
Pagi itu Aira bangun dengan segar dan sedikit membaik, namun dia mencari ayahnya saat itu.
Diah sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuknya, walau hari ini Aira tak sekolah tapi Diah menyiapkan sarapan seperti biasanya. Karena Aira harus memakan obatnya sesudah sarapan paginya.
"Ma.., dimana ayah ma?" tanya Aira dengan hati-hati.
Diah berhenti sejenak mendengar Aira bertanya seperti itu. Dan menatap ke arah Aira yang langsung menunduk dan kembali memakan makanannya.
"Aira, kamu tak perlu takut untuk bertanya dan ungkapkan apa yang mau kamu ucapkan."
"Percaya sama mama, dan selalu cerita kepada mama apa yang kamu inginkan sekarang." kata Diah memberi pengertian ke Aira anaknya.
Diah kembali dengan aktivitasnya dan membereskan rumahnya sebelum ke butik bu Sriana. Setiap pagi Diah selalu melakukannya sendiri dan sudah terbiasa sendiri.
"Ma, Aira ingin kita bersama lagi dengan ayah seperti dulu." ungkap Aira dengan cepat dan sambil menundukkan kepalanya.
Diah terdiam sebentar lalu melanjutkan lagi pekerjaannya tanpa merespon ucapan Aira.
"Ma, Aira tak ingin begini terus dan tak sanggup kalau berpisah lagi."
"Dan Aira sudah bilang ke ayah, sore ini akan ikut ayah ke Bali pulang bersamanya." ujar Aira lagi.
"Mama sudah selesai dan harus ke butik sekarang juga, jadi jangan lupa diminum obat mu dan istirahatlah." ucap Diah yang langsung pergi dan tidak merespon.
"Ma!
"Mama?!"
"Ma!"
Aira memanggilnya dan meminta jawaban dari Diah mamanya, tapi tak ada satu katapun dari mulut Diah.
Diah pergi begitu saja dan berlari dengan cepat ke arah tempat penjahitan gaun di butik Sriana.
Diah menangis disudut ruangan itu, dia tak kuasa menahan air matanya dan rasa sesaknya di dalam dada.
"Seberat ini kah aku harus bisa memilih? Aira anak ku pun sampai ingin meninggalkan ku dan memilih ikut dengan suami ku." ucapnya dalam hati.
Lily tiba-tiba ada disana melihat Diah berada di sudut dan bengong tanpa suara tapi air matanya jatuh begitu saja. Lily kesana karena ingin mencari sesuatu disuruh mamanya bu Sriana.
__ADS_1
Setelah itu Lily pergi menghampiri mamanya dan mengatakan semua yang dia lihat tadi di ruangan itu. Sriana pun mengerti dan mencoba menemui Diah disana, Sriana berpura-pura datang tanpa mengetahuinya.
"Hai mbak Diah, kamu masih mengantuk kah? Atau kau boleh istirahat dulu di rumah dan jangan paksakan dulu, nanti malah kamu yang sakit." Sriana duduk bersamanya.
"Saya tidak apa-apa kok bu, hanya lelah sedikit saja. Istirahat disini sebentar juga nanti sudah segar kembali." ucapnya Diah.
"Diah, kau terlihat seperti ada beban. Kamu sakit atau banyak memikirkan anak kamu yang sakit kah Diah?"
"Tenang saja Aira pasti akan segera sembuh dan bisa sekolah serta beraktivitas kembali." ucap Sriana.
"Bukan begitu bu, Saya hanya...," ujar Diah.
Diah pun akhirnya cerita tentang Aira yang ingin mereka bersatu kembali. Dan merasa tak sanggup kalau anaknya pergi darinya, sudah hidup bersama selama ini bagaimana bisa itu terjadi.
Bahkan terbayang saja pun tidak pernah sama sekali, Diah sampai tak kuasa akhirnya menangis di depan bu Sriana. Wanita itu mengerti akan kesulitan dari Diah, namun sangat sulit untuk dirinya sendiri.
Lalu bu Sriana pun memberinya pandangan dan nasehat kepada Diah. Dia hanya diam dan mendengarkan, dan mencernanya dengan baik-baik.
"Diah, kesempatan baik yang ada belum tentu akan datang untuk kedua kalinya."
"Ibu cuma bisa bilang coba dengarkan kata hati kecil mu dan pejamkan mata mu lihat lah dalam kegelapan itu ada siapa yang memberi penerangan kepada mu disana." ucap bu Sriana tersebut.
***
Bima mengeluarkan sesuatu dari bungkusan plastik berwarna biru. Dan diberikannya kepada Aira saat itu juga, dengan rasa senang Aira menerimanya dan bertanya kepada ayahnya.
"Ini apa ayah?" tanya Aira yang tersenyum menerimanya.
"Coba Aira buka isinya apa kira-kira?" ujar ayahnya itu.
Aira pun membuka bungkusan itu dengan antusias dan ekspresinya sangat senang sekali dia.
"Wah, ayah membelikan aku ponsel?" pekik Aira yang terlihat sangat gembira.
"Iya sayang, nanti kau bisa telpon ayah semau kamu kalau ayah tidak sedang sibuk dengan pekerjaan ayah." ujar Bima yang sangat mengharapkan itu tak terjadi.
Karena Bima lebih suka langsung berbicara dan dapat memeluk serta menyentuh anaknya dan istrinya berada di sisinya.
Aira berterima kasih pada ayahnya dan memeluknya. Bima memberi tahu dan menyimpan no ponsel Bima di kontak ponsel anaknya.
__ADS_1
Bima dan Aira pun mempelajari cara menggunakan ponsel baru itu.
Dan Aira dengan cepat sudah dapat menggunakannya seketika.
Usia Aira sekarang sudah 10 tahun dan dia sudah mau beranjak remaja, masa-masa itu sungguh tak ingin dilewatkan oleh Bima. Namun semua tak dapat Bima lakukan Allah yang memberikan jalan hidupnya begini.
"Aira.., sore ini ayah akan kembali ke Bali dan besok sudah akan masuk kerja."
"Kamu jaga mama disini ya sayang..," ucap Bima.
"Tapi yah, Aira mau ikut saja sama ayah.., Aira gak mau kita berpisah lagi yah..?!" rengek Aira ke ayahnya.
"Aira, kamu jangan seperti itu. Kamu harus dengar ucapan mama, dan jangan membuatnya sedih."
"Kita pasti akan bersama lagi, Ayah tidak mau mengambil atau membawa kamu tanpa mama mengizinkannya."
"Ini ada surat nanti kamu beri sama mama ya nak? Percayalah sama ayah kita pasti akan bersama kembali.
"Kau jangan membuat mama bersedih dan kecewakan ayah ya sayang..? Ayah janji kita pasti akan bersama lagi, dan itu tak akan lama-lama." Bima berjanji pada anaknya.
Aira pun mengerti dan dia harus menunggu lagi kali ini, namun dia memegang janji seorang ayah yang dia cintai akan menguatkannya.
Bima begitu banyak membawakan Aira hadiah, segala perlengkapan sekolah dan berbagai baju juga ada dibawanya.
Aira pun menyimpan surat itu untuk Diah mamanya. Sekarang sudah pukul 12 siang, Bima pun berpamitan pada Aira segera. Karena masih harus mengurus yang lainnya lagi, dan nanti pukul 3 sore sudah akan kembali ke Bali lagi.
Diah datang dan melihat Bima dan Aira ada di rumahnya, Bima menyapanya dan hanya berpamitan kepada Diah istrinya.
"Sayang mas pergi ya mau kembali ke Bali lagi untuk kerja kembali. Mas ingin membawa kalian namun tak akan memaksa diri mu dan Aira anak kita."
"Namun mas sangat mengharapkan kesediaan kamu untuk kembali menjadi istri mas dan bersama lagi." ucap Bima dan memeluk tubuh Diah.
Diah merasa ada respon dari hatinya untuk tak ingin melepas pelukan suaminya itu. Tapi tak bisa dia ucapkan dari mulutnya dan membiarkan Bima pergi dengan begitu saja. Diah hanya diam dan tak berbicara apa pun menatap kepergian Bima.
"Ayah..!"
"Ayah jangan pergi!"
"Ayah bawa Aira sama ayah...!"
__ADS_1
"Ayah...!"
Aira terus memanggil namun Bima tak memberhentikan langkah kakinya. Diah pun meneteskan air matanya dan memeluk tubuh anaknya dengan sedih.