
...SURAT PERJANJIAN BERSAMA...
......Dengan adanya surat ini perjanjian ini untuk mengingatkan bahwa :......
...Tiara Larasati...
...dan...
...Bima Aryaguna...
...Sepakat untuk menandatanganinya dalam keadaan sehat dan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun sama sekali. Tiara Larasati akan membantu Bima Aryaguna dengan syarat pak Bima akan memenuhi permintaan dari ibu Tiara. Demikian surat ini disampaikan dan di setujui oleh kedua belah pihak....
...Tanda tangan...
...Bima Aryaguna dan Tiara Larasati...
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Masih di kamar Tiara...
.
Bima tak menyangka Tiara berniat tak baik pada keluarganya. Dan tiara sudah mengatakan apa keinginannya kepada Bima. Dan surat itu nanti akan diperbaharui dan di pecah menjadi dua, untuk bisa mereka miliki satu persatu.
Bima masih ragu dan berpikir lagi atas permintaan Tiara tersebut kepadanya.
" Mas.., jangan berpikir terlalu lama. Ingat istri mu Diah tidak bisa menunggu terlalu lama dengan kondisinya itu." ucap Tiara.
Lalu Bima pun terpaksa menyetujuinya karena demi ke baikan istrinya itu.
Bima cepat memintanya untuk mendonorkan darahnya itu, agar Diah istrinya terselamatkan.
Tiara pun segera mendonorkan darahnya itu untuk Diah istrinya Bima.
Sementara Tiara tertawa sangat puas dalam hatinya, setelah 1 jam kemudian Tiara akan balik lagi ke dalam selnya siang itu juga.
" Hari itu akan tiba dan kau Diah tak akan bisa menolaknya dan harus menerima kenyataannya." Tiara berkata dalam hatinya sangat senangnya.
***
Transfusi darah sudah dilakukan...
Diah sudah mendapatkan darah jenis golongan AB itu, dan sekarang dia sudah keluar dari kritisnya.
Namun Diah masih belum sadarkan diri untuk saat ini karena masih lemas kondisinya.
__ADS_1
Bima masih duduk menunggu istrinya di dalam ruangan itu sendirian.
Seluruh keluarga tak ada yang telpon dan datang kesana untuk melihat Diah saat itu.
Bima yang belum makan dari pagi merasa lemas saat sore ini. Jadi Bima tertidur di samping dengan posisi duduk di hadapan Diah.
" Mas Bima..?"
" Mas.." Diah memanggil nama suaminya.
Bima terbangun dari tidurnya karena suara itu, dia langsung mendekat dan memegang tangan istrinya.
" Iya sayang, mas disini sayang." ucap Bima.
" Mas, a...aku ada dimana ini mas?" Diah melihat sekelilingnya.
Diah merasa heran, karena setahunya dia tadi masih ada di rumah. Diah tak tahu apa yang sudah terjadi padanya dan membuat Bima sangat cemas akan dirinya.
" Iya kamu tadi pagi pingsan sayang..., jadi mas membawa kamu ke rumah sakit saat itu juga." Bima menjelaskan.
Diah pun terdiam dan tak bertanya apa - apa lagi. Tangannya masih menggenggam tangan Bima saat itu, dan Diah memperhatikan suaminya saat itu.
" Mas kamu kenapa? Apa kamu belum makan dari tadi?" tanya Diah.
Bima mengangguk menandakan bahwa apa yang ditanya Diah benar adanya.
" Aira di rumah bersama ibu, tadi mas tak membawanya ke rumah sakit karena masih tidur kecapean." Bima menjawab pertanyaan dari Diah.
" Mas, pergilah makan dulu sana." perintah Diah ke suaminya.
Bima pun pamit pergi sebentar untuk membeli makanannya di lantai bawah.
Bima masih terpikir akan perjanjian itu, dia bingung untuk memberi tahukannya kepada Diah.
" Apa yang harus aku katakan pada mu Diah, aku terpaksa melakukan semua itu. Sebenarnya aku tak mau melakukannya tapi..., aku tak punya pilihan lagi selain melakukannya." berkata dalam hatinya.
Bima yang masih menatap Diah dari balik kaca jendela pintu ruangan itu. Diah terlihat memejamkan mata untuk beristirahat di tempat tidurnya.
" Argh! ini semua salah ku, memang salah ku!" Bima menyalahkan dirinya sendiri.
" Maafkan aku Diah..., kau sangat percaya pada ku. Tapi aku yang sudah mengkhianati mu." hiks, hiks..." Bima menangis dan terduduk di kursi depan kamar tempat Diah dirawat.
Bima tertunduk kepalanya dan merasa sedih, tak ada tempat untuk mengadu dan bingung mau cerita ke siapa.
" Kriuk, kriuk..." terdengar suara perut Bima yang sudah sangat kelaparan.
__ADS_1
Bima langsung pergi mencari makanan untuk dirinya, sementara itu Diah masih di kamarnya masih bingung kenapa dia bisa sampai dirawat di rumah sakit kalau hanya pingsan saja.
" Tok, tok, tok, permisi bu.." ucap suster yang ingin masuk untuk mengecek kondisi pasiennya.
" Iya suster, silahkan masuk." ucap Diah mempersilahkan.
" Bu, bagaimana kondisi yang ibu rasakan saat ini bu? apa ada keluhan yang lain?" tanya suster tersebut.
" Suster, saya merasa agak nyeri di bagian bawah perut saya, dan kenapa saya sekarang pakai pembalut ya suster?" tanya Diah yang tak mengerti.
" Iya ibu..., ibu kan habis keguguran, jadi memang seperti itu yang dirasa. Sekarang ibu masih dalam perawatan dan tak kan mungkin langsung berhenti begitu saja." ucap kedua suster tersebut.
" Apa?! aku keguguran? Selama ini aku tak merasa kalau aku hamil atau ada aku sedang mengandung. Tetapi kalau terlambat memang iya. Ya Allah..." ucapnya dalam hati.
" Baiklah ibu kalau tidak ada keluhan yang lain, kami permisi dulu untuk ke kamar pasien yang lain lagi." kedua suster itu pun keluar dari ruangan Diah.
Diah meneteskan air matanya, dia memegang perutnya dan merasa kehilangan. Diah sangat terpukul karena baru mengetahuinya sekarang setelah janinnya sudah tiada.
Bima yang mencari makanan
Bima memesan makanan di warung yang ada di dekat rumah sakit xxx itu. Setelah selesai memesan, dia pun masuk dan duduk di kursi meja makannya. Lalu Bima tak sengaja memperhatikan sesuatu diluar warung makanan itu.
Bima melihat seorang wanita yang bersama anaknya memegang tas besar yang terlihat lusuh. Bima sangat penasaran akan mereka, dan ingin sekali menghampiri dan bertanya kepadanya.
Namun Bima masih belum melakukannya, karena masih mencari tahu sedang apa mereka di depan warung makan di tempat Bima yang sedang makan.
Dilihatnya seorang ibu yang ingin meminta bantuan kepada pelayan warung tapi mereka tak mau membantunya.
Lalu Bima datang menghampiri mereka saat akan meninggalkan warung itu. Pelayan warung itu mengejar Bima karena pesanan makanannya.
" Oh iya pak, tolong di bungkus saja." kata Bima.
Lalu bapak itu pun pergi membungkusnya, dan menyerahkannya ke Bima.
Lalu Bima merogoh saku celananya dan membayar nasi bungkus itu.
" Bu, ini nasi untuk ibu dan anak ibu nanti makan di jalan. Ibu mau kemana?" tanya Bima.
" Kami mau mencari anak saya yang katanya tinggal di kota ini pak, tapi alamat rumah ya saya tak tahu dimana." kata wanita paruh baya itu.
Lalu dia memperlihatkan foto anaknya yang sedang dia cari. Lalu Bima mengetahuinya bahwa itu adalah Tiara yang sekarang sedang ada di penjara.
" Tiara ?! Apa gak salah?!" ucap Bima dalam hatinya.
" Bu, saya pernah melihat wanita ini. Tapi saya tak tahu apakah dia adalah anak ibu atau bukan. Saya akan memberi alamatnya ke ibu dan nanti ibu bisa mengetahuinya." kata Bima kepada ibu dan anaknya itu.
__ADS_1
Lalu Bima memberi alamat yang dia ketahui Tiara sekarang berada dimana.
Ibu dan anaknya itu pun pergi ke alamat tersebut dengan penuh harapan.