Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 41. Sebuah keputusan


__ADS_3

🌟 Tiara akan bebas dalam 3 tahun lagi, jadi rahasia itu bisa tertutup dan Diah tak mengetahuinya. Bima saat ini masih di tempat kerjanya, sementara Aira dan Diah berada di rumah sakit.


" Mama sakit ya?" tanya Aira.


" Enggak kok sayang..., cuma di suruh dokter istirahat saja. Semalam mama kecapean." ucap Diah ke anaknya.


" Kalau gitu Aira juga mau istirahat sama mama juga boleh ya ma?" Aira pun tiduran dekat Diah dan sambil memeluknya.


***


Sekarang hari sudah siang, dan suster sudah mengantar makanan untuk Diah.


" Permisi bu.., ini makan siangnya. Silahkan dimakan ya bu...?" ucap suster itu sambil menutup pintunya.


Namun Diah belum mau makan sekarang, dia hanya ingin istirahat saja dan memeluk anaknya. Aira sudah makan, saat tadi pagi Bima sudah membelikan makan untuk Aira pagi dan siang harinya.


Sementara dirumah Monik sibuk mencari rumah sewa dan secepatnya pindah dari rumah ibunya. Monik tak ingin lagi tinggal disana, dan dengan cepat ingin meninggalkan rumah dan ibunya yang menurutnya sangat banyak mengatur.


Sementara Lastri yang sudah langsung pulang, hari ini datang lagi ke rumah ibunya dan meminta beberapa bumbu yang masih tersisa di rumahnya.


Ibu bercerita kepada Lastri dengan keadaan Diah dirumah sakit, namun lastri tak ada tanggapan. Bahkan dia diam saja dan pura - pura tak mendengarkannya.


Ibunya Bima sudah sedikit terketuk hatinya, dan merasa kasihan kepada Diah dan Bima. Diah tak pernah mau cerita kesusahannya kepada mereka dan selalu merasa biasa saja di rumah itu.


Lastri langsung pergi dari rumah ibunya setelah dia mendapatkan apa yang dia mau saat itu. Ibunya kini sekarang sendirian dirumah tak ada anak - anaknya saat itu.


" Ibu itu seorang ibu, dimana hati nurani ibu sebagai sesama wanita dan sesama sebagai ibu. Saat ibu membutuhkan sesuatu Diah selalu ada di rumah bersama ibu, ibu sakit muntah - muntah bahkan tak bisa ke kamar mandi siapa yang membersihkan semua kotoran ibu." teringat apa yang di katakan Bima kepadanya.


" Apa aku sudah keterlaluan kepada mereka ya? terutama kepada Diah menantu ku yang selalu ada untuk ku." dalam benaknya berkata.


***


Sore itu Bima pulang kerumah ibunya, dia pulang hanya untuk mandi dan berganti pakaian saja, dan membawa beberapa pakaian ganti untuk Aira dan Diah dirumah sakit.

__ADS_1


" Bima kamu mau kesana lagi ya Bim? mama ikut ya Bim?" tanya ibu ke Bima.


" Tak usah lah bu, Bima tak akan pulang kerumah. Bima dan Aira akan tidur disana menemani Diah." ucap Bima yang tak memperdulikan permintaan ibunya.


" Tapi Bim..." suara itu terhenti.


" Bima pergi ya ma." Bima langsung pergi ke rumah sakit dan meninggalkan ibunya dirumah.


" Bima..., ibu ingin melihat keadaan Diah nak.." ibunya sedikit sedih.


Ibunya yang tadinya di depan pintu, kini masuk kedalam rumahnya. Rumah itu terasa sangat sepi sekali dan sunyi, semua anak - anaknya tak pernah mau menemani ibunya dirumah.


Hanya Diah dan Aira yang menemani mereka dirumah itu. Tetapi Diah selalu di acuhkan dan hanya ada maunya saja baru di beri perhatian.


Disaat Diah memerlukan mertuanya, malah pura - pura tak mau tahu dan berkata tak bisa melakukannya.


Sudah terlalu sabar Diah kepada keluarga Bima, sampai badannya sendiri sakit pun tak dirasanya agar bisa tetap stay memberikan yang terbaik di keluarga suaminya.


Sampai pada akhirnya Diah tak kuat dan seketika ambruk jatuh ke lantai.


Diah lebih memilih pergi ke rumah orang tuanya saat dia sedang sakit saat orang tuanya masih ada di satu kota bersamanya.


Terkadang Diah malu kalau sakit harus ke rumah orang tuanya, pasti merasa sedih dan beranggapan orang tua Diah anak ku tak di urus ketika sedang sakit begini. Namun apa boleh buat, kalau Diah dirumah sedang sakit, tak ada orang satu pun yang tinggal dirumah dari pagi sampai malam mereka baru pulang.


Sementara bila Diah memerlukan apa - apa tak ada yang membantunya untuk berbuat sesuatu di rumah.


Diah sangat tak mengerti dengan cara berpikir mereka semua, dan selalu tak suka kepada dirinya.


***


Diah dan Aira dirumah sakit sedang menonton tv yang ada disana, lalu Bima mengetuk pintu kamar itu dan masuk ke dalam.


" Assalamualaikum..." ucap Bima.

__ADS_1


" Ayah...!" Aira sangat senang ayahnya datang kesana.


" Aira..., anak ayah sudah makan apa belum?" tanya Bima.


" Ini ayah ada bawa makanan untuk Aira.." ucap Bima lagi dengan tersenyum.


" Kamu sudah makan mas?" Diah bertanya dan khawatir pada suaminya.


" Ayah sudah makan tadi di rumah, ibu masak sendirian di rumah." kata Bima bercerita ke istrinya.


" Apa ibu tak ada tanya kabar mas?" Diah ingin tahu.


" Tadi ibu ingin ikut, mungkin ingin melihat ke adaan kamu. Tapi mas gak mau membawa ibu kesini, hanya karena semalam ayah sudah marah ke ibu jadi meminta ikut kemari." Bima menjelaskan.


" Kenapa kamu begitu mas.., kok kamu marah sama ibu?"


" Ibu itu sudah lelah habis pesta, di marahi lagi sama Monik, janganlah kamu malah marahi ibu lagi." Diah yang kesal saat tahu Bima memarahi ibunya.


" Mereka tak ada yang perduli dengan kamu Diah, bahkan Monik beranggapan sepele dengan kamu masuk rumah sakit dan berkata kamu itu manja." Bima sedikit kesal.


" Iya mas, itu semua sudah tahu aku. Bahkan dari awal aku masuk ke keluarga mu itu semua sudah aku terima dari mereka. Perilaku mereka selalu begitu kepada ku, sehingga aku sedikit terbiasa akan semuanya itu."


" Kau saja yang dari dulu aku bilangin tapi kau selalu membela keluarga mu.


Sampai aku tak tahu harus berkata apa lagi dan sudah tak tahu bagaimana lagi memberi tahu kamu mas." Diah berbicara sangat santai dan tak mau ambil pusing.


Aira yang sedang asik dengan makanannya dan acara tv nya sampai tak menghiraukan ke dua orang tuanya yang sedang berbicara.


" Diah, mas sudah bertekad, bulan depan kita akan pindah dari rumah ibu.


Biarlah ibu mengerti untuk saat itu, dan mas akan berusaha untuk mencari uang tambahan agar kita bisa hidup mandiri saja." ucapan Bima yang mengejutkan Diah seketika.


Diah hanya diam saja dan tak meneruskan pembicaraan itu lagi ke Bima. Dia tahu pembicaraan itu akan membuat Bima tersakiti hatinya dan merasa sedih.

__ADS_1


Di satu sisi dia ingin berbakti, namun disisi lain ada hati istri yang terluka dan selalu di dzolimi oleh adik dan kakaknya saja.


Bima ingin bersikap adil namun inilah yang mungkin harus dia ambil keputusannya saat ini juga.


__ADS_2