Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 26. Tak Perduli


__ADS_3

" Anak - anak, siapa disini yang mau ikut pergi jalan - jalan?" tanya guru Aira.


" Saya Umi...!" semuanya menjawab ingin ikut jalan - jalan.


Semua sangat antusias ingin pergi dan bersenang - senang di pantai. Semua murid sudah tahu kalau mereka akan pergi ke pantai saat wisuda itu tiba.


Umi guru TK itu memberi selebaran kertas yang memberi tahukan pembayaran setiap murid per orang.


Untung Aira dan Diah sudah menabung dari sejak lama, jadi tinggal potong saja dari uang tabungan sekolahnya Aira.


Diah sudah tidak pusing lagi pikirin biaya Aira nanti.


kemarin Lastri pernah berkata pada Diah, tak ada angin tak ada hujan bahkan tak ada bertanya. Lastri berkata pada Diah entah apa maksudnya.


" Anak kakak kan ada yang masuk sekolah TK kemarin. Kakak belanja keperluannya saja sudah habis 1juta, cuma untuk keperluannya saja ?!" Lastri mempertegas.


" Oh iya kakak ?!" jawab Diah biasa saja.


" Iya lah habis 1 juta, kan untuk dua orang." ucapnya lagi.


Diah lalu pergi meninggalkannya duduk di ruang tamu itu, sementara Lastri kesal karena Diah yang di ajak bercerita malah menanggapinya santai dan tanpa menyanjungnya.


" Maksudnya apa bila g begitu ke aku? Aku gak ada tanya lagian, mau pamer biar aku terkesima gitu? Orang belanja untuk masuk sekolah 2orang ya wajar saja sih." berkata dalam hatinya.


Beberapa Minggu kemudian


" Kamu pak, kalau anak mu yang minta uang atau pinjam uang selalu kamu beri, giliran uang belanja kamu tunda - tunda." ucap mertua perempuannya Diah.


" Kok sibuk sekali sih?! kan dia memerlukannya! kita masih bisa makan seadanya dulu, anaknya mau masuk sekolah dan butuh biaya. Sedangkan uangnya tidak cukup untuk belanjakan anaknya sekolah." ucap bapak mertuanya Diah.


" Tapi bapak selalu membantu Lastri tanpa sepengetahuan aku, kalian bercerita seperti tidak ada aku saja di rumah." kata ibu lagi.


" Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi..!" bapak pergi kerja ke tokonya.


Diah mendengar pertengkaran itu, dan mengerti apa yang di ributkan. Ternyata Lastri pamer ke Diah membelanjakan keperluan sekolah anaknya itu hasil pinjam ke bapak mereka sendiri.


Tak heran Lastri penuh percaya diri berkata kepada Diah dan ingin memamerkannya. Untungnya Diah tak terpengaruh akan ucapan Lastri pada saat itu, sehingga Lastri kesal jadinya.


" Sangat banyak ujian masuk ke dalam keluarga Bima, berbeda sifat mereka semua tapi banyak yang masih tertutup hatinya akan menilai semua dari segi materi dan apa yang kita punya." Diah bergumam.

__ADS_1


…………………………………………………………


Lima hari kemudian.


Bima masih menunggu akan hasil dari semua yang mereka lakukan kepada atasannya. Bima masih belum bekerja juga, dan sambil mencari - cari pekerjaan yang lain.


Namun sudah 5 hari ini belum ada kepastian dari atasannya.


Diah mulai khawatir akan hal itu, keuangan untuk belanja kebutuhan sehari - hari sudah mulai menipis.


Karena biasanya Bima terima gaji seminggu sekali selama bekerja di tempat yang baru. kini sudah lima hari tidak bekerja, maka Minggu depan tak da uang untuk di pegang.


Bima hanya di saja, Diah pun semakin kesal melihatnya. Dengan santai dirumah dan belanja pakai uang istrinya untuk keperluan rumah.


uang Diah bisa saja menutupi seminggu ini tapi Minggu depan tak tahu harus mau bagaimana.


Bima termaksud seorang yang introver yang hanya suka diam dirumah.


Semua itu karena ibunya yang terlalu sayang padanya tak mengizinkannya kemana - mana. Diah sudah tak habis pikir dengan semuanya, keluarga Bima begitu rumit untuk di bisa masuk kesana terkecuali kita punya uang dan harta.


" Mas, bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Diah.


" Ya sabarlah jangan selalu itu saja yang kau tanyakan!" ucap Bima yang kesal ditanya saat sedang bermain dengan ponselnya.


" Sudahlah pusing sekali aku pada mu yang selalu bertanya dan menyuruhku kerja !" Bima sangat kesal pada istrinya.


Diah pun menangis karena Bima sangat kasar padanya, Diah cuma ingin Bima tahu kalau uang mereka sudah habis dan dia harus memikirkannya.


Sementara tidak bisa mengandalkan uang Diah istrinya saja.


Bima terlena karena ibunya berkata akan memberi makannya.


Sementara Diah malu dan belum lagi nanti apa kata para iparnya.


Bima masih asik dengan ponselnya dan tidak perduli dengan istrinya.


Bima sebenarnya tidak ingin menyakitkan hati istrinya namun di juga kesal dan bingung dengan atasan dan juga kebutuhannya yang dirumah.


Jadi Bima berkata kasar pada Diah istrinya, sebenarnya Bima lagi menunggu kabar dalam seminggu ini kalau tidak ada juga baru dia akan bertindak.

__ADS_1


Ternyata hari Senin atasannya menelpon dan menyuruh mereka masuk kerja kembali. Namun hanya 5 orang saja yang mau masuk kembali, sedangkan yang lainnya sudah keluar dan mencari pekerjaan yang lain.


Bima pun akhirnya masuk lagi disana, mau tak mau dia kembali lagi. Mencari pekerjaan sekarang sudah agak sulit, apa lagi terpentok dengan usianya Bima yang sudah tak muda lagi.


Bima menikah terbilang sudah sedikit tua, sedangkan Diah terbilang masih muda. mereka terpaut 12 tahun jauhnya, Bima sekarang sudah 44 tahun sedangkan Diah masih 32 tahun.


Namun mereka mencoba mengimbanginya satu sama lainnya.


Tapi sulitnya jika menikah dan tinggal campur begini, banyak yang ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka.


……………………………………………………………………


Pergi ke rumah Adiknya


Siang ini tepatnya hari Sabtu, Aira tidak masuk sekolah karena setiap sabtu selalu libur.


Jadi Diah ingin main kerumah adiknya yang ada di jalan xxx. Adiknya pernah mengundang untuk datang kerumahnya, namun Diah selalu tidak sempat.


Kali ini Diah ada waktu dan sudah berjanji akan datang kerumahnya.


Setelah selesai semua pekerjaan, Diah pun bersiap untuk pergi kesan.


Mertuanya melihat Aira yang sudah rapi dan bersih, mertuanya bertanya kepada Aira cucunya.


" Aira mau kemana kok sudah cantik?" tanya mertuanya.


" Aira mau pergi tempat bunda, Risa." ucap Aira.


Lalu Diah keluar dari kamarnya dan sudah siap kini akan berangkat.


" Mau kemana Aira?" tanya mertuanya.


" Tempat adik Diah saja kok." Diah menjawab.


" Ada apa rupanya disana, mau apa kesana rupanya?" mertuanya selalu begitu kalau Diah mau pergi atau keluar dari rumah.


" *H*em aku sudah seperti seorang tahanan yang 2x24 harus laporan. Pergi kemana pun bahkan apa yang aku lakukan harus di laporkan." ucapnya dalam hati.


" Diah pergi ya buk, tadi sudah bilang ke mas Bima kalau saya pergi kesana. Dan mas Bima juga nanti yang menjemput kami pulang ke rumah." ucap Diah yang pergi begitu saja.

__ADS_1


Diah sangat kesal di rumah yang rasanya bukan rumah, tak ada kehangatan dalam keluarga disana.


Yang ada hanya tekanan bagi diri Diah, dan kesakitan batin yang tak terlihat namun sangat parah efek yang dirasakan untuk Aira.


__ADS_2