Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 101. Perasaan Seorang Anak


__ADS_3

Sepanjang malam Diah tidak tidur di samping papanya. Dia menunggui jasad papanya sampai fajar menyapa dan sepanjang malam dia tak henti menitihkan air matanya.


Pagi ini semua orang tengah sibuk menyiapkan proses pemakaman, dan adiknya Dena sudah tiba di rumah tadi malam. Sania menyiapkan semua yang di butuhkan, dan tetangga semua membantu memasang tenda untuk memandikan papanya mereka nanti.


Para pelayat sudah berdatangan dan papanya akan segera di mandikan pukul 09:00 pagi dini hari. Dan pukul sebelas segera di makamkan segera, mereka tidak ingin memperlama pemrosesannya. Semakin cepat akan semakin lebih baik untuk papa mereka. Diah sudah bisa ikhlas dan menerima, semalam adalah hari terakhir papanya berbicara padanya saat mengepak barang ke dalam koper saat mau pulang ke Bali.


Diah mengerti kenapa papanya berkata seperti itu kemarin, kini sepanjang hidupnya akan mengingat kenangan terakhir itu dalam ingatannya.


Siang itu juga papanya di makamkan dan Diah tidak sanggup melihat papanya harus di timpa tanah dan tidur disana selamanya.


"Ya Allah beri kelapangan pada kubur papa hamba. Pertemukan papa pada istrinya lagi dan ditempatkan surga mu yang indah amin." doa Diah yang ingin papa dan mamanya sangat bahagia disana.


Diah memeluk Bima suaminya ketika masih di pemakaman, dan Aira serta Mutiara dan abangnya berada di rumah bersama mbok art papanya.


Hari ini juga ibu Bima akan kembali ke rumahnya, dan malam ini Bima akan kerumah ibunya nanti.


Diah dan Bima pun kembali ke rumah meninggalkan papanya sendirian di peristirahatannya yang terakhir.


Mereka pun masuk ke mobil dan segera pulang ke rumah, Diah dan Sania juga harus mengurus untuk malam ketiga papanya nanti. Bima juga sudah minta izin akan berangkat besok pagi kembali ke Bali karena memang tugas tidak bisa di tunda.


Ada perjanjian pertemuan antar kerjasama dengan perusahaan paris dan mereka akan datang survei kesana untuk investasi di Bali.


Diah tidak ikut pulang, dia masih di rumah papanya untuk seminggu lagi ke depan. Lalu nanti akan pulang bersama Aira berdua saja, Sania juga memaklumi akan hal itu.


****

__ADS_1


Malamnya Bima ke rumah ibunya dan melihat keadaan ibunya. Bima juga menceritakan kesedihan Diah yang di tinggal papanya saat ini. Jadi Diah tidak ikut datang bersamanya, semua keluarga pun mengerti dengan keadaan Diah. Ibu dan bapaknya Bima pun menitip salam dan belasungkawa atas meninggal papanya Diah dan tidak dapat hadir kesana.


Vera dan anaknya sekarang tinggal di rumah ibunya dan sekarang merawat ibu dan bapaknya disana. Bima juga sekalian berpamitan akan kembali ke Bali lagi besok, Bima hanya sebentar di rumah ibunya. Karena tak enak meninggalkan Diah yang masih bersedih di rumah papanya. Bima pun pergi ke rumah mertuanya lagi, dan menyiapkan barangnya serta yang lainnya lagi.


Tak beberapa lama Bima pergi, Monik datang ke rumah ibunya untuk melihat keadaannya. Namun Monik hanya sebentar saja dia lalu pulang dengan alasan tak bisa duduk lama dan perutnya sakit.


Monik juga dirumah ibunya tidak mau duduk dekat ibunya, atau sekedar memegang tangan ibunya pun dia tidak mau. Vera yang melihatnya juga geram dengan kesombongannya itu, Monik seperti jijik dengan ibunya.


Namun Monik berbicara pada Vera untuk membantunya saat nanti lahiran anaknya. Karena dua Minggu lagi Monik akan lahiran menurut dari pemeriksaan dokter kandungannya.


Monik bukannya meminta restu dan meminta maaf serta doa dari ibunya untuk kelancaran lahirannya nanti. Dia malah seperti tak membutuhkan ibunya saat ini dan seterusnya.


Vera terpaksa menyetujui permintaan Monik kepadanya, dan mengingat Monik adalah adiknya sendiri. Namun Monik merasa bahwa uang yang dia miliki dapat membeli semua orang di muka bumi ini.


****


Bima pun pergi dan terbang dengan pesawatnya, Diah dan Sania juga pulang kembali ke rumah papanya. Rumah terasa sunyi, karena sudah berkurang anggota keluarga mereka.


Tenda masih terpasang sampai malam ke tujuh nanti, Diah membersihkan rumahnya dan merapikan semuanya. Dilihatnya obat-obatan milik papanya berada di atas meja kamarnya.


"Papa.., sekarang minum obatnya dulu ya.. setelah itu papa istirahat, biar papa bisa cepat sembuh." Diah teringat kembali saat dia menjaga papanya dirumah saat itu.


Diah menatap sekeliling kamar itu, tak ada yang berubah disana. Dari sejak dulu dan sekarang, Diah merasa nyaman dan terasa ada kehangatan di kamar itu. Semua masih bisa dirasakannya, dia membayangkan saat masih sekolah bersama mamanya minta di ikatkan rambutnya di tempat tidur itu.


Papa selalu mengeluh karena Diah sudah besar tapi masih ingin di ikatkan rambutnya sama mamanya. Bila mamanya tidak ada papanya yang akan mengikatkan rambutnya pagi itu juga.

__ADS_1


Kenangan manis sederhana Diah bersama mama dan papanya yang tak dapat dia lupakan saat ini membuatnya semakin merindukan mereka berdua.


Diah lalu tidur di kasur itu, dan mengingat kembali, merasakan saat dia tidur dengan mamanya saat papanya pergi ke luar kota. Pelukan mamanya membuat dia langsung tertidur pulas sampai besok paginya.


Dan sekarang itu yang dirasakannya saat merebahkan tubuhnya disana dan Diah tertidur pulas disana.


Sania mencarinya kemana-mana, mendapatinya berada disana. Sania pun tak kuasa melihat Diah yang tidur pulas dengan senyum dalam mimpinya. Akhirnya Sania membiarkan Diah disana dan menutup kembali pintu kamar papa dan mamanya.


Saat itu Sania ingin mengajak makan siang tapi dia tak jadi membangunkan Diah saat itu. Jadi mereka makan siang duluan bersama anak-anak dan Dena adik mereka.


"Kak jadi bagaimana dengan rumah ini nantinya kak?" tanya Dena.


"Kakak jadi pindahkan?" tanyanya lagi.


"Kalau masalah pindah kakak pasti pindah, dan rumah kakak juga mau kakak sewakan saja. Tapi kalau masalah rumah ini..., kakak tidak tahu. karena harus semua pada kesepakatan bersama, dan nanti itu bisa kita bicarakan." ucap Sania.


"Kalau menurut kakak sih biarkan saja rumahnya, kan kalian juga akan pulang kesini. Memang mau kemana lagi kalian tinggal?" celetuk Sania.


"Hanya ini yang kita punya kenangan dari papa."


"Kakak gak kepikiran untuk menjual atau berbuat apa pun." ucap Sania.


"Ya maksud Den bukan di jual kak, kita sewakan atau apalah. Tapi tidak merusak atau menjualnya. lagian kami entah kapan akan pulang kalau papa sudah tiada. Karena pasti akan sangat merindukannya bila berada di rumah ini." ucap Dena adiknya Sania.


Dia menangis dan tak bisa menahan air matanya saat sedang makan bersama di meja makan. Sania pun mengerti dengan apa yang dirasakan Dena saat ini, pasti sangat berat sama seperti Diah yang sekarang dirasakannya.

__ADS_1


__ADS_2