
Paginya Bima bangun lalu sarapan dan mengantar Aira ke sekolah bersama Diah dengan motornya.
Mereka bertiga naik motor yang dulu adalah motor Bima 2 tahun yang lalu.
Setelah mengantar Aira untuk ujian di sekolahnya, Bima pun mengajak Diah ke kios milik Dito dahulu, kini boleh digunakan oleh Diah untuk membuka usahanya sendiri. Tapi tak bisa di akhir tahun ini, karena Bima akan mengambil cutinya dan ingin pulang ke rumah orang tuanya.
"Hah?! Ini boleh aku pakai mas? Dan kita akan pergi ke rumah papa dan mama ya mas?" tanya Diah yang merasa senang dan tak percaya.
"Terima kasih ya mas..," Diah tersenyum kepada Bima dan memeluknya.
"Iya sayang ku..," ucap Bima.
****
Bima pun segera pergi ke kantor yang kembali beraktivitas seperti biasa. Sedangkan Diah yang sangat senang segera menghubungi bu Sriana di Yogyakarta.
"Hallo, apakah ini bu Sriana..?" tanya Diah.
"Iya benar, ini siapa ya?" tanya Sriana balik.
"Bu, ini Diah karyawan ibu dulu yang kos di tempat ibu juga." ujarnya.
"Oh, kamu Diah.., apa kabar sekarang? kamu sepertinya sangat baik sekali dan sedang bahagia." kata Sriana.
Diah lalu ngobrol melepas rindunya dengan bu Sriana, dan tak lupa dia mengatakan maksud dan tujuannya itu. Diah menjelaskan semuanya dan keinginannya yang ingin bekerjasama membuka butik batik, dan Diah ingin mendapat barang dari Sriana yang berkualitas baik nanti.
"Begitu bu.., tapi kemungkinan saya akan membuka butik dan tokonya itu bulan depan. Karena bulan ini saya akan ke Palembang untuk ke rumah orang tua saya." kata Diah menjelaskan.
"Oke baiklah Diah, akhirnya kau bisa meraih impian mu. Satu yang ibu mau, jaga hubungan kamu dan orang-orang terkasih yang memang tulus pada mu. Karena mereka sangat berharga dan tak ada yang lain seperti mereka." Sriana menasehati Diah.
"Baiklah bu terima kasih. sampai nanti lagi ya bu." pembicaraan pun di tutup.
Diah sangat senang sekali, dan itu hal yang dia impikannya selama ini. Dan hari itu dia pun menjadi semangat mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
Dan sudah pukul 10 siang, Diah pergi menjemput Aira di sekolahnya. Hari ini Diah ingin membawa Aira ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan di dapur. Karena nanti malam Diah ingin masak mei ayam untuk makan bersama-sama di rumah.
__ADS_1
Bima juga berkata akan pulang cepat dan makan malam dirumah katanya.
Jadi malam ini Diah ingin masak makanan yang berbeda dan akan makan di teras samping dengan suasana malam. Diah juga akan memasak beberapa camilan khas Palembang dengan kuah asam dan pedasnya.
Karena besok adalah weekend dan ujian sudah selesai, jadi sore ini Aira ikut membantu mamanya di dapur menyiapkan makanannya.
Aira sangat antusias sekali, bahkan bersemangat untuk membuat makanan yang lainnya juga.
Aira dan Diah menyiapkan makan malam tanpa menyadari sudah pukul 17:00 sore dan mereka belum pada mandi.
"Ma, kita mandi saja dulu." kata Aira ke mamanya.
"Hah, ngapain? sudah jam berapa rupanya Aira?" tanya Diah yang masih sibuk menata makanannya.
"Sudah sore mama, sebentar lagi ayah satu jam lagi ayah pulang loh ma..?" Aira pergi ke kamarnya untuk segera mandi.
"Satu jam lagi ayah pulang? memang jam berapa sekarang ini?" dalam hatinya bertanya-tanya.
Diah memandang jam dinding di dapur dekat meja makan itu, dan Diah terkejut ternyata tak menyadari waktu berganti dengan cepatnya.
Diah pun akhirnya pergi untuk mandi dan membersihkan dirinya, karena bajunya sudah sangat bau sekali. Semua tercampur aduk disana, amisnya ayam, baunya bawang dan bumbu-bumbu lainnya.
Aira sekarang sudah besar dan beranjak remaja, parasnya semakin cantik dan menawan.
"Assalamualaikum...," Bima sudah pulang ke rumah sore itu lebih cepat setengah jam dari biasanya.
"Eh, ayah sudah pulang?" Aira memeluk Bima.
"Kamu sedang apa sayang?" tanya Bima yang memperhatikan anaknya itu.
"Sedang bantu mama siapkan semua makan malam kita dong ayah..., hari ini kita makan malam spesial yang sangat berbeda." kata Aira.
"Berbeda? Wah, kok ayah jadi penasaran banget dengan yang Aira katakan." ujar Bima yang langsung membantu Aira.
"Ah, sayang kamu sudah pulang?" Diah memeluk suaminya dan Bima mencium pipi Diah.
__ADS_1
"Hari ini ada perayaan apa sih sayang? Kok kata Aira kita hari ini makan malamnya sangat spesial dan berbeda." tanya Bima ke istrinya.
"Ah, tak ada perayaan apa pun hari ini kok yah.., hanya saja biar ada variasi dan sedikit berbeda saja." ucap Diah.
"Ayo kita makan yah, ma?!"
"Semua sudah siap dimeja." kata Aira dengan senyumnya.
Mereka pun semua makan bersama dan dengan kehangatan keluarga kecil mereka. Begitu seru mereka makan bertiga dan sangat terasa keharmonisan dalam keluarga.
***
Setelah selesai makan malam, Bima pun beristirahat sebentar, sementara Aira berada di kamarnya sedang membaca buku yang dia pinjam dari perpustakaan sekolahnya.
Diah sibuk dengan cucian piringnya di wastafel dan tak beberapa lama kemudian dia pergi ke kamar dan segera mandi. Diah masih ingin bersih-bersih di dapurnya baru itu dia akan tidur di kamar.
Sekarang sudah pukul 10 malam, Diah masuk ke kamar anaknya. Dia melihat Aira memeluk buku di atas tempat tidurnya. Diah menghampiri dan Aira dan melihat buku apa itu sebenarnya, dan mengapa Aira membacanya.
Sebuah impian seorang anak yang terwujud, itu yang tertulis di sampul buku itu. Lalu Diah merapikan posisi tidur Aira dan menyelimutinya, setelah itu buku itu dibukanya lembar demi lembar. Melihat apa yang ada di dalamnya, begitu mengejutkan Diah saat membaca kata-kata yang ada di dalamnya.
Ternyata Aira mendapat semangat dan kegigihan dari buku tersebut, impiannya ada disana dan dengan buku itu dia ingin segera mencapai impian itu. Sungguh Aira anak yang hebat, buku itu memberikan dia pandangan luas di luar sana, dan membukakan mata hati Diah saat itu.
Didalam buku itu ada secarik kertas yang tertulis dan itu tulisan Aira.
...Seluruh anak-anak di dunia ini bisa mencapai impian tak terkecuali aku yang besar harapan ku untuk bisa membahagiakan seluruh anak di dunia ini yang tak memiliki keluarga utuh....
...Karena itu pernah aku rasakan, dan begitu berat bila harus di ingat....
...Tapi kali ini aku sudah lebih bersemangat karena sebuah keluarga kecil sudah bersama kembali utuh seperti dulu....
...Jangan menyerah bagi kalian yang tak memiliki keluarga, tunjukkan bahwa kalian bisa walau menciptakan keluarga sendiri diluar sana untuk meraih mimpi dan impian....
Diah menangis membacanya, ternyata kertas itu sengaja disimpannya di dalam buku itu. Agar siap pun yang membaca buku itu akan menemukan tulisan penyemangat untuk dirinya sendiri nanti.
"Aira anak ku sayang.., maafkan mama yang sudah membuat goresan luka di hati mu dahulu."
__ADS_1
"Mama akan sebisa mungkin tak akan mengulanginya kembali dan harus mengorbankan perasaan seorang anak seperti diri mu." ucap Diah lalu mencium dahi Aira yang sedang tidur pulas itu.
Buku itu diletakkan Diah di atas meja kecil di sampingnya, dan Diah pun keluar dari kamar Aira saat itu sambil masih menatap anaknya. Lampu pun di padamkan dan pintu ditutupnya perlahan, hatinya masih merasa bersalah dan terpukul dengan tulisan dari anaknya itu. Kakinya bahkan tak kuat untuk berdiri, akhirnya Diah terduduk dilantai di depan pintu kamar anaknya malam itu.