
Sampai di rumah Risa (adiknya)
Diah melepaskan penatnya disana, dan duduk dengan menghela nafas panjangnya.
" Hah...!" hela Diah.
" Kenapa kak?" tanya Sania sambil menyuguhkan teh untuk kakaknya minum.
" Entahlah San.., mau bagaimana aku mengatakannya, sudah habis otak ku untuk berpikir saat ini." kata Diah yang mengeluh ke adiknya.
Sania adik Diah yang sering ditinggal kerja suaminya pergi ke luar kota. Dia tinggal di rumahnya sendiri dan dengan ke dua anaknya.
Diah kerumahnya ingin mendengar cerita tentang orang tuanya yang kemarin pindah rumah ke Batam.
Sania saat itu ikut mengantar sampai Batam di mana tempat ortunya mereka tinggal. Sementara anak - anak bermain bersama di kamar, Diah dan Sania pun bercerita duduk di kursi meja makan.
Diah mendengarkan ceritanya Sania, dan bagaimana keadaan disana.
Diah sangat senang mendengarkannya, dia sesekali tersenyum dan begitu seru melihat Sania berbicara.
" Mama bilang saat itu kak! kenapa kakak gak ikut bersama kami saat itu." ucap Sania.
" Iya kakak belum bisa kesana, Aira sudah masuk sekolah dan mas Bima juga gak bisa di tinggal." ucap Diah yang sedikit sedih.
" Sudahlah kak, nanti lebaran tahun depan kita kesana yuk! Pasti rumah mama dan ayah sudah siap dan kita tidak perlu tidur di rumah bu Risa bila kesana." ucap Sania yang menghibur kakaknya yang sedang galau.
Lalu mereka makan siang bersama, semua anak - anak di panggil untuk makan bersama juga. Dan mereka sangat bersenang - senang di rumah Sania, Diah sedikit bisa tenang pikirannya sekarang.
Setelah selesai makan siang, anak - anak bermain kembali. Diah dan Sania lebih memilih menonton drama dari ponsel mereka.
Mereka melihat drama sampai tertidur di ruang tamu, dan tiba - tiba Diah terbangun hari sudah sore.
" Ya ampun sudah jam 4 sore, dan sebentar lagi mas Bima sudah akan datang menjemput." ucap Diah yang tersadar.
" Hem..., kita tertidur disini. Sudah jam berapa sekarang kakak?" tanya Sania yang masih menggosok matanya.
" Sudah jam 4 sore San, kakak harus bersiap - siap sekarang nanti mas Bima akan menjemput sebentar lagi." kata Diah yang sibuk membereskan barang bawaannya.
Aira tadi membawa mainannya, dan Diah segera mandi disana. Karena malas lagi kalau harus mandi dirumah, dan Aira juga di bangunkan untuk segera mandi.
Ternyata Aira juga tertidur karena kelelahan sehabis main bersama anak - anak Sania.
Sania pun membereskan rumahnya, memasak nasi lagi dan memanaskan sayur dan lauk lainnya.
__ADS_1
Semua pada sibuk sendiri, sementara anak - anak Sania masih pada tidur di dalam kamarnya.
Sania tak ingin membangunkan mereka, nanti sudah selesai semua baru akan dibangunkan untuk mandi saja.
Diah sudah selesai mandi lalu segera memandikan Aira dan memakaikannya pakaian. Aira sudah selesai, sekarang duduk melihat tv acara anak - anak sambil menunggu ayahnya datang.
" Tin, tin...!" terdengar suara klakson di luar rumah Sania.
" Ayah...!"
" Ma, ayah sudah datang !" Aira sangat senang saat melihat ayahnya datang, Aira melompat - lompat saat Diah membukakan pintu rumah Sania.
" Ayah mau masuk dulu? mama ambilkan minuman dulu gak?" tanya Diah ke suaminya.
" Iya boleh ma, ayah minum saja dulu." Bima turun dari motornya dan masuk kedalam untuk minum sebentar.
Saat itu Bima memang merasa sangat lelah dan haus juga. Sania sudah menyiapkan Teh manis dingin untuk abang iparnya suami dari kakaknya.
" Silahkan diminum bang..." kata Sania menyuguhkan minumannya.
" Oh iya, terima kasih ya San." ucap Bima kepada adik iparnya.
Lalu Sania pergi ke dapurnya lagi, dan melihat masakannya yang lagi di masaknya.
" Ah..., Bima terlihat sangat segar sekali sekarang.
Bima duduk sambil bermain ponselnya sebentar, dan tak beberapa lama Diah sudah selesai membantu Sania.
Lalu Bima juga sudah mengakhiri permainan ponselnya, Bima mematikan ponsel dan segera bersiap untuk pulang.
" Ma.., ayo kita pulang.." ucap Bima mengajak Diah pulang.
Diah pun segera menghampiri Bima, dan tak lupa mengambil gelas bekas minumnya dan meletakkan ke wastafel segera.
" Sania kakak pulang ya..., terima kasih sudah boleh main kesini." kata Diah ke adiknya.
" Sania kami pulang ya.., assalamualaikum...!" ucap Bima.
" Wa'alaikumsalam, hati - hati dijalan ya..." ucap Sania yang mengantar sampai depan pintunya.
Sania pun menutup pintu rumahnya, dia segera masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan pergi untuk mandi.
"Lebih baik aku mandi duluan saja baru membangunkan mereka semua untuk mandi juga." ucap Sania dalam hatinya.
__ADS_1
…………………………………………………………………
Bima dan Diah yang masih di atas motor dan menuju arah pulang ke rumahnya hanya diam membisu saja.
Aira tiba - tiba bercerita kepada ayahnya, tentang apa saja yang dia lakukan dirumah Sania tadi.
Aira bercerita, dia bermain apa saja dan makan apa disana.
" Ayah, kapan kita kesana yah?" tanya Aira.
" Hem.., nanti kalau ayah ada banyak rezekinya kita kesana sama mama. Iya kan ma?!" tanya Bima untuk mencairkan suasananya.
" Ma, nanti kata ayah kita pergi kesana ma. Aira doakan ayah banyak rezekinya dengan cepat ya yah?" kata Aira yang sangat senang.
Bima tiba - tiba menarik tangan Diah kedepan, Bima sengaja agar Diah memeluk pinggangnya saat di bonceng.
Diah hanya diam saja tak ada perlawanan apa pun saat itu, karena Bima langsung menancapkan gas motornya dan membuat Diah takut dibelakang.
Bima tersenyum puas dan senang melihat wajah Diah yang ketakutan dari spionnya. Aira juga terlihat senang saat angin menerpanya yang sedang duduk di depan bersama Bima.
Tak beberapa lama sampai mereka di depan rumah, motor langsung di parkiran teras rumah.
Aira turun dari motor Bima, dan begitu juga Diah yang turun dari boncengan sambil mencubit pinggang Bima sangat kuat.
" A......agh !" suara Bima tertahan.
Bima malu kalau menjerit di luar rumahnya, jadi suaranya ditahan sebisa mungkin olehnya.
Diah mencubit karena Bima yang ngebut saat memboncengnya tadi di jalan.
Bima pun mengerti, tapi dia hanya tersenyum saja saat cubitan itu sudah lepas dari pinggangnya.
Lalu Bima turun dan menurunkan standartnya saat itu. Bima pun masuk kedalam rumahnya setelah anak dan istrinya sudah masuk ke dalam duluan.
" Huh..., sakitnya tangan itu mencubit ku. Cubitannya tak ada yang bisa menandinginya. Diah..., Diah..." Bima berkata dalam hatinya.
Diah langsung masuk ke kamar dan tak mau tahu dengan keadaan rumah serta lainnya.
Diah juga tak mau tahu masih ada apa tidak lauk untuk makan malam nanti.
Diah langsung merebahkan tubuhnya ke kasurnya dan berpikir masa bodoh saja sama semuanya.
Diah sedikit tega saja hari itu, agar mereka mengerti dengan diri mereka dan juga peka terhadap orang lain.
__ADS_1