dan Diah belum pernah makan ayam betutu Bali. Sementara Bima sudah sering makan masakan itu di Bali.


Selesai makan Diah membersihkan meja makan dan mencuci langsung piringnya. Diah sudah sisihkan lauk untuk Bima makan kalau dia bangun malam nanti. Menyapu dapur, dan mengepelnya membuat Diah senang karena tak ada pekerjaan saat dirumah suaminya itu.


****


Sekarang sudah pukul 23:00, dan Diah dari tadi duduk di dekat Bima menunggunya bangun nanti menyiapkan makan malamnya.


Namun Diah sudah tertidur rupanya, dan tak tahu kalau hari sudah larut malam.


Bima terbangun dan menyadari Diah ada di sebelahnya, Bima pun mengusap matanya agar tampak lebih jelas. Dan Bima menatap istrinya lebih dekat saat itu, mata Bima melirik ke segala arah wajah Diah. memperhatikan setiap inci dari wajahnya yang manis, dari atas bagian mata hingga turun ke hidungnya. Bahkan bibir Diah pun tak dilupakannya.


Gluk..


Terdengar Bima menelan saliva di dalam mulutnya saat matanya melirik turun ke bagian bibir itu. Bima tak bisa menahan dirinya saat menatap bibir Diah istrinya yang terlihat lembut.


Tanpa sadar Wajah Bima memerah dan bergerak semakin mendekat dengan wajah Diah. Nafasnya sedikit tersengal dan jantungnya berpacu dengan kencang. Bima tak sanggup rasanya untuk melanjutkan kedekatannya lebih dari itu.


Akhirnya Bima pun menjauh dan tersadar, dia menghela nafas dan berkeringat dingin.


"Ada apa dengan ku ya? Kok aku bisa begini sih sama istri sendiri?" Bima berkata dalam hatinya.

__ADS_1


Lalu Diah bergerak dalam tidurnya, dia berbalik ke arah Bima dan tangannya langsung memeluk Bima saat itu.


Bima menjadi bingung, karena Diah memeluknya dan mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Bima.


"Astaga..., aku harus bagaimana ini?!"


"Dia seperti menggodaku untuk melakukannya, argh....!" dalam hatinya berteriak.


Bima memejamkan matanya dan membukanya lagi, kali ini dia sungguh akan melakukannya tanpa berpaling lagi.


"Mungkin memang sudah dikasih jalannya begini, aku harus menerimanya." bisik Bima dalam hatinya.


Bima pun mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Diah, tangannya Bima memegang tengkuk leher belakang Diah yang tengah tidur itu.


Diah merasakan tangan Bima dan dia terbangun dan membuka matanya.


Diah tak bisa melawan dan berbuat apa-apa, dia mulai diam membatu dan menerima kecupan itu. Bima juga tak memberhentikan perbuatannya itu, dia melakukannya dengan lembut dan sangat perlahan. Agar Diah merasa nyaman dan ketulusan cinta dapat dirasakannya.


Bima pun melepaskan ciumannya, sedikit demi sedikit dia menjauh dari wajah Diah. Namun masih memperhatikan sikap Diah saat itu, Diah hanya diam dan tak mengucapkan apa pun setelah terjadi.


Bima juga diam hanya melihatnya, lalu Bima duduk dilantai di hadapan Diah yang duduk di sofa.


"Sayang, aku masih sangat mencintai mu. Dari kemarin kau selalu mendiami mas, apa kau tak senang dan sudah tak cintai lagi kepada ku?" tanya Bima sambil memegang kedua tangan Diah.


Diah hanya diam saja, dan tak ingin berkata apa pun. Namun wajahnya terlihat sedih menatap Bima, seketika butiran air bening jatuh ke pipinya Diah. Sontak membuat Bima merasa terkejut dan panik.


"Kenapa sayang? Apa mas sudah membuat kamu sedih dan kesal? Bicaralah sesuatu pada mas. Kalau mama memang tak mau tinggal bersama mas dan merasa menderita, mas akan rela untuk tak ganggu mama lagi." Bima berkata demikian sambil memeluk tubuh Diah di atas kursi.

__ADS_1


Diah semakin sedih dan semakin terisak suara tangisannya. Bima bingung dan tak mengerti akan hal itu, karena sampai sekarang saja bagi Bima hati wanita amat sulit di pahami.


Dan hati mereka terlalu dalam untuk diselami serta terlalu rapuh untuk disakiti.


"Mas.., mama juga masih mencintai mu. Tapi aku tak mau nanti sakit lagi hatiku untuk yang kesekian kali. Sudah cukup aku menderita selama bertahun-tahun tinggal di rumah ibu mu mas..," kata Diah memecah kesunyian malam itu.


"Ya Allah.., ternyata bekas luka lama itu yang membuatnya trauma untuk kembali lagi bersama ku. Berarti itu merupakan hal yang membuat teramat sakit dalam hidupnya selama ini. Sungguh aku tak tahu kalau bekas rasa sakit itu sangat dalam sekali di hatinya."dalam batin Bima berkata.


"Tidak sayang, mas akan sekuat mungkin tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama kembali."


"Sekarang mas ingin membuka lembaran baru bersama kalian lagi disisi mas saat ini."


"Dan meninggalkan atau ditinggalkan oleh kalian adalah hal terpuruk dalam hidup mas saat itu. Mas tak mau itu terulang lagi pada keluarga kecil kita ini sayang." Bima memeluk erat Diah dan mencium kepalanya.


Diah masih menangis karena ingin meluapkan semua yang ada dalam hatinya. Dan kali ini dia sangat merasakan ketulusan cinta suaminya terhadapnya. Diah pun ingin kembali membuka lembaran baru bersama Bima seperti yang dia katakan tadi padanya.


Bima sangat senang mendengar kata-kata itu dari bibir istrinya, Bima melepas pelukan itu dan mencium kedua tangan Diah dengan senangnya.


"Terima kasih sayang, kau memberikan lagi kesempatan itu pada mas saat ini."


"Mas akan menjalankan dan menjaga kesempatan itu dengan sebaik mungkin."


"Jadilah istri mas kembali, tapi sekarang harus berbeda dengan yang lalu. Karena sekarang adalah lembaran baru dalam rumah tangga kita."


"Mas tak ingin kamu melewati masa-masa sulit seperti dulu lagi. Dan menderita seperti itu lagi, mas ingin istri dan anak mas bahagian di samping mas saat ini." ucap Bima kepada Diah.


"Maafkan Diah ya mas yang pergi meninggalkan di dua tahun yang lalu. Dan sudah salah paham dengan diri mu, yang Diah kira kamu mau menikahi Tiara saat itu. Mama...," Diah terhenti saat mulutnya di tutup oleh Bima.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan lanjutkan. Mas yang merasa bersalah selama ini kepada kalian berdua. Sekarang sudah berlalu lupakan saja yang sudah berlalu. sekarang ingat saja yang sekarang dan masa akan datang." ucap Bima yang menjelaskan.


__ADS_2