
...🌟 Sebuah kisah asmara terdengar sangat manis, namun tak semanis yang kita rasakan....
🌟 Dan sebuah rasa bila terlalu manis juga akan menciptakan rasa membosankan.
🌟 Jadi, jangan kau abaikan rasa pahit, asam dan asin itu. Bila sudah berpadu makan semuanya akan terasa menyenangkan bila kita pandai dalam menakar.
🌟 Bijak berprilaku, dan membawa diri. Manis pahitnya hidup kita yang bisa ciptakan sendiri...
***
Hari ini Diah bangun kesiangan, dia tak sempat membuat bekal untuk suaminya.
"Mas, kenapa tak bangun kan aku? Sementara mas sudah bangun dari tadi." ucap Diah yang sedikit kecewa.
" Sudah tak apa, mas nanti pulang saja makan siangnya di rumah bersama - sama." kata Bima yang baru selesai mandi.
Lalu Diah pagi itu hanya membuat nasi goreng untuk sarapan Aira dan Bima dengan nasi yang masih tersisa di pemasak nasinya.
" Sang, seng, sang, seng..." terdengar suara yang dengan cepat cara memasaknya.
" Aira..., ayah..., sarapan sudah siap..!" ucap Diah memanggil mereka.
Diah menyiapkan sarapannya pakai bumbu nasi goreng instan yang semalam dia beli.
" Ternyata berguna juga bumbu ini kalau untuk kepepet ya? Syukurlah ada bumbu ini, semua jadi tertolong sekeluarga." Diah tersenyum.
Diah lalu membuatkan teh untuk mereka minum pagi ini. Botol minum Aira juga di isi oleh Diah dan semua di sediakan untuk mereka berdua.
Dan beberapa menit kemudian mereka pun selesai sarapan dan ingin berangkat bersama. Bima pun pergi bersama Aira di belakang motornya.
" Akhirnya sudah pergi juga mereka, aku harus cepat memasak makan siang nih. Hah..., begini kalau terlambat bangun. Makanya aku gak suka terlambat apa pun." kata Diah dalam hatinya.
" Tapi kenapa hari ini aku sangat lelah sekali ya? Padahal aku gak ngapa - ngapain." gumamnya lagi dalam hati.
Diah pun mulai dengan aktivitasnya seperti biasa, tiba - tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya, padahal pintu itu tak di tutup.
Tok, tok, tok...
" Siapa ya?" batinnya Diah.
Diah berjalan menuju pintu rumahnya, dan melihat ada Lastri disana.
__ADS_1
" Ada apa ya?" bertanya dalam hatinya.
" Oh kak Lastri, ada apa?" tanya Diah dengan ramah.
" Kau ini ya, lain kali gak usah sok jadi menantu yang baik deh di depan ibu. Kau kasih apa sih ibu sampai segitunya ke kau? Hah !" tanya Lastri.
" Maksudnya kakak bagaimana kak? maaf saya gak ngerti." Diah mengernyitkan dahinya.
Diah memang sungguh - sungguh tak mengerti apa yang dimaksud oleh Lastri kepadanya.
" Halah...! gak usah sok gak ngerti deh, jangan mentang - mentang di belain mertua kau malah ngelunjak ya Diah?!" kata Lastri yang semakin emosi.
Lastri langsung pulang begitu saja dari rumah Diah tanpa perkataan yang mengenakkan. Setiap tak senang selalu melabrak Lastri tapi selalu ketika tak ada Bima di rumah.
Diah selalu menjadi bahan bagi mereka, bahkan permasalahan yang Diah tak tahu menahu.
Adik kakak berantem Diah juga yang di salahkan.
" Ada apa dengan dunia ini? Terutama dengan dunia ku saat ini." ucapnya dalam hati.
Diah merasa sedikit kecewa dan sedih dengan yang di lakukan olehnya.
Padahal Diah dan Bima sudah pindah dari rumah itu, tapi Lastri masih saja datang dan mengusik hidup Diah.
***
Pulang kerumah...
Lastri sampai dirumah marah - marah dan membanting - banting semua barang yang ada.
Dia masih merasa tak senang kepada Diah, Lastri ingin semua anggota keluarganya hanya memuja dan mengagungkan dirinya saja.
" Prang !"
" Prang !"
" Astagfirullah, apa itu?!" tanya ibunya.
" Aku benci ! aku benci dengan kalian semua, aku benci.....!" Lastri seperti orang gila yang mengamuk di rumah itu.
" Agh......! Kalian penghalang bagi ku..!" ucap Lastri yang sudah tak terkontrol.
__ADS_1
" Lastri? kau kenapa?" tanya ibunya.
Ibunya melihat semua barang - barang yang ada di kamarnya berantakan dan banyak kaca - kaca disana.
" Hiks, hiks, hik.."Lastri menangis saat di tanya ibunya.
Dia hanya diam saja dan tak menjawab agar ibunya semakin membujuknya untuk berbicara.
" Lastri, kamu kenapa dan siapa yang sudah melakukan ini kepada mu?!" tanya ibunya sekali lagi sedikit marah.
" Diah bu..., Diah..., tadi Lastri kerumah Bima untuk mencarinya, ternyata Bima sudah pergi. Diah malah marah - marah dan seperti tidak senang aku tinggal di rumah ibu. Diah lalu mengusir ku dari rumahnya bu..., hiks, hiks..." Lastri menangis dan berakting kembali di depan ibunya.
" Diah seperti itu? apa benar begitu?" ibunya merasa heran dan bertanya - tanya dalam hatinya.
" Iya sudah nanti akan ibu tanya ke Bima kenapa istrinya begitu kepada mu, sebagai adik ipar seharusnya tidak begitu ke kakaknya." ibunya malah membela Lastri.
" Sudahlah bu tidak perlu, Lastri takut mereka akan ribut rumah tangganya. Lastri sudah tak mempermasalahkannya lagi, Lastri bisa mengerti mungkin dia merasa ibu dan bapak tidak menyayangi mereka." Lastri sangat senang menghasut pikiran orang tuanya.
Lastri sekarang sedang bekerja keras untuk terlihat baik di mata keluarganya, dan semua di sanak saudaranya.
Terutama dia menginginkan surat rumah itu jatuh ke tangannya semua.
Lastri lagi mencari simpati dan rasa sayang untuk dirinya dari adik - adik dan yang lainnya.
Lastri memeluk ibunya dan tersenyum di belakang bahu ibunya, dia sangat ingin rumah tangga Bima hancur seperti rumah tangga Vera adiknya itu.
***
Vera dan suaminya Bowo sudah resmi bercerai 2 tahun yang lalu, Vera pergi dan memilih untuk ke Jakarta karena suaminya itu gak terima Vera telah menceraikannya.
Padahal itu semua karena ulah Bowo sendiri, yang sangat pelit dan terkadang tak memberi nafkah ke istri dan anaknya.
Namun Lastri suka sekali menemui Bowo di tempat kerjanya, dan menceritakan bagaimana adiknya itu ( Vera ). Lastri sebulan sekali selalu datang dengan alasan melihat anaknya Vera yang satu lagi ada pada mantan suaminya sekarang.
Itu berlangsung tanpa ada yang tahu akan hal itu, tapi walaupun itu tersimpan rapat, bau busuk itu akan tercium juga. Anak Vera sendiri yang mengatakan kepada Vera bundanya, tentang bagaimana yang suka datang ke warung tempat mereka mencari rezeki dahulu.
Vera yang mengetahui sangat kecewa perilaku Lastri yang ternyata sangat buruk di belakangnya. Menceritakan ke mantan suaminya Vera dengan akrab dan sering menelpon Vera saat di Jakarta, ternyata Lastri menjadi mata - mata dan bahan gosip ke mantannya.
Vera semakin geram dan tak percaya kakaknya sendiri menjadikan bahan gunjingan ke keluarga mantan suaminya Vera. Mulai dari situ Vera tak percaya lagi kepada kakaknya itu, bahkan sekarang Vera sudah sangat berhati - hati kalau berbicara padanya.
Vera tak ingin semakin hati Lastri menjadikannya sebagai bahan pembicaraan, sampai - sampai Vera pernah melintas ketika pulang, iparnya bertanya pada Vera kebenaran berita yang suka terdengar olehnya.
__ADS_1