
🏵️ Saat kekasih pergi, hati jadi terasa mati...
Tapi saat dia disisi, kau tak mau menghargai...
Baginya ada kau dan tiada itu tak ada bedanya...
Hatinya sama-sama akan terasa luka juga...
Malam itu Bima pulang ke rumah ibunya, dan dia menekuk mukanya karena sangat merasa sedih.
Lastri yang keluar dari kamar melirik Bima dengan sinis dan tatapan tak sukanya.
Bima langsung duduk di sofa rumah ibunya tanpa mengatakan atau menyapa Lastri sama sekali.
Terlihat ibu keluar dari kamarnya dan Lastri langsung mencegat ibunya yang sedang berjalan.
"Ma, di depan ada Bima. Dia terlihat lesu pasti bertengkar lagi deh mereka. Memang dasar istri yang tak tahu di untung tuh Diah, dan pasti Bima di usir dari rumahnya tuh makanya dia kesini." pekik Lastri yang sok tahu segalanya.
Ibunya Bima terlihat termakan ucapan Lastri yang mencoba mengadu domba ibu dan anak lelakinya. Ibunya pun berjalan menghampiri Bima yang sedang rebahan di sofa ruang tamunya itu, dia terlihat memejamkan matanya dengan di tutupi lengannya yang ke arah atas.
"Bima, kamu kenapa Bima? Kamu baru pulang kerja?" tanya ibunya.
"Ah, ibu...?" ucap Bima.
"Bima lagi gak kerja bu, ibu masak apa bu? Bima makan ya bu sedikit?" ujar Bima yang belum makan malam.
"Makanlah, lihat sendiri ibu masak apa. Kok kamu belum makan? Dari mana kamu rupanya? apa istri kamu gak masak dirumah? apa saja sih kerjanya di rumah?!" ibu malah bertanya dan mengomel gak karuan.
"Bima dari rumah kok, dan kalau Diah.., tadi siang masak kok bu. A... aku hanya ingin makan masakan ibu saja." ujar Bima yang duduk di kursi meja makan.
Lalu Lastri yang sedang ada di dapur menyambung pembicaraan mereka.
"Kau ini suka sekali menutupi dan memuji istri mu itu, bilang saja dia tak masak dan kau di telantarkan. Iya kan?!' Lastri kembali memanasi ibunya.
"Benarkah itu Bima? Istri mu tak melayani mu setiap hari? Dan kau hanya diam saja?!" ibunya berdiri dari sofa ruang tamu dan berjalan ke arahnya.
Sekarang duduk di sebelah Bima yang lagi asik makan malam dengan omelan dari kedua wanita yang tidak tahu apa pun tentang dirinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Bima teringat Diah dan anaknya Aira saat menatap makanannya.
"Apakah mereka sudah makan saat ini ya? Apa aku harus menjemputnya saja di rumah orang tuanya ya?" Bima melamun dan berkata dalam hatinya.
Bima tak tahu bahwa Diah dan Aira tak ada di rumah orang tuanya, Diah sengaja gak pulang kesana karena malu akan pada mereka orang tuanya.
Jadi Diah lebih baik pergi dari kota tersebut bersama anaknya dan hidup sendiri.
"Bu istrinya itu pasti pergi meninggalkannya rumah dan balik ke rumah orang tuanya meninggalkannya." Lastri dari tadi terus saja berbicara.
"Apakah benar begitu Bima?"
"Bima?! Bima?!" ibu memanggilnya dan menyadarkan dari lamunannya.
"Kenapa bu? maaf tadi gak dengarkan ucapan ibu." Bima kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Apa benar dia pergi dari rumah dan meninggalkan kamu begitu saja?!"
"Kamu ini malah diam saja tingkah laku istri kamu begitu?" tanya ibunya lagi.
Lastri masih terus mengoceh memanasi suasana disana, Bima akhirnya kesal dan marah padanya dengan suara nada tinggi.
"Tapi itu semua adalah kesalahan ku yang kau tak tahu permasalahan kami !"
"Sudah cukup kalian menghina dia dan membicarakannya, aku tak mau lagi mendengar ucapan apa pun tentang Diah istri ku dari bibir kau ?!" Bima membuat Lastri yang tak bisa berkata apa-apa lagi.
Plak! plak!" ibu menampar pipi Bima.
"Bima jaga sikap mu terhadap kakak mu! Apa yang dikatakannya itu benar, istri kamu yang sudah tak tahu diri dan tak menghargai suaminya." ibu marah kepada Bima akhirnya.
"Baiklah kalau maunya ibu begitu, asal ibu tahu saja bagaimana kak Lastri yang sudah membuat keluarga kita berantakan seperti ini dan yang mengadu domba adik-adik selama ini. Serta para tetangga tahu keburukan keluarga kita itu darimana kalau bukan dari mulutnya bu..."
"Suatu saat nanti ibu akan tahu siapa yang sungguh menyayangi ibu dan mana yang tidak menginginkan ibu yang sebenarnya." ucap Bima kepada ibunya.
Lastri sangat senang saat ibu dan anak berkelahi di depannya, dan saat ini malah dia yang di bela oleh ibunya itu. Bima tak jadi menghabiskan makanannya, dia meletakkan piringnya itu ke wastafel dan memilih untuk pergi dari rumah ibunya.
Padahal tadinya dia ingin tidur di rumah ibunya malam itu dan bisa melepas stresnya sedikit, namun apa yang terjadi tadi membuatnya enggan tidur disana malam itu. Saat kaki Bima melangkah ingin keluar dari rumah ibunya ponselnya pun berbunyi.
__ADS_1
Tring..., tring..., tring..." ponsel Bima berdering.
Bima melihat ponselnya kira-kira siapa yang menelpon, mana tahu Diah yang menelponnya.
Bima melihat ternyata bapak mertuanya yang menelponnya saat itu.
"Matilah aku ini..." ujarnya dalam hati.
"Hallo? iya pak?" tanya Bima yang sedikit dag, dig, dug jantungnya.
"Bima sekarang ini juga datang ke rumah bapak, ada yang mau bapak tanyakan dan bicarakan kepada mu?!" ucap bapak mertuanya yang sekarang sedang menunggu kedatangan Bima disana.
Bima lalu secepatnya pergi ke rumah orang tuanya Diah saat itu juga, dia terlihat sangat buru-buru sekali memutar motornya kala itu.
Bima menyalakan motornya dan pergi ke rumah orang tua Diah dengan motornya itu.
Bima juga berharap bisa membawa Diah pulang dari rumah orang tuanya malam itu juga. Jantung Bima sangat kencang berdetak, bahkan dia hampir akan menabrak orang di jalan karena tak konsentrasi saat membawa motor itu.
Sit.......!" suara ban motor itu beradu dengan remnya.
"Ah, maaf bang, maafkan saya." ucap Bima yang membuat kesalahan.
"Kalau jalan lihat-lihat lah bang, kalau aku tadi ketabrak bagaimana?!" orang tersebut marah kepada Bima.
"Kamu gak apa-apa mas?" tanya kekasih pria tersebut.
"Maaf ya mas, mbak, saya minta maaf sekali lagi." ucap Bima yang menyatukan kedua tangannya.
"Lain kali hati-hati bawa motornya ya bang?!" mereka pun damai dan pergi tanpa ada lagi pertengkaran.
Bima menghela nafasnya dan bersyukur tak sempat terjadi tabrakan itu.
"Alhamdulillah ya Allah..," ucapnya lagi.
Bima pun melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah orang tua Diah istrinya. Kali ini Bima membawanya dengan hati-hati dan fokus kedepan.
Sekarang sudah masuk ke jalan rumahnya dan sebentar lagi masuk ke kompleks dan tinggal belok ke gang Mawar merah. Rumah itu bercat putih dan berpagar hitam dengan no.10A, rumah pak Hartono seorang pengacara yang sangat bijaksana.
__ADS_1
Itulah orang tua Diah yang memang orang berada dan kaya, tapi Diah sangat mandiri dan tak mau menyusahkan orang tuanya karena sudah menikah dan ikut suaminya.