
Monik sekarang sudah hamil 8 bulan masuk 9 bulan dan sebentar lagi akan melahirkan. Namun dia tak ada membuat sungkeman ke ibu dan mama mertuanya dan meminta doa akan semua persalinannya lancar.
Dia tak percaya dengan yang begitu-begitu katanya, dan dengan pedenya dia acuh tak acuh sama mama mertuanya. Sedangkan ibunya masih koma di rumah sakit, dan bapaknya serta Vera yang mengurus ibunya secara bergantian.
Rumah sudah rapi dan cantik, dan sudah selesai di bangun serta renovasi kembali. Monik meminta Vera untuk mengurusnya nanti saat melahirkan, sedangkan mama mertuanya dan ibunya tak bisa mengurusnya saat ini.
Lagian Monik juga gak mau kalau mamanya Damar mengurusinya, menurut Monik mamanya terlalu cerewet dan suka ngatur. Saat itu Monik tak masak makan siang dan tak memperdulikan mamanya Damar yang sedang ada di rumahnya.
Lalu Monik menelpon Damar suaminya untuk membelikan makanan dan lauk mereka dirumah.
"Mas, nanti kamu pulang bawalah makanan. Mama kamu ada dirumah nih, orang lagi begini bukan bawa makanan gitu malah menanyakan makan siang ke aku. Dah tahu aku lagi begini bagaimana mau masak coba." ujar Monik yang kesal dengan mamanya Damar.
" Iya sayang, jangan marah-marah terus. Ingat kandungan kamu, dan istirahat saja jangan mikir yang lain-lain ya..?" kata Damar kepada istrinya.
Tok, tok, tok...
"Monik.., Monik...
"Monik, mama mau..," terhenti saat Monik membuka pintu kamarnya.
"Mau apa ma?! Mama kalau mau apa-apa cari sajalah sendiri. Monik tak bisa melayaninya, dan lagi kalau mau makan nanti ya ma. Tunggu mas Damar pulang ke rumah nanti biar di belikan." ucap Monik yang ketus ke mertuanya.
Monik selalu mengeluh dengan perutnya yang selalu merasa tak enak dan juga sering muntah-muntah yang tak tahu kapan saja itu. Kehamilannya membuat dia banyak mengeluh dan juga menjadi malas untuk melakukan apa pun itu.
Monik tak pernah memasak dan juga membereskan rumahnya, dia menyuruh orang untuk membereskan dan juga pakaiannya selalu di laundry.
Suaminya pun tak bisa berbuat apa-apa selain hanya ikuti saja kemauannya Monik saat itu yang tengah hamil.
Damar juga tak ingin istri dan anaknya kenapa-kenapa bila melakukan sesuatu. Damar sangat memanjakan Monik, akan tetapi Monik tak pernah menghormati mama mertuanya.
Monik selalu tak suka mama mertuanya datang kerumahnya, dan selalu sibuk minta uang dengan berbagai alasan.
Sedangkan Damar kesal dan kecewa sama mamanya karena ingin menikah lagi dan pergi bersama pria lain.
Yang paling Damar sesali dan kecewakan itu rumah peninggalan papanya ingin di jual dan uangnya ingin untuk hidup mama dan suami barunya.
Pernikahan mamanya tak di ketahui Damar awalnya, bahkan Damar baru mengetahuinya saat mereka sudah menikah di KUA dan pulang dengan status suami dan istri. Adik Damar juga tak suka pada papa tirinya, tapi mau bagaimana dia tak mungkin keluar dari rumah itu dan hidup dengan abangnya.
__ADS_1
Damar pun pulang siang itu dari kantornya, dan membawakan beberapa makanan dan lauk untuk makan siang dan malam mereka.
Siang itu mamanya Damar tidur di kamar sebelah dan dia menggigil seperti orang kedinginan.
"Sayang dimana mama? Biar makan siang dulu." ucap Damar.
"Ada di kamar sebelah mau tidur tadi katanya." ujar Monik yang tak perduli.
Lalu Damar pun pergi ke kamar itu, dan mengetuk pintunya.
Tok...
Tok...
"Mama..., ma...?"
"Makan siang dulu yuk ma, Damar sudah siapkan makanannya." ucap Damar yang masih menunggu jawaban.
Namun Damar tak mendapat tanggapan dari dalam kamar itu, Damar pun mencoba membuka pintunya karena mendengar suara menggigilnya mama Damar dari dalam.
"Mama kenapa ma? Mama?! Bangun ma...! Bangun..!" Damar tak bisa menyadarkan mamanya.
Lalu Damar cepat keluar rumahnya dan pergi ke rumah tetangganya yang memang seorang dokter.
Tok...
Tok...
"Permisi bu.., bu dokter..., permisi...," Damar memanggil dari luar pagar yang dikunci.
"Iya, oh kamu Damar ada apa?" tanya dokter itu.
"Bu, tolong mama saya yang sedang menggigil namun tak sadarkan diri."ucap Damar dengan paniknya.
"Oh, baiklah. Saya akan kesana dan mengambil alat-alat saya dulu di dalam." dokter Kamila pun segera masuk dan mengambil dan membawa tasnya yang berisi peralatan.
Damar berlari lagi pulang kerumahnya, dan melihat lagi keadaan mamanya di dalam kamar.
__ADS_1
Setelah itu Damar mengambil air hangat untuk mengompres mamanya karena mamanya sedikit demam.
Dokter Kamila pun datang dan segera memeriksa kondisi mamanya Damar dengan stetoskopnya dan memeriksa yang lainnya juga. Damar terus mengompresnya dengan air hangat di dahinya. Dokter Kamila memberikan minyak angin di hidung mamanya Damar dan menggosok-gosok tangannya agar hangat terus.
Tak beberapa lama kemudian mamanya Damar pun terbangun dan sadar. Damar pun sedikit lega karena mamanya sudah membuka matanya.
"Damar tolong ambilkan sendok, agar mama kamu minum obat lambung dulu."
"Mama mu sepertinya tak sarapan dan makan siang sudah terlambat."
"Jadi dia menggigil dan demam karena sudah sangat lama di tahannya." ujar dokter itu.
"Damar beri makan mama kamu dan berikan obat ini setelah makan. Dan obat lambungnya sebelum makan ya Damar." ucap bu Kamila.
"Baiklah bu Kamila, saya ucapkan terima kasih sekali lagi." ucap Damar sambil mengantar sampai ke depan pintu.
Damar kembali masuk dan mengambilkan makan siang untuk mamanya. Dan Damar pun menyuapinya dengan perlahan, sedangkan Monik masih tiduran di dalam kamarnya.
Damar pun kesal dengan papa tirinya yang tidak merawat mamanya yang sedang sakit. Bahkan mamanya harus pergi sendirian dalam keadaan sakit.
Sementara adiknya Damar kerja dan tak bisa libur begitu saja.
Damar lalu menyuapkan obat dan menyuruh mamanya minum agar bisa istirahat kembali. Mama mertuanya Monik baru menyadari sifatnya Monik
yang acuh tak acuh kepadanya.
Padahal tadi mama mertuanya hanya ingin menanyakan obat asam lambung kepada Monik, namun Monik sudah memotong mamanya bicara dan tak mendengarkannya dahulu.
Jadi mamanya itu terdiam mengambil bantal dan tiduran di kamar sebelah untuk menahan rasa sakitnya. Karena kehadiran mamanya tak di inginkan oleh Monik, jadi dia tak mau menghiraukan dengan alasan perutnya dan kehamilannya.
Monik akhirnya keluar kamar untuk mengambil makan siangnya, dia tetap tak menghiraukan mertuanya dan tidur lagi setelah selesai makan.
Mamanya Damar pun istirahat dan tidur kembali, tapi sebelum tidur 2mamanya berpesan pada Damar untuk menelpon adiknya dan segera menjemput mamanya di rumah Damar.
Saat Damar ingin mengantar dan mencegah jangan pulang dulu, mamanya tak mau. Bersih keras untuk adiknya suruh datang dan menjemput dirinya hari itu juga.
Mamanya tak ingin di rumah Damar lagi karena sikap Monik yang tak marah olehnya.
__ADS_1