Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 107. Terkena Stroke


__ADS_3

Akhirnya pak Daud dan Bima berdiskusi dan membahas tentang perkembangan hotel, Bagus hanya diam dan mencatatnya. Bagus sekarang menjadi pengawal pak Daud saat kemana-mana. Dan dia juga sebagai juru tulis menggantikan sekretaris dari pak Daud sendiri.


Dengan semua segara perincian yang dijelaskan oleh Bima, pak Daud pun setuju akan menginvestasikan uangnya ke hotel Dito saat ini juga.


Dan akan mentransfer uangnya besok pagi setelah surat kerjasamanya di kirim Bima ke kantornya.


Dan setelah Dito menandatanganinya serta bukti stempel perusahaan mereka. Bima dan pak Daud pun berjabat tangan yang menandakan setujunya kerjasama itu, dan Bima juga berjabat tangan dengan pak Bagus mantan atasannya.


"Baiklah pak Bima kami permisi dulu, dan saya ingin istirahat sebentar sebelum saya pergi dari sini." ujar pak Daud.


Bima pun mempersilahkannya untuk kembali lagi ke kamar hotelnya yang ada di lantai 10 bersama Bagus pengawalnya. Bima tersenyum kepada Bagus yang sudah kalah malu dihadapan Bima saat itu, yang berkata besar dan meremehkan Bima.


Ternyata Bima sekarang sudah sukses dengan karirnya dan semua berkat kerja kerasnya selama ini dan juga kesabarannya.


Bima lalu menelpon Dito segera dan mengirimkan berkas yang dia janjikan tadi sehabis makan siang.


"Bagaimana Bim? berjalan lancar kah semuanya?" tanya Dito.


"Semuanya lancar kok pak, dan syukurnya pak Daud mau menginvestasikan uangnya ke hotel kita." Bima menjelaskan dengan sangat senang.


"Kamu semakin hari teman ku ini semakin mahir ya? wah, bisa kalah pamor nanti saya nih." ucap Dito yang memuji Bima.


" Ah, pak Dito bisa saja. Saya tak bisa saingi bapak lah, orang belum punya perusahaan. Nanti kalau sudah punya perusahaan gak tahu deh bagaimana. Hahahaha...," Bima tertawa menggoda temannya yang sebenarnya atasannya.


"Wah bener-bener ngajak saingan ini mah." ucap Dito yang sedikit kesal.


Papa Dito sangat suka melihat pertemanan mereka, dan Bima sangat membantu sekali memajukan perusahaan. Mereka berdua adalah partner bisnis yang sangat cocok sekali dalam bekerja.


***


Kesehatan papa Dito yang drop...

__ADS_1


Pagi itu papanya Dito seperti biasa berolahraga di taman belakang rumahnya. Namun tiba-tiba kepalanya pusing dan jatuh ke tanah, papanya tak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa berteriak untuk meminta tolong kepada orang yang ada dirumah


"Tolong! Tolong saya...!" teriaknya dengan sekuat tenaganya.


Lalu art datang dengan cepat dan meminta tolong pada satpam untuk mengangkat papanya Dito untuk diletakkan di atas sofa.


"Mbak, tolong bawa saya kerumah sakit segera. Karena saya tidak bisa bergerak sama sekali." ucap papanya Dito.


Dengan cepat art menelpon ambulance untuk datang kerumah segera. Dan satpam itu menelpon Dito memberi kabar tentang papanya yang jatuh dan dibawa ke rumah sakit.


Dito yang mendengarkannya itu langsung bergerak mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi melihat keadaan papanya.


Mobil Dito melaju kencang, begitu juga dengan mobil ambulance tersebut.


Wii...u.., Wii...u.., Wii...u...


Ambulance menerjang semua kendaraan yang ada di depan setelah semua meminggir ke tepi jalan.


Tekanan darahnya tinggi, dan kulit wajahnya juga sudah jatuh karena ototnya melunak. Suster mengatakan bahwa papanya Dito terkena stroke saat ini, dan harus segera di tangani dengan cepat.


Mereka mendorong dan membawa papanya Dito masuk ke dalam ruangan untuk segera di tangani oleh dokter segera sebelum semuanya menjadi sangat fatal.


Dito sampai di depan rumah sakit dan dia masuk ke dalam dengan berlari mencari papanya. Lalu dia bertanya pada resepsionis keberadaan papanya saat ini, suster jaga itu pun memberi tahukan keberadaan papanya Dito dimana.


"Mbok, dimana papa?" Dito panik dan bertanya.


"Tuan masih ada di dalam dan masih ditangani oleh dokter den..," jawab mbok art mereka.


"Kenapa papa bisa sampai jatuh mbok?!" Dito sedikit marah.


Namun dia sadar itu bukanlah kesalahan dari art nya saat itu, dan dia menyesali tak dapat menjaga papanya dengan baik.

__ADS_1


Art nya menceritakan peristiwanya, dan semua seperti biasa yang dilakukan papanya setiap hari. Setelah itu entah apa sebabnya papanya sudah berada di tanah tak bisa bergerak.


Mbok itu menceritakannya sambil menangis dan sedih melihat majikannya sendiri. Dito juga mengerti dan memeluk art nya itu, mbok art nya itu sudah lama bekerja dengan keluarga mereka. Jadi Dito sudah sangat dekat sekali padanya, apa lagi dulu mbok adalah pengasuh Dito sewaktu masih kecil.


Saat mamanya meninggal Dito masih kecil dan pengasuhnya itu yang selalu ada disisinya Dito. Sedangkan papanya sibuk kerja dan membangun serta mengembangkan perusahaan milik keluarga mereka agar nanti dimasa tua sudah bisa hanya menikmatinya saja.


Kini Dito lah yang melanjutkan perusahaan turun temurun itu sudah berdiri lama dari masih di kelola oleh opanya Dito saat itu.


***


2 jam kemudian...


Dokter keluar dari ruangan itu, suster mendorong pasien ke kamar rawat inap. Dito dan mbok mengikuti para suster dan dokter itu berjalan, saat semua masuk ke dalam kamar rawat, Dito dan dokter berdiri di luar ruangan itu. Dito ingin tahu kondisi papanya saat ini, dan bertanya pada dokter apakah semua bisa normal kembali.


"Dok, bagaimana dengan papa saya? Apakah sudah sangat fatal dok?" Dito terus saja bertanya.


"Begini pak, papa anda sekarang sudah kami tangani dengan cepat. Dan syukurnya beliau cepat di bawa kerumah sakit dan ditangani. Jadi tidak terlalu lama nanti bisa sembuh kembali, tapi penyembuhan secara bertahap dan perlahan." dokter menjelaskan.


"Syukurlah kalau begitu dokter, saya sedikit cemas dan tak tahu harus bagaimana." ujar Dito yang sangat menyayangi papanya itu.


Setelah selesai berbicara pada Dito dokter pun permisi karena ada pekerjaan yang lain lagi. Dan Dito pun mempersilahkannya, lalu dia berjalan masuk ke kamar dimana papanya di rawat.


"Mbok, kita bergantian saja jaga papa. Aku akan jaga malam sampai pagi, lalu mbok jaga pagi sampai sore saat saya sudah pulang dari kantor."


"Dan sekarang saya harus kembali lagi ke kantor karena ada dokumen yang harus ditanda tangani." ucap Dito sembari mengecup papanya.


"Papa dengar kata dokter dan selalu istirahat jangan banyak berpikir yang bisa membuat papa sakit kepala ya pa..?"


"Nanti sore Dito yang akan temani papa disini, dan kita akan habiskan malam bersama-sama disini." ucap Dito lagi dan berjalan keluar ruangan itu.


Dito segera masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin serta memutar setirnya dan melaju di jalan raya. Dengan kecepatan Dito sampai ke kantornya hanya dalam 10 menit saja dalam keadaan macet tadi sebenarnya. Dito sangat ingin cepat sampai dan menyelesaikan semuanya, agar bisa cepat pulang dan temani papanya di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2