
Sekarang sudah malam ketujuh, dan malam ini juga Sania dan Diah akan mengadakan acara untuk kepergian papanya. Dena sudah kembali lagi ke tempat kerjanya, dia hanya di izinkan cuti selama tiga hari saja oleh atasannya.
Sekarang hanya ada Diah, Sania dan suaminya serta anak-anak. Mbok art mereka juga ikut membantu untuk acara papanya Diah. Semua berjalan dengan lancar dan alhamdulillah sudah selesai di laksanakan.
Seperti biasa pukul 21:30 Bima suaminya Diah menelponnya setelah selesai beraktivitas seharian.
Tring...
Tring...
"Hallo mas.., iya tadi lagi ada yang di kerjakan jadi lama jawab telponnya dari kamu." ujar Diah.
"Oh begitu ma. Mas hanya mau tanya jadi kapan kamu berangkatnya sayang?" tanya Bima ke Diah istrinya.
"Iya mas, nanti di genapi saja sampai 10 hari disini. Mama masih ada yang mau di bahas sama Sania dan yang lainnya." Diah menjelaskan.
"Iya mas tak apa kok, nanti kalau mau pulang kabari mas. Biar bisa mas jemput di bandara, oke sayang..?" kata Bima.
"Iya mas, mama ngerti kok." Diah menjawabnya.
"Mas sebenarnya sangat merindukan mu, jadi mas bertanya kapan kamu kembali ke rumah lagi. Rumah sepi lagi tanpa kalian, dan terasa seperti kamu meninggalkan mas lagi." pekik Bima yang mulai merayu.
"Iya mas.., tapi mama gak tinggalin mas lagi kok. Sabar sebentar ya.., sekarang mama tidur ya yah...? Hari ini mama sangat lelah dan ingin istirahat." ujar istrinya.
"Baiklah, selamat malam istirahatlah sayang, aku mencintai mu." ucap Bima di dalam video callnya.
Bima memang merasa kesepian, tapi mau bagaimana lagi. Dan Bima juga bisa mengerti semua itu tidak akan mudah untuk Diah lalui dan dengan cepat bisa melupakan rasa kesedihannya.
__ADS_1
Baru saja pulang kehilangan mamanya dan sekarang terang-terangan mengalami kehilangan papanya. Orang-orang yang dia cintai, kini sudah pergi meninggalkannya. Diah saja ingin kuat menghadapinya tapi apa daya, tak bisa menipu diri kalau dia masih suka menangis dalam kesendiriannya merindukan mereka berdua orang tuanya.
Menyesal pun tiada guna lagi saat ini, yang hanya bisa dilakukan mendoakan mereka agar mendapat penerangan disana dari doa-doa anak-anaknya. Diah dan Sania selalu mendoakan mereka, terlebih lagi Dena dan adiknya yang tidak bisa pulang saat papanya meninggal.
Diah dan Sania sepakat kalau rumah itu tetap seperti itu, agar Dena dan adiknya pulang ada tempat untuk di mereka tinggal. Sementara mbok dan cucunya boleh tinggal dan membersihkan rumah peninggalan papa dan mama mereka.
Diah dan Sania juga akan senang bila sudah pindah ke luar kota jadi ada tempat yang ingin di datangi lagi saat ke Palembang. Dan rasa rindu bisa sedikit terobati saat melihat rumah itu masih seperti biasanya ketika mereka masih ada.
Sania juga sudah mulai mengemasi barang suaminya yang akan berangkat seminggu lagi ke Kalimantan. Dia di pindahkan ke daerah sana dan mengelola cabang perusahaan yang baru saja di buka disana. Jadi keluarga kecil mereka akan tinggal disana dalam waktu yang lama. Begitu juga Diah yang akan kembali ke Bali dan menjalankan bisnisnya yang memang sudah lama dia inginkan.
Menjadi wanita pebisnis adalah impiannya dari sejak dulu, papanya dulu ingin Diah menjadi pengacara seperti papanya. Namun Diah tidak ingin melakukannya, dan hatinya juga tidak tertarik untuk kesana.
Dan papanya juga tidak memaksakan niatnya kepada Diah, karena papa memperhatikan keinginan anaknya itu sangat kuat dan dia terus berjuang.
****
Malamnya setelah selesai makan malam, Monik tiba-tiba merasakan kalau perutnya sangat sakit. Dia tak mengerti kalau itu adalah kontraksi dari janin yang dia kandung saat ini.
"Auh.., mas...!"
"Mas Damar...!"
Monik berteriak memanggil suaminya yang sedang di ruang keluarga menonton tv. Sementara Monik sedang ada di kamar mandi karena ingin buang air kecil.
Saat ingin berdiri dari closed duduknya, perutnya pun keram dan sangat menegang serta sakit rasanya. Monik pun tak sanggup untuk melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar dari kamar mandi saat itu.
Selama hamil besar ini Monik selalu tak mengunci pintu kamar mandinya bila ingin beraktivitas disana. Karena dia takut terjadi apa-apa sulit untuk membuka kuncinya dan tidak bisa keluar dari sana.
__ADS_1
Damar pun berlari saat mendengar teriakkan dari Monik malam itu. Dia melihat istrinya yang terduduk dilantai dan sudah lemas sambil menahan rasa sakitnya. Monik segera diangkat oleh Damar, dan mengambil kunci mobil dari meja kecil. Damar meletakkan Monik ke lantai lalu membuka pintu mobilnya agar bisa Damar dudukkan Monik di dalam sana.
Damar masuk ke dalam rumah, dan mengambil tas persalinan untuk Monik segera. Keluar lagi dengan mengunci pintu rumahnya saat itu.
"Auh..., mas...! Cepetan mas, sakit...!" teriak Monik yang sudah gak tahan dengan rasa sakitnya itu.
"Iya sayang sebentar ya, mas akan segara menyalakan mobilnya dan kita berangkat." ujar Damar yang sangat panik sekali.
Damar pun membuka pagar rumahnya dan mengeluarkan mobilnya, lalu menutupnya kembali.
Damar langsung mengemudikan mobilnya dan meluncur ke rumah sakit saat itu juga.
Monik masih berteriak kesakitan dan menangis menahan rasa sakitnya, Damar semakin cepat mengemudikan mobilnya di jalanan menuju rumah sakit biasa Monik kontrol kehamilannya. Tak lupa Damar menyalakan lampu tanda darurat di mobilnya itu, agar bisa melaju cepat karena di beri jalan oleh pengemudi yang lainnya.
Setelah sampai di rumah sakit Monik langsung di tangani oleh suster disana. Mereka mengecek kondisi dan melihat jalan lahir bayi sudah pembukaan berapa. Monik mengerang karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dia mengamuk dan marah saat di cek sudah pembukaan berapa.
Bahkan suster tersebut di tendang oleh Monik dengan kuatnya. Monik tidak mau bersabar dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa. Damar pun panik dan tak tahu mau bagaimana, lalu Damar menelpon mamanya malam itu.
Sekarang sudah pukul 22:30 dan bayi dalam kandungan belum mau keluar juga. Monik sudah lemas menahan dan tak kuat untuk mengikuti apa yang disuruh suster tersebut. Agar Monik berjalan-jalan untuk dapat melancarkan proses kelahirannya.
Namun Monik sudah tak sanggup sampai akhirnya Monik pun di infus dan harus istirahat sebentar.
Kedua orang tua mereka berdua sudah tahu kalau Monik akan melahirkan. Ibu Monik tak dapat datang ke rumah sakit lantaran kondisi baru keluar dari rumah sakit.
Jadi hanya mamanya Damar yang datang melihat Monik disana. Sekarang sudah pukul 12 malam, Monik belum juga melahirkan. Padahal sudah dari sore menyakitkan dan berkontraksi, tapi bayinya belum keluar juga.
Monik sedikit putus asa dan ingin operasi saja, tapi dokter tidak menyarankannya karena bayi sudah berada di jalan lahir. Pembukaan sudah 5, ketuban juga belum pecah, jadi dokter masih menunggunya sampai besok pagi.
__ADS_1