Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 47. 2 tahun kemudian


__ADS_3

Aira sekarang sudah kelas 2 sekolah dasar, dan dia bersekolah di tempat Mutiara bersekolah juga.


Mereka setiap hari selalu pergi bersama - sama ke sekolahnya dengan diantar Sania sekalian mengantar anaknya.


Kehidupan mereka sekarang sangat bahagia sekali, Bima semakin mesra dengan Diah setiap hari.


" Mas, ini bekal kamu, nanti cepatlah pulang ya mas. Aku selalu merindukan kamu bila kamu sudah tak dirumah." ucapnya menggoda Bima suaminya.


Bima tersenyum dan mencubit hidung istrinya yang pesek itu. Bima pun pergi kerja dengan motornya dengan semangat pagi itu.


Lalu tak beberapa lama Sania datang mampir setelah mengantar anak - anaknya.


" Tin, tin..." Sania menekan klaksonnya.


" Oh kau rupanya Sania. Ada apa nih?" tanya Diah.


" Gak ada mbak, cuma mau mampir saja. Malas aku dirumah sendirian." ucapnya sambil turun dari motornya.


" Oh.. masuklah memang sudah selesai pekerjaan mu? sudah masak kah kamu?" tanya Diah.


" Ah, nanti sajalah itu di kerjakan. Lagian lakik gak dirumah juga kok. Kalau anak - anak gampang itu." ucapnya Sania sepele.


" Hem.." terserah kamu saja deh." katanya lagi.


Diah membereskan rumahnya dan mencuci pakaiannya dengan mesin cuci yang dulu di belinya.


Sania tiduran di lantai beralas karpet di rumah Diah sambil memainkan ponselnya.


Sampai siang Sania berada di rumahnya Diah, lalu jam 12 dia pergi menjemput anak - anak itu di sekolahan. Dan memberhentikan Aira di depan rumahnya Diah.


" Da kaka Aira..., nanti sore kita main lagi ya..?" ucap Mutiara kepada Aira.


" Iya Mutiara..., da dah..." Aira melambaikan tangannya.


Sania pun melanjutkan perjalanannya ke rumahnya untuk segera pulang dan memasak serta yang lainnya.


Sania selalu begitu setiap hari, saat pagi hari dia malas dirumah sendirian, dan takut di dalam rumahnya.


Dia selalu menunggu anak - anak di sekolah atau dia ke tempat temannya duduk di warung temannya.


Aira yang sudah pulang...


" Assalamualaikum... mama, Aira sudah pulang." ucap Aira.


" Wa'alaikumsalam... Aira sudah pulang..? Sama siapa pulangnya?" tanya Diah.


" Sama bunda Sania ma.." jawabnya.


" Lalu dimana bundanya? kok gak ikutan masuk?" tanya Diah lagi.

__ADS_1


" Bunda langsung pulang sama Mutiara dan abangnya. Katanya nanti sore mau main lagi." ucap Aira yang polosnya.


" Ya sudah kalau begitu ganti dulu bajunya dan kita akan makan siang yuk." Diah mengajari anaknya disiplin dan mandiri.


Aira pun mengerjakan semua yang diucapkan oleh mamanya itu. Mencuci tangannya dan makan bersama di ruang tv sambil menonton acara kesukaannya Aira.


Siang itu setelah selesai makan siang, Diah mengajari Aira cara menyelesaikan PR nya dari sekolah.


Lalu tidur siang sebentar saja selama 2 jam untuk istirahat dari sekolahnya tadi yang sudah lelah.


Diah pun juga tertidur karena sudah lelah juga saat itu.


" Tok, tok...!" suara ketukan pintu rumah Diah.


Diah terbangun dan melihat jam dinding ternyata sudah pukul 16:30 Saat itu.


" Astagfirullah sudah sore, aku tertidur terlalu lama." batinnya.


" Tok, tok, tok...! permisi..?!" terdengar suara itu lagi.


" Siapa ya yang mengetuk pintu? apa Sania yang datang?" pikirnya Diah.


Diah pun langsung berdiri fan berjalan menghampiri pintu rumahnya. Lalu membukanya dan menyapa orang tersebut.


" Iya, bapak cari siapa ya?" tanya Diah.


Dia seorang pengantar pos yang sedang mengantarkan sesuatu ke rumah Bima.


" Iya pak betul ini rumah Bima Aryaguna. Ada apa pak ya?" Diah bertanya lagi.


" Ini ada surat untuk pak Bima. Dan nanti tolong ibu sampaikan, ibu siapanya ya?" tanya pak pos itu lagi.


" Saya istrinya pak, ya nanti saya akan berikan ke suami saya setelah dia pulang." kata Diah saat itu.


" Tolong tanda tangani ini ya bu? dan terima kasih." kata pak pos itu lagi.


" Terima kasih kembali pak..." ucap Diah membalas ucapannya.


Diah melihat amplop coklat itu, dan tak ada tulisan apa pun selain alamat dan nama Bima suaminya disana.


Diah pun tak menaruh curiga, dia meletakkan amplop itu di kamarnya di atas meja kecil.


Diah lalu membangunkan anaknya dan menyuruhnya mandi karena sudah sore.


Dan sebentar lagi Bima akan pulang dari tempat kerjanya.


Bima sudah pulang...


Saat mau tidur malam, Diah baru teringat akan amplop itu yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


" Mas, tadi ada pos yang mengantarkan surat ke rumah, dan surat itu untuk kamu katanya." ucap Diah dan pergi mengambil amplop coklat itu.


Sekarang jam 10 malam dan Aira sudah tidur di kamarnya saat ini. Amplop itu di berikan, namun belum di buka Bima saat itu juga.


Saat Bima ingin membukanya Diah sudah masuk kamar dan tertidur di samping Aira anaknya.


Bima menyobek amplop itu dan mengambil kertas di dalamnya.


Lalu membaca apa yang ada di dalam amplop itu. Seketika Bima terkejut dan ingat kembali kejadian dan perjanjian waktu itu.


" Hah..!"


" Ini kan isi perjanjian itu, dan sekarang sudah 2 tahun akan berlalu. Tahun depan Tiara akan keluar dari penjara, dan aku harus menepati janji itu. Sepertinya aku harus bertemu dengan Tiara secepatnya." kata Bima dalam hatinya.


" Surat ini jangan sampai Diah mengetahuinya, kalau aku sudah berbuat sesuatu yang mengkhianati pernikahan kami." batinnya.


Bima langsung melipat dan menyimpan surat itu di dalam jok motornya, agar tak bisa di temukan oleh Diah istrinya.


Bima merasa gugup dan berkeringat dingin bila mengingat itu kembali.


Karena beberapa tahun sudah terlewatkan Bima sedikit lupa, dan baru saja hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Kini sudah hancur karena surat perjanjian itu yang sebentar lagi harus segera di tepati.


" Mas, belum tidur juga?" Diah bertanya pada suaminya.


Diah menghampiri suaminya yang masih di ruang tamu, lalu Diah tiduran di kaki Bima. Tiba - tiba dia bertanya tentang amplop itu kepada Bima.


" Mas, sudah kamu baca surat itu tadi mas?" tanya Diah yang masih mengingat perihal amplop tersebut.


" Oh, i...i..itu surat dari tempat mas kemarin mau lamar kerja di tempat mereka tapi gak keterima, mereka sudah mendapatkan orang yang memang sudah ahli." ucap Bima menutupi surat perjanjian itu.


Diah pun tak bertanya lagi tentang hal itu, dia lebih memilih tiduran di kaki suaminya dan dapat di belai oleh suaminya Bima.


Tangan Diah mengambil tangannya Bima dan diletakkan ke pipinya, Bima pun hanya diam saja dan membelai kepala Diah sambil berpikir dalam diamnya.


" Mas! mas Bima?!"


" Mas!


" Mas Bima...!" teriak Diah yang kesal memanggilnya.


" Ah, iya sayang." Bima tersadar dari lamunannya.


" Ayo kita tidur, Diah sudah ngantuk banget." Diah menarik Bima ke kamar mereka.


Bima pun menuruti ajakan Diah yang menariknya tidur di dalam kamar.


Tapi Bima tak bisa tidur karena masih memikirkan surat itu dan perjanjiannya pada Tiara.


Sedangkan Diah sudah tidur duluan lagi, karena sudah mengantuk sekali malam itu.

__ADS_1


__ADS_2