
Monik menyediakan makanan yang sudah datang tadi di pesannya. Monik menyuruh orang tuanya makan dan dia balik lagi ke kamarnya untuk tidur.
Akhirnya orang tua merasa seperti tak di pedulikan dengan anaknya.
Lalu orang tuanya pergi diam-diam dan tak mau mengganggu tidurnya Monik.
makanan itu pun di letakkan di atas meja makannya Monik di dapurnya. Dan mereka pun pergi dari rumah itu, Monik melihat dari jendela kamarnya namun hanya membiarkannya saja.
Hati mereka berdua sangat pedih namun tak berkata apa-apa. Ibu dan bapaknya Monik kembali lagi ke toko dan warung mereka. Disana mereka hanya berdiam diri dan melongo saja, tak ada yang tahu hati dan perasaan mereka sedang hancur saat ini.
***
Bima yang masih mencari...
Roby pagi itu datang ke rumah Bima dan mulai mencari tahu apa hubungannya dengan Tiara istrinya.
Roby pun mengetuk pintu rumah itu segera, namun belum ada yang keluar dari dalam rumah itu.
Tok, tok, tok..!"
"Siapa sih pagi-pagi sudah mengetuk rumah orang, mengganggu tidur saja." Bima menggerutu dalam hatinya.
Bima membuka pintu rumahnya dan dia terkejut saat melihat Roby suaminya Tiara ada di depan rumahnya.
"Kau Roby? Bukannya kau sudah tiada kata Tiara?!" Bima merasa tak percaya dengan yang dilihatnya sekarang ini.
"Mas, boleh saya masuk sekarang?" tanya Roby.
"Ayo mari masuk," kata Bima yang membuka lebar pintunya.
"Maaf rumah sedang berantakan, dan tak ada Diah dirumah ini." ucap Bima dengan nada sedih.
"Kemana istri mas? Dan dimana anak mas sekarang?" tanya Roby yang sudah tak tahu segalanya.
Akhirnya Bima menceritakan semuanya ke Roby sambil membuatkan teh untuknya. Roby mendengarkan dan memahami apa yang dialami Bima saat ini.
Dan Roby juga tahu bahwa ini semua karena Tiara istrinya yang membuat rumah tangga Bima hancur saat ini.
"Oke mas kalau begitu aku akan bantu mas untuk mencari mbak Diah dan membawanya pulang kembali." ujar Roby yang mengerti itu semua bukan salah Bima.
Akhirnya Roby pun menyiarkan melalui sosmed dan ke seluruh kota bahkan di luar kota.
Roby juga akan menolong Bima dari perjanjian itu, dan melihat kertas lalu membawanya ke kantornya saat ini.
Pengacaranya memeriksa kertas itu dan mencari dimana ada sela untuk bisa di balikkan agar tak bisa di penjara.
__ADS_1
Dan mereka menemukan selanya tanpa Tiara tahu bahwa itu tak bisa menjadikan Bima menjadi pidana di dalam penjara.
***
Bima masih terus mencari Diah dan anak mereka dimana-mana sampai tak kenal lelah. Bima sekarang menjadi ngojek mengantar penumpangnya ke tempat tujuan.
Itu semua agar dia bisa terus mencari dan bertanya-tanya pada penumpangnya bila pernah melihat istrinya.
Namun hari ini tetap tidak ada hasilnya, dan Bima pun sedih kembali.
Karena sudah dua hari ini tak ada kabar dan tak ada hasil dari pencariannya.
Sore ini Tiara datang ke rumah Bima dan membawa polisi ke rumahnya.
Bima di seret dari rumahnya tentang permasalahan perjanjian itu.
Bima menelpon Roby dan segera memberi tahukan bahwa Tiara datang membawa polisi.
Roby pun mengerti lalu dengan cepat pergi ke rumah Bima sore itu juga.
Bima sengaja mengulur-ulur waktu dan menjelaskan pada Tiara saat itu.
"Tiara apa-apaan ini, kan mas bilang kalau tunggu Diah istri ku itu di temukan baru kau boleh memenjarakan aku!"
"Kau sudah keterlaluan, dan disana tak ada tertulis kau boleh kapan saja membawa ku ke kantor polisi kan?!"
"Cukup mas! Aku sudah muak mendengar kata-kata mu dan kau tetap saja tak mau menikah dengan ku."
"Aku tidak penting Roby masih hidup atau tidak, dan satu hal lagi, aku tak pernah menipu mu dengan kematian mas Roby."
"Itu semua keluarganya yang sudah menipu ku saat ini, dan aku terpuruk karena itu. Sekarang sudah tak mau aku mendengarnya lagi, bawa dia ke penjara pak!" ucap Tiara ke polisi tersebut.
"Tunggu !"
Roby datang menghentikan mereka semua, dan segera mengeluarkan surat dari pengacaranya yang telah siap di buat olehnya kemarin.
Roby memberikan kertas itu kepada polisi, dan dia membacanya. Setelah itu mereka tak jadi membawa Bima bersama mereka.
Tiara kesal dengan polisi itu dan tetap menyuruh mereka seret Bima ke penjara.
"Maaf bu, di dalam surat ini mengatakan bahwa memang tak ada ketentuan untuk membawa pak Bima ke kantor polisi, bahkan untuk memenjarakannya."
"Kami tak bisa melanggar ketentuan itu, nanti kami yang akan disalahkan oleh atasan kami. Karena ini sudah di tanda tangani oleh atasan, dan beliau menjaminnya." ucap para polisi itu dan segera pergi dari sana.
"Apa-apaan kamu mas?!"
__ADS_1
"Kau tak usah ikut campur urusan ku, dan pergi saja kau dari hidup ku selamanya."
"Aku sudah terbiasa tanpa mu selama 4 tahun ini. Bahkan aku bisa mengurus semua urusan ku sendiri tanpa mu!" pekik Tiara yang sudah sangat emosi.
"Tiara tolonglah, kau tahu kan bagaimana merasa kehilangan, dan itu dulu pernah kau alami."
"Sementara aku tak pernah mengusik rumah tangga mu dengan Roby, dan bukan aku penyebab kau dan Roby berpisah."
"Tapi mengapa kau selalu tak puas menyakiti aku dan Diah sepupu mu? Kalau aku sudah berpisah, kalau aku juga sudah kau penjarakan, sudah puas kah kau dengan semua itu?"
"Lalu selain kepuasan itu apa lagi yang bisa kau dapatkan?" tanya Bima yang sedih dan terduduk di depan pintu rumahnya.
"Kau hanya bisa menambah beban hidup ku dan Diah kali ini, kau tahu apa yang sudah dialami Diah selama 8 tahun ini ?!"
"Keluarga ku tidak ada satu pun yang menghargainya ! Keluarga ku selalu menghina dirinya, bahkan sekarang kau keluarganya yang sengaja mempersulit hidupnya dan menjauhkan ku dengannya !"
"Diah wanita kuat yang aku tahu, dan tak pernah mengadu dengan papanya atau mamanya?!"
"Mungkin bila dia sudah mengadu, maka aku dan Diah dari dulu sudah tak bersama lagi saat itu. Papanya akan membawanya pulang ke rumahnya dan meninggalkan aku sendirian disini, kau tahu..?!" Bima berteriak dan tak tahu mau bagaimana lagi.
Tiara akhirnya pergi dan menangis saat itu, Roby membiarkan Tiara pergi sendiri tanpa dia mengikutinya.
Roby menenangkan Bima, dia paham benar rasanya saat itu bagaimana.
Akhirnya Bima pun terdiam dan sedikit tenang setelah Roby menyuruhnya meminum air sedikit.
Lalu Roby mengajak Bima pergi dan ikut masuk ke mobilnya.
Bima pun terpaksa ikut dan naik ke dalam mobil itu, Roby membawanya ke suatu tempat. Roby membawanya makan dan menenangkan diri di suatu cafe yang ada life musiknya.
Bima memang belum makan dan sekarang hatinya lagi galau serta tak tenang karena emosi. Jadi Roby membawa Bima untuk berjalan-jalan sebentar menghirup udara bebas di atas jembatan.
Bima berteriak memanggil nama Diah di atas jembatan itu, dan dia juga meluapkan amarahnya dengan melempar batu sekuat tenaganya jauh ke dalam sungai yang mengalir.
"A......argh!"
"Diah...., kembalilah kepada ku...!"
"Diah....!"
Bima berteriak terus-terusan dan kembali menjatuhkan air matanya.
"Diah, aku tak bisa tanpa mu Diah..., dan juga tanpa Aira anak ku..?!" Bima terlihat lemas dan dia berjongkok di jembatan itu.
"Aku sangat mencintai mu, dan aku minta maaf pada mu Diah..., memang aku yang salah, aku memang salah...!"
__ADS_1
"Aku yang bodoh Diah..., aku bodoh sampai tak memahami mu..," ucapnya lagi.