Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 46. Ternyata


__ADS_3

🌟 Sudah seminggu Bima dan keluarga kecilnya tinggal di rumah sewa baru mereka. Hidup mereka jauh lebih bahagia, dan Bima juga lebih tenang pikirannya saat bisa fokus ke keluarga kecilnya.


Aira juga lebih senang karena ada temannya dirumah dan tak kesepian lagi. Diah semakin lebih semangat dan tak terlihat lelah sekali di wajahnya.


Saat Bima pulang kerumah, Diah dan Aira menyambutnya dengan senyuman yang ceria. Dan rumah sudah rapi, bersih serta harum aromanya.


" Sudah pulang mas? mau teh atau kopi mas?" tanya Diah kepada suaminya.


" Mas apa saja boleh kok, air putih juga tak apa - apa." jawab Bima yang capek pulang dari kerjanya.


Diah lalu membuatkan teh untuk suaminya yang sedang duduk di ruang tamu dan memainkan ponselnya saat itu.


Sedangkan Aira melihat dan naik ke punggung ayahnya dan bermain - main disana.


" Aira ayah sedang lelah, duduk saja disana." kata Aira yang langsung berhenti dan hanya duduk memakan camilan yang dari tadi belum habis juga.


" Ini tehnya mas, diminum dulu." kata Diah.


" Oh iya mas, kamu ada mampir ke rumah ibu tadi gak?" tanya Diah yang terpikir ibu mertuanya.


" Mas gak ada kesana, sudahlah biarkan saja dulu ibu begitu. Lagian biar ibu bisa merasakan mana yang benar - benar tulus sayang dan mana yang tak benar sayang memberi perhatian." ucap Bima yang masih bermain dengan ponselnya.


" Mas mandi dulu deh, sudah mau maghrib. Nanti siap Maghrib kita makan malam bersama - sama disini."Diah berbicara pada Bima suaminya.


"Hah..." Bima menghela nafasnya.


Diah tersenyum dan mencubit janggut tipisnya Bima seketika.


Diah menyiapkan semua hidangannya di meja kecil di bawah lantai. Mereka lebih suka duduk lesehan makan bersama.


Lalu terdengar suara adzan bergema saat Bima selesai mandi, dan mereka menunaikan ibadah bersama berjamaah. Diah berdoa saat selesai, dia menangis dengan penuh harapan.


" Aku menghadap pada mu ya Allah.., dengan penuh harapan dan sujud syukurku kepada mu. Sudah kau ketuk hati dan pikiran suami hamba untuk hidup mandiri tanpa aku minta lagi. Kali ini limpahkanlah rahmad dan rezeki dalam hidup kemandirian kami ini. Selalu beri kesehatan kepada suami dan anak hamba, serta kedua orang tua ku dan kedua mertua ku. Amiin...🤲


Diah meneteskan air matanya, dan sedikit terdengar isak tangisnya.


Namun cepat - cepat menghapus air matanya, dia tak ingin Aira tahu kalau dia sedang menangis.

__ADS_1


Diah dan Aira bersalaman kepada Bima, dan Diah segera pergi menyiapkan minum untuk makan mereka.


Aira sudah sangat lapar dan mereka makan bersama, tak berapa lama duduk di ruang tamu Aira tertidur di samping Diah malam itu.


Hari sudah malam hujan tiba - tiba turun dengan sangat derasnya, Bima, Diah dan Aira pun masuk ke dalam kamarnya.


Malam itu mereka tidur dengan cuaca sangat dingin.


***


Lastri masih terus saja ingin masuk ke dalam rumah itu, sementara Vera tak mengizinkannya tinggal disana.


Rumah itu memang milik orang tuanya, tapi yang membangun dan menjadi cantik itu adalah Vera saat itu.


Dengan hasil kerja kerasnya saat itu menabung dan membangun rumah orang tuanya agar terlihat lebih baik lagi. Vera kembali ke Jakarta dan Bekerja kembali, sementara Lastri meyakinkan bapaknya agar dia bisa masuk kerumah itu.


Akhirnya Lastri pun masuk kembali ke rumah itu, sebenarnya Lastri punya tujuan dalam hal itu.


Surat rumah itu ternyata atas namanya di buat oleh bapaknya ketika pertama kali membelinya.


Bapaknya terlalu senang saat bisa membeli tanah dan masih mempunyai anak satu yaitu Lastri. Maka tanpa berpikir panjang bapaknya menamakan surat tanah itu Lastri wandira saat itu juga.


Diah pertama kali tahu saat Vera surat tersebut kepadanya, dan tanpa sengaja membaca surat itu dan dia mengerti mengapa dalam keluarga itu Lastri terlalu licik dan serakah.


Karena dia takut pembagian harta dan rumah itu jatuh lebih banyak ke Bima anak laki - laki satu satunya dalam keluarga mereka.


Vera yang di Jakarta tak tahu akan hal itu, Lastri sudah masuk kerumah dan menempatinya bersama anak - anak dan suaminya.


Suami Lastri orangnya terlihat pendiam, begitu juga anak - anaknya. Namun tak tahu kenapa dengan sifat Lastri begitu suaminya masih diam juga.


Hidup Lastri penuh dengan teka - teki sekali bila di pikir - pikir.


Dan Lastri satu yang sangat iri dengan Diah, mempunyai anak perempuan. Sedangkan Lastri anaknya sudah 4 laki - laki semuanya, dia masih ingin hamil lagi mencari anak perempuan seperti yang dia inginkan.


🗓️ Flash back


Pernah suatu hari Diah dan Bima membawa sebuah buah tangan untuk anak Lastri yang baru saja lahir saat itu. Padahal sebelum lahir sudah syukuran bahwasannya anaknya perempuan saat di USG di rumah sakit xxx.

__ADS_1


Lastri membuat syukuran di rumah ibunya saat berusia 7 bulan kandungannya. Namun ternyata yang lahir berjenis kelamin laki - laki lagi, dan dia mulai kesal saat itu.


Dan malam itu pun Diah dan Bima serta Aira datang ke rumahnya Lastri.


" Assalamualaikum..." ucap Diah dari depan pintu rumah Lastri.


" Waalaikumsalam... masuk Aira..." ucapnya ramah.


Namun Diah tak percaya akan kebaikan dan ke ramahnya malam itu dalam menyambut.


Aira pun masuk dan disusul oleh Bima dan Diah. Aira lalu memberikan bingkisan tersebut untuk anaknya Lastri.


Dan Lastri pun menerimanya, dengan ramah kepada Aira yang mengulurkan bingkisan tersebut.


" Terima kasih Aira..., di bawakan sesuatu untuk dedek kecil ya..." kata Lastri.


Bima duduk dan melihat ponselnya, sementara Diah mencoba beramah tamah dengan Lastri mengajaknya ngobrol.


Diah bertanya tentang anaknya yang baru lahir itu, dan bagaimana proses bersalin dan dimana melahirkannya.


Awalnya Lastri menanggapi dengan baik, tapi lama kelamaan keluarlah kata - kata yang tak enak didengar dari mulutnya ketik Diah mau pulang saat itu.


Saat mau pulang...


Bima sudah berpamitan duluan dan menunggu di luar rumah di atas motornya. Saat itu Diah menemani Aira yang kebelet mau ke kamar mandi, setelah selesai Diah dan Aira bersalaman mau pulang kerumahnya.


" Adik..., kami pulang dulu ya.." kata Aira yang memang suka dengan anak kecil.


" Kak, pulang ya kak. Cepat sembuh dan sehat terus ya..." ucap Diah mendoakan.


Namun Lastri berkata sesuatu saat bersalaman ke Aira anak mereka.


" Aira gak usah takut, Aira masih cucu kesayangan kakek sama nenek kok dirumah sana." ucapnya mengejek ke Diah adik iparnya.


Diah sedikit terkejut dan dengan cepat menjawab dan membalas ucapan itu.


" Enggaklah..., semuanya sama saja kok, gak ada yang di beda - bedakan." ucapnya Diah lalu langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Lastri sedikit aneh, orang baik salah saja samanya, orang jahat lebih salah lagi menurutnya.


__ADS_2