
Lastri pulang kerumahnya pukul 19:00, dia menaiki motornya sampai kerumah. Dia melihat begitu banyak orang di gang rumahnya berhamburan.
Terlihat anak Lastri menangis di rumah Atok warung depan. Lastri langsung berhentikan motornya dan menghampiri anak-anaknya.
"Kalian kenapa ada disini dan menangis? Siapa yang sudah mengganggu kalian?!" ucap Lastri yang tidak senang dan melirik ke semua orang yang ada disana.
Lastri merasa tidak senang melihat anaknya di ganggu orang. Namun dia tak tahu kalau rumah sudah terbakar dan ibunya sedang koma di rumah sakit karena kepalanya terbentur jadi tak sadarkan diri.
Tut...
Tut...
Monik menelpon Lastri, dan ingin mengatakan sesuatu ke kakaknya itu.
"Hallo Mon, ada apa kau menelpon?" tanya Lastri.
"Kak, bagaimana keadaan ibu sekarang di rumah sakit?" Monik menanyakan ibunya.
Sementara dia terbengong, Lastri tak tahu akan hal itu. Lastri tak tahu kalau ibunya berada di rumah sakit lagi.
Lastri pun bingung menjawab pertanyaan dari Monik, dia hanya diam saja dan mencoba mencari alasan.
"Kakak gak tahu lah dek, kakak belum ke rumah dan baru saja pulang." ucap Lastri ke Monik adiknya.
Mereka pun berbicara panjang lebar dan tak beberapa lama mengakhirinya. Lastri lalu bingung dan bertanya kepada anaknya dan kepada Atok tersebut.
Atok itu pun menceritakan semuanya, dan anak-anak Lastri mengakuinya kalau itu adalah kesalahan mereka berdua.
Seketika Lastri lemas dan terduduk di lantai teras Atok itu, dia tak menyangka hari ini itu begitu banyak musibah pada keluarganya.
Ibu yang koma di rumah sakit, rumah yang terbakar dan semua berkasnya hangus tanpa sisa. Suaminya yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja bersama wanita lain.
Kehidupan Lastri kini hancur seketika, rumah yang ingin dia rebut dan ingin di kuasainya kini di lalap api yang di buat oleh anaknya sendiri. Dan kertas berkas serta seluruh ijazahnya habis terbakar tanpa sisa.
Lastri tak kuat untuk melihat rumahnya itu, dia menangis dan lemas tak bisa berdiri. Kini Lastri sudah mendapat sedikit karma dari kebiasaan buruknya itu.
***
Ibunya di rumah sakit...
__ADS_1
Bapaknya sudah menunggu ibunya disana dan berkonsultasi serta menanyakan keadaan ibunya itu.
Suaminya harus menanggung semuanya sekarang ini, rumah tiada lagi, istri koma di rumah sakit.
Sekarang anak-anak pada gak ada yang datang melihat kondisi ibunya saat ini.
Bahkan Lastri sudah tak mau menjaga dan merawat ibunya yang sakit. Bapaknya mengambil ponsel dan menelpon Bima di Bali, namun karena sangat sibuk sekali aktivitasnya.
Bima yang sedang sibuk tidak mengaktifkan nada dering di ponselnya itu, dan hari ini dia baru akan pulang pukul 10 malam nanti.
Bima setiap hari terus saja bekerja keras dan mengumpulkan uangnya, dia ingin nanti bisa membahagiakan anak dan istrinya dengan memiliki rumah sendiri.
Bahkan Bima juga ingin membuka bisnisnya sendiri agar tak kerja lagi dengan orang lain. Bima juga meminta pendapat ke Dito dan tak mau menutupi kalau dia ingin punya bisnis sendiri.
Lalu Dito pun memberi tahukan kalau di Bali Dito punya Toko souvernir yang sudah tutup karena tak dapat menjalankannya. Jadi Toko itu di berikan ke Bima dan bisa di kembangkan.
Bima pun senang, dan memang di Bali cocok sekali untuk berbisnis souvernir. Bima juga akan perbesar toko itu untuk membuat tempat lainnya.
Bima yakin Diah pasti suka akan hal itu, dan bisa bersama dengannya selalu. Bima juga belum tahu konsep dan lainnya, jadi menjemput Diah dan Aira itu tujuannya yang pertama.
***
"Hah..," Bima sangat merasa lelah.
Dia menghela nafas untuk pekerjaan hari ini, tapi dia tak mengeluh apa pun karena ada keinginan kuat untuk berjuang.
Bima lalu melihat ponselnya dan membuka kunci pin ponsel itu. Panggilan tak terjawab sebanyak 10 kali dari nomer bapaknya yang di Palembang.
"Mengapa bapak menelpon banyak sekali ke ponsel ku ya?"
"Apa ada sesuatu yang penting saat ini? Atau ada yang terjadi disana?" dalam hati Bima bertanya.
Bima pun langsung menelpon bapaknya saat itu juga, ingin memastikan keadaan disana.
Tut...
Tut...
Tut...
__ADS_1
"Hallo Bim!"
"Ini bapak, Bima rumah bapak dan ibu habis di lalap api Bim. Ibu koma di rumah sakit, bapak tak tahu mau bagaimana sekarang."
"Mana bapak tak ada uang untuk membangun lagi, sekarang ibu sudah tak sadarkan diri. Bapak juga gak tahu mau tinggal di mana saat ini." ucap bapaknya.
Bima mendengar semua penjelasan dari bapaknya dan menanyakan keadaan ibunya serta yang lainnya.
Bima sedikit sedih mendengar rumah kebakaran dan tak ada tempat tinggal.
Bima bingung mau bagaimana, dia ada uang saat ini 80 juta, tapi itu uang untuk membeli bangunan rumah impian. Bima pun memikirkannya lagi bagaimana, dia menenangkan bapaknya dan mengatakan akan membantu bapaknya bagaimana nanti.
Pembicaraan pun di akhiri Bima, dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja di depannya.
Bima malam itu berpikir kembali dan mencari solusinya. Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, Bima pun melirik ponsel itu.
Dilihatnya dan di bukanya, ada pesan yang diterima disana.
💌 "Mas.., ini Diah. Kamu apa sudah tidur mas?" isi pesan dari Diah di ponsel Aira.
💌 "Diah? Ada apa ma, mas belum tidur. Baru pulang dari kantor mas sekarang bahkan belum mandi. Ada apa ma?" tanya Bima.
💌 "Sebenarnya tidak ada apa-apa, aku hanya tak bisa tidur saja, dan tak tahu mau bicara sama siapa."
💌 "Bagaimana keadaan ibu sekeluarga mas?" tanya Diah saat itu.
Bima jadi ingat kembali saat ini, dan pas banget Bima mau mengatakan sesuatu pada Diah istrinya.
💌 "Ma, keadaan ibu sekarang sedang koma, rumah ibu dan bapak terbakar dan tadi bapak baru telpon mas karena bingung mau bagaimana."
💌 "Mas ada uang tapi niat hati ingin di tabung membeli rumah kita, dan membuka usaha. Mas bingung mau bagaimana, dan nanti kalian..," Bima tak melanjutkan.
💌 "Gak usah bingung mas, bantu dulu orang tua dan urusan rumah atau apa pun nanti bisa mas cari lagu.
Utamakan dulu untuk bapak disana, kasihan tak ada tempat tinggal." Diah memberikan solusi yang di inginkan Bima saat ini.
Bima tersenyum dan merasa sejuk mendengar Diah berkata seperti itu.
"Diah selalu tak pernah berubah, utamakan membantu orang lain dari pada dirinya sendiri. Itu yang membuat ku jatuh cinta dan tetap ingin bersamanya dan tak mau melepaskannya." dalam benak Bima berkata.
__ADS_1
💌 "Sudah ya mas, Diah mau tidur. Besok mau kerja lagi, dan sebenarnya Diah hanya mau bilang jemput nanti kami dan bawa tinggal bersama mu." pesan terakhir sudah di kirim Diah.