
Kedua anaknya menyalahkan ibunya, sedangkan bapaknya hanya santai di toko tanpa memikirkan acaranya dirumah bagaimana.
Ibunya Monik berjalan ke arah rumah bu Rianti, dia ingin meminjam uang pada ibu itu. Sementara ibu Rianti itu seorang Rentenir dalam meminjamkan uangnya.
Bila meminjam uang pasti harus ada lebihan untuknya. Ibu Monik pun mengetuk pintu rumahnya bu Rianti.
" Tok, tok, tok" bu Rianti..." memanggil dari luar.
" Iya, oh ibunya Monik. Ada apa bu?" tanya bu Rianti.
Ibunya Monik pun menceritakan semuanya, dia sampai menangis dan tak bisa menahan air matanya.
Bu Rianti sangat kasihan kepadanya, dan juga kesal dengan sikap anaknya itu ( Monik ).
" Sudahlah bu, janganlah menangis lagi. Sudah, aku kasih ibu uangnya dan sesuai perjanjian memulangkannya ya bu.." ucap Bu Rianti itu mengingatkan.
" Iya bu, saya sudah mengerti dan nanti secepatnya saya kembalikan ke ibu Rianti." kata ibunya Monik.
Setelah mendapatkan uang itu, ibu Monik langsung pergi lagi ke pasar dan berbelanja ayam dan bumbunya.
Sampai dirumah beberapa makanan sudah siap dimasak, dan sekarang giliran ayam di cuci dan di goreng lagi.
Piring dan semua alat makan serta yang lainnya sudah di susun di meja depan teras.
Buah dan pelengkap lainnya juga sudah tersusun disana.
Ibu Monik terlihat sedih dan lesu terduduk di tanah karena capek harus bolak - balik belanja dan masak lagi di rumahnya.
Sedangkan Monik hanya di kamar tiduran tanpa perduli pada ibunya.
Acara akan di mulai pada pukul 14:00, sedangkan sekarang sudah pukul 12:00 siang. Semua masakan sudah hampir selesai, dan rumah juga sudah di rapikan.
Sementara sudah jam segitu baru Vera anak ibu mertuanya yang datang. Sementara Bima baru kembali dari mengambil kue pesanan mereka.
Bima dari tadi belum pulang karena di jalan ban motornya ada sedikit kendala. Jadi dia lama sekali sampai di rumah.
Saat kejadian Monik memarahi ibunya, Bima tak ada dirumah. dia sudah pergi dari jam 10 sampai jam 12 baru kembali ke rumahnya.
" Kok lama sekali yah, sebentar lagi acaranya loh. Mandilah dulu ayah, lalu makan siang lah segera. Sebentar lagi mereka akan datang dan ayah harus sudah duduk menyambut mereka." ucap Diah ke suaminya.
__ADS_1
…………………………………………………………………
Acara pun di mulai...
Keluarga pria sudah datang, Damar bersama mamanya berjalan masuk dari kejauhan. Keluarganya datang membawa semua seserahan dan beberapa makanan untuk tuan rumah di keluarga Monik.
Monik yang masih di dalam kamarnya sibuk mempercantik diri. Dia merasa gugup dan deg, degan. Sebelum di panggil, Monik masih berada di dalam kamarnya.
Setelah semua berkumpul di dalam rumah, acara pun di mulai dalam panjatan doa - doa yang terbaik untuk terlaksananya kedepan nanti.
Monik pun keluar untuk dipakaikan cincin di jari manisnya. Monik duduk di depan dan mamanya Damar pun menghampiri Monik, Cincin itu di sematkan mamanya Damar ke jari Monik dengan tersenyum.
Monik juga terlihat sangat senang dan begitu bangga. Damar juga terlihat tersenyum melihat Monik memakainya.
Sekarang Monik sudah di ikat oleh Damar untuk menjadi calon istrinya.
Setelah itu doa pun di panjatkan kembali sekali lagi sebagai tercapainya pelaksanaan lamaran itu.
Lalu tak lupa mereka juga bersyukur akan segala rahmat di hari yang baik itu.
Setelah itu bapaknya Monik dan seluruh sanak saudara tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk menyantap makanan yang sudah tersedia disana.
" Mari silahkan bapak, ibu semua. Silahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Makanan yang sederhana saja yang bisa kami sediakan untuk bapak dan ibu." ucap tuan rumahnya.
Ada berbagai macam disana, dan minuman yang tersedia.
Dan ada beberapa makanan kesukaan yang di sukai oleh keluarga dari pria.
Ibunya Monik juga menyediakan makanan itu untuk di hidangkan disana.
Gulai jengkol
Semur Ayam Bali
__ADS_1
Ini makanan yang di hidangkan khusus untuk mereka, dan hanya di letakkan di dalam rumah tempat mereka sedang makan bersama.
Monik juga terlihat menemani keluarga pria makan disana, Monik duduk di dekat mamanya Damar.
Bapaknya Monik juga terlihat makan dan menemani uwak nya Damar disana.
Damar adalah anak yatim, papanya sudah meninggal dunia. Jadi yang mewakili Damar ke rumah Monik adalah uwak nya Damar sebagai walinya.
Sementara ibunya Monik hanya duduk diam saja tanpa makan apa pun dari pagi tadi. Monik tak menghiraukan ibunya yang duduk sendirian dengan wajah sedihnya.
Sementara Lastri baru datang tadi saat setengah jam lagi acara akan dimulai. Lastri tak mau membantu setiap ada acara di rumah ibunya.
Lastri selalu datang setelah semuanya sudah selesai dan tinggal makan saja disana. Ibunya selalu membantunya saat ada acara di rumahnya bahkan sampai sebelum acara sudah tidur disana.
Begitulah Lastri yang membalas cinta kasih seorang ibu dengan perilaku yang tak tahu diri. Namun namanya seorang ibu akan tetap menyayangi anaknya walau anaknya membalas air susu dengan air tuba.
Ibunya mereka membuat puding untuk diletakkan di depan agar di nikmati oleh keluarga pria, namun Monik marah dan tak mengizinkan puding itu di hidangkan untuk keluarga pria.
Monik merasa puding buatan ibunya tak layak untuk di berikan ke keluarga Damar saat itu.
Monik ingin semua terlihat mewah dan hanya makanan yang mewah saja ada disana.
Tak ada yang memperhatikan ibu mereka di hari itu. Lalu Diah menyuruh Bima suaminya mengajak ibunya untuk makan, karena Diah melihat mertuanya terlihat sedih dan dia juga mengetahui mertuanya belum makan dari tadi pagi.
" Bu, ibu gak makan? jangan terlambat atau tak di isi perutnya bu, ibu kan ada sakit mag nya nanti kalau terlambat makan akan sakit." kata Bima menasehati ibunya.
Diah memikirkan ibu mertuanya, sementara dia sendiri juga belum makan dari tadi.
" Mama sudah makan ma?" tanya Bima suaminya.
" Ayah mau makan, apa mama mau makan juga?' Bima bertanya lagi.
" Kenapa Diah capek ya? Capek lagi kakak yang..." suaranya tergantung.
" Iya yah, ayolah kita makan. Dari tadi pagi mama belum makan juga." ucap Diah yang memotong pembicaraan Lastri dan tak memperdulikan ucapannya.
Lastri hanya melirik dan merasa tak senang dengan Diah, karena tak menghiraukan dirinya.
Lastri memang tak tahu diri dengan dirinya yang sudah tak datang membantu malah masih mencela iparnya dirumah.
__ADS_1
Diah lalu pergi dengan Bima dan makan berdua, mereka makan bersama dalam sepiring berdua.
" Jangan berpikir aku tak berani mengabaikan mu. Jangan selalu suka mengkritik dan mengajari orang lain, karena kau sendiri tak bercermin dengan kaca yang kau punya. Punya mata tapi tak melihat di sekeliling diri mu." ucap Diah dalam hatinya.