
Bima sudah dirumah
" Bu, ini obat ibu di minumlah. Apakah ibu sudah makan ?" tanya Bima anaknya.
"Sudah tadi siang ibu sudah makan dengan Lastri dan anak - anaknya." kata ibunya yang sedikit lemah.
" Baiklah bu, minum obatnya dan istirahatlah." ucap anaknya lagi.
Lalu Bima pergi dari kamar ibunya, dia mencari Diah kemana - mana. Dilihatnya Diah ada di dalam kamarnya, Bima masuk terus mengajak anaknya bermain di luar tepatnya di ruang tamu dan sambil menonton tv disana.
" Aira, ayah ke kamar sebentar ya? ada yang mau ayah tanya ke mama dulu." kata Bima.
" Iya ayah, Aira disini saja mau nonton tv." Anaknya pun tak memperdulikan karena asik menonton.
Bima pun meninggalkan anaknya dan pergi ke dalam menemui istrinya.
Bima duduk di atas kasur dan menatap istrinya dengan tatapan kesal.
Diah yang sedang sibuk melipat pakaian yang sudah kering pun tidak memperdulikan Bima di depannya.
" Ma ?!"
" Ayah mau tanya, ngapain kamu di rumah teman dari siang sampai sore tak pulang kerumah ?! Ibu sampai sendirian di rumah ?" tanya Bima ketus banget.
" Huh...." menghela nafas.
" Mas, kamu bilang tadi ibu di rumah sendirian? Dan mengapa aku tidak pulang ke rumah? oke biar aku jelaskan dan memperjelas segala yang kamu tanya kepada ku." ucap Diah dengan kesal juga.
" Aku siang sudah pulang ke rumah, dan di rumah ada Lastri kakak mu. Kau bilang ibu sendirian di rumah?" satu pertanyaan sudah di jawab.
" Kalau ibu sendirian di rumah kenapa rumah saat kita pulang seperti baru ada gempa? dan piring kotor menumpuk di wastafel? kenap?! kenapa ?!" tanya Diah lagi.
" Apa ibu mu di rumah main perang - perang? apa ibu di rumah main lempar - lemparan atau main berlarian?!" Diah mulai emosi.
" Tolong pikirkan dulu sebelum aku melanjutkan jawaban ku yang kedua !" balas Diah yang kesal.
__ADS_1
Bima terdiam dan memikirkan tentang ucapan ibunya tadi," sudah makan siang bersama Lastri dan anaknya. Apakah ibu yang membohongi ku kalau dia sendirian dirumah?" Bima mulai paham pada ucapan Diah.
" Terus kenapa kamu di rumah Mona dari siang dan tak berada dirumah?" Bima bertanya lagi setelah diam berpikir.
" Tadi siang mama sudah pulang, ayah lihat Aira sudah ganti pakaian sekolahnya dan kami tidak membawa tas Aira. Saat mau makan siang di rumah semua makanan yang mama masak tadi pagi sudah habis dimakan oleh kakak mu Lastri." Diah menceritakan semuanya kepada Bima.
Diah pun bilang kalau mereka keluar untuk apa dan ngapain di rumah Mona. Kini Bima mengerti dan merasa bersalah sudah marah dan menuduh istrinya yang bukan - bukan.
" Kalau begitu mas minta maaf ya sayang." kata Bima memegang tangan Diah.
Diah menepis tangan Bima karena kesal Bima sudah memarahinya dan ucapan yang tak enak kepadanya.
" Mas, tolonglah setiap apa yang di ucapkan orang kepada mu jangan kau telan semua, coba untuk di cerna dan tanya kepada ku apa kebenarannya itu baru namanya kita berumah tangga." kata Diah mencoba beri pandangan ke suaminya.
" Ibu bilang sendirian dirumah gak ada yang bisa disuruh untuk beli obat. Tadi ada kakak, ada anaknya kenapa tak meminta tolong sama mereka? Dan kenapa bilang kalau sendirian kepada ayah?" kata Diah yang masih emosi.
" Mas, jujur aku sudah tidak tahan tinggal disini, sungguh aku bisa gila kau letakkan aku tinggal disini mas !"
" Semua penuh dengan bermuka dua bila di depan mu, kau tahu siapa yang akan menjadi tumbal dan kambing hitam? Aku mas, aku !" Diah mengomel sambil membereskan pakaian ke dalam lemari.
Lalu Bima memeluk istrinya yang sudah meluapkan emosinya kepada dirinya.
" Huhu..., hiks, hiks, tidak ada yang sayang dan mengerti perasaan ku mas. Tolonglah mas, aku sudah tidak sanggup lagi..., hiks, hiks..." Diah menangis sejadi - jadinya.
" Iya sayang maafkan mas ya sayang." ucap Bima mengelus rambut istrinya.
Bima mengerti kondisi istrinya yang sudah stres dengan semua ini.
Diah yang masih kesal dan emosi masih menangis terus dan sedikit menggigit bahu Bima yang sebenarnya memang kesal pada suaminya
" Auh...!" teriak Bima.
Namun Bima hanya bisa menahannya saja, Bima bisa menerima gigitan dari gigi Diah di bahunya.
" Rasa gigitan itu tak sebanding dengan rasa yang dia terima selama ini dirumah ku. Walau dia menggigit tapi masih pakai perasaan dan tak sekuat tenaga menggigitnya." dalam hatinya berkata.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian
Diah sudah sedikit membaik, dan tangisnya berangsur - angsur berhenti.
Lalu Diah memberanikan diri untuk bertanya kepada Bima suaminya prihal telponan itu.
Diah melepas pelukan suaminya dan beranjak ke kasur duduk di tepiannya.
Sambil tetap memegang tangan Bima, Diah bertanya tentang hal yang selama ini mengusik pikiran dan hatinya.
" Mas, aku mau bertanya." ucapnya.
" Memang sulit untuk ku tanyakan, tapi mau tak mau aku harus bertanya kepadanya." ucapnya dalam hati.
" Kamu mau bertanya apa ma ?" tanya Bima yang duduk di dekat Diah.
" Kamu malam itu menelpon siapa? Dan apa yang sudah terjadi kamu sembunyikan dari aku?" Diah sedikit takut bertanya.
" Ma, sebenarnya ayah hari ini tidak bekerja, dan ayah ingin keluar dari sana. Semua teman ayah katanya akan keluar dari sana bila hak kami tidak di berikan oleh atasan." ucapnya.
" Kami semua sepakat untuk mogok kerja dan meminta tanggung jawabnya sebagai atasan kepada kami. Jadi tadi ayah dan teman - teman ayah sedang berembuk dan datang ke rumah atasan untuk minta penjelasannya." ucap Bima lagi yang sedang pusing.
" Jadi bagaimana yah? apa sudah ada jalan keluar atau penyelesaiannya?" tanya Diah sambil menatap wajah suaminya.
" Huh, belum ada ma. Dan ayah pun sudah tidak ada pegang uang lagi saat ini." ucap Bima yang melihat ke arah istrinya sambil memegang tangan istrinya.
" Ya sudah yah, kita sabar saja dulu. Nanti pasti akan ada jalan keluarnya." Diah memberi support ke suaminya.
Diah bisa mengerti itu, memang tahun lalu mereka tidak seluruh karyawan tidak mendapat tunjangan hari raya. Padahal seluruh karyawannya itu yang di harap dan ditunggu mereka setahun sekali. Tapi atasannya malah tidak memberi hak mereka itu.
Semua karyawannya sangat kecewa atas perbuatan dari atasan di tempat mereka bekerja.
Ini entah bagaimana ceritanya nanti dan penyelesaiannya, semua sedang mencoba untuk berusaha meminta hak mereka, dan ada juga yang keluar dar sana mencari pekerjaan yang lain lagi.
Bima yang baru - baru saja masuk kerja disana sangat bingung karena kondisi sudah tidak memegang uang lagi sekarang. Entah bagaimana keadaan kedepannya, dan harus sudah siap untuk hal itu.
__ADS_1