
Setahun sudah berlalu lagi...
Tepatnya sekarang sudah di bulan Mei, dan kali ini lebaran tinggal seminggu lagi. Setelah itu Raisa dan Dito akan merayakan resepsinya di Bali bersama mereka semua orang tercinta dan keluarga.
Diah sudah siapkan semua untuk keperluan keluarga nanti disaat lebaran, gaji karyawan Diah juga sudah dia siapkan plus bonus hari raya untuk mereka. Bagi yang ingin pulang kampung Diah akan pesankan tiket untuk pulang ke kampungnya.
Diah sangat senang dan sangat terbantu dengan karyawannya yang rajin dan taat di tempat kerjanya. Dan Diah meliburkan butiknya selama 12 hari untuk menutup butik mereka.
Diah juga akan pergi ke Palembang selama seminggu disana. Karena semua saudara hanya ada di Palembang, jadi mereka sekeluarga akan ke Palembang semuanya.
Rani juga akan ikut, dan Diah sudah membicarakan ke Bima kalau dirinya akan mengadopsi atau mengangkat Rani menjadi anaknya. Dan Bima setuju akan hal itu, karena memang Rani sudah tidak punya kedua orang tua lagi. Diah juga pernah bicarakan hal itu ke Aira, dan dia juga sependapat bahkan sangat menyetujuinya.
Jadi Diah mulai bulan depan akan mengurus dan mengeluarkan Rani dari tempat dia bekerja. Dan mengangkatnya menjadi anak di keluarga mereka.
Namun hal itu belum di tanyakan kepada Rani, dan belum juga meminta pendapat darinya. Apakah Rani mau dan bersedia untuk menjadi bagian dari keluarga mereka dan keluar dari pekerjaannya. Tapi itu nanti saja kalau sudah sedikit santai dan siap pernikahan Dito dan Raisa.
****
Sampai di rumah alm. papa...
Dena dan Adiknya besok sudah pulang ke rumah, sedangkan Sania dan anaknya sudah duluan pulang dan menyiapkan semuanya untuk lebaran nanti.
Diah juga sudah siapkan kue-kue dan yang lainnya untuk makanan saat berkumpul nanti di rumah papa.
Sebelum lebaran mereka sudah sampai di Palembang duluan. Diah akan pergi bersama Aira, Rani dan Abid. Bima nanti akan menyusul karena masih belum siap berkas yang akan di bawanya untuk diserahkan langsung ke Dito nanti.
Diah 2 hari sebelum lebaran sudah berada disana, karena Diah ingin berziarah ke makam mama dan papanya seperti pada umumnya.
Sania, Dena, Diah dan adiknya itu akan pergi bersama, sementara anak-anak di rumah bersama mbok art di rumah almarhum papa.
"Mbak, kita besok pergi jam berapa?" tanya Dena.
"Ya lebih cepat lebih baik Dena, karena kita harus menyiapkan yang lainnya lagi."
__ADS_1
"Dan mbak juga ada urusan ke rumah teman untuk urusan fitting busana pernikahannya nanti setelah selesai lebaran." ucap Diah.
"Oh, baiklah mbak. Besok pagi biar saya cepat bersiap-siap segera." Dena mengerti ucapan Diah kakaknya.
Diah pun masuk ke kamarnya dan beristirahat disana. Anak-anak juga sudah pada tidur di dalam kamar bersamanya. Diah teringat akan suaminya yang besok baru akan terbang ke Palembang, Diah mengambil ponselnya dan menelpon Bima malam itu.
Tut...
Tut...
"Hallo sayang? Kamu belum tidur ma? Ada apa sayang?" tanya Bima.
"Mas lagi apa sekarang?" tanya Diah yang ingin tahu.
"Mas masih menulis laporan, dan mungkin besok belum bisa terbang kesana sayang."
"Mas besok masih mau ngecek dan membagikan bonus mereka dan hotel kan gak tutup."
"Jadi mas juga harus tanggung jawab ke mereka yang gak libur saat lebaran."
"Baiklah mas, gak apa-apa mama mengerti kok. Mas, istirahatlah bila sudah selesai mengerjakan tugasnya. Selamat malam sayang." ucap Diah lalu menutup pembicaraannya.
Bima menatap ponselnya dan menghela nafas, dia merasa Diah sedang mengkhawatirkan dirinya.
Banyak yang Diah pikirkan saat ini, dan Bima bisa mengerti istrinya.
Tapi Bima tak ingin menambah pikiran istrinya lagi, padahal Bima saat ini sedang sakit dan tidak bisa tidur. Dia sekarang berada di rumah sakit dan hotel sudah ada pengganti untuk memantau setiap harinya.
Mungkin Bima akan berada di rumah sakit selama 4 hari karena dia terjatuh mengalami kecelakaan saat mengendarai motor miliknya saat buru-buru ke kantor tanpa mobilnya saat itu. memang tidak ada yang luka serius, tapi dia masih harus menginap disana karena sekarang juga sedang demam tinggi.
Diah sebenarnya juga gak bisa tidur dan gelisah malam itu, seperti ada yang mengganggu pikirannya tapi tak tahu itu apa. Namun pikirannya selalu tertuju pada suaminya yang di Bali makannya dia menelpon padahal sudah jam 11 malam.
****
__ADS_1
Pagi Hari yang cerah, setelah malam harinya tidak bisa tidur. Tapi pagi ini harus bangun cepat karena sudah janji akan berkunjung ke rumah papa dan mamanya yang baru.
Dena, Sania sudah persiapan dan mereka sekarang sedang menunggu Diah di ruang keluarga sambil menonton tv.
Keranjang bunga dan air sudah disediakan, kini Diah pun turun dari lantai atas kamarnya.
"Ayo kita berangkat, maaf ya mbak tadi lama." kata Diah ke adik-adiknya.
"Mbok, tolong jaga anak-anak sebentar ya mbok. Kami akan ziarah dan sekalian belanja untuk keperluan lebaran nanti.
"Baiklah sayang.., tenang saja mereka anak baik semua. Hati-hati ya mbak Diah..," ucap Mbok yang sudah seperti keluarga sendiri.
Mbok inah dan anaknya mbak Yuna sekarang tinggal di rumah itu. Mereka sudah lama kerja di rumah alm. papa, dan sekarang mereka yang selalu mengurus kalau Dena tak ada di rumah.
Mbok inah dan mbak Yuna sudah tak ada saudara lagi dan juga tak memiliki rumah. Jadi rumah kecil yang ada di belakang rumah mereka itu menjadi tempat tinggal mereka sekarang di berikan papa untuk mereka.
Sampai di pemakaman...
Diah menangis karena teringat kembali kedua orang tuanya, begitu juga dengan adik-adiknya. Diah menyirami air dan menabur bunga di atas kedua makam orang tuanya itu.
Mereka pun membacakan ayat suci yang di hadiahkan untuk mama dan papanya. Mereka juga berdoa untuk di beri kelapangan kubur dan di berikan derajat yang mulia disisi Allah.
Hanya doa anak sholeh, bisa menolong orang tuanya di dalam kubur seperti yang di ketahui. Diah dan adik-adiknya ingin menjadi anak yang dapat menolong orang tuanya dengan menjalankan amalan yang baik.
****
Rendy masuk rumah sakit...
Sudah 2 hari Rendy tidak bekerja, dan selama ini anaknya yang menjaganya dirumah sakit saat malam hari. Setelah pulang kerja anaknya yang menjaga dan menyuapi makan malamnya.
Sudah sebulan ini anaknya itu tidak mengirim uang ke adik-adiknya dan juga Rendy tak mengirimkan uang ke anak-anaknya yang tinggal di rumah mertuanya.
Karena banyak gajinya yang dipotong karena jarang masuk saat sakitnya kumat. Rendy terkena demam berdarah, nafasnya sesak dan sering muntah-muntah saat di barak tempat mereka tinggal saat bekerja.
__ADS_1
Saat ini anaknya juga membantu membayar rumah sakit dan makan selama disana. Jadi mereka tak bisa mengirim uang ke rumah sana untuk adiknya. Rendy juga sudah mengatakan akan hal itu kepada mertuanya, dan mereka sangat prihatin atas musibah yang menimpa Rendy saat ini.