Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 50. Proses Menjadi Ibu


__ADS_3

🌟 Setiap hari Monik muntah - muntah dan mengeluh rasa sakit pada perut dan pinggangnya.


kepala pusing dan seperti berkunang - kunang, apa lagi wajahnya pucat dan tak ingin melakukan apa pun saat itu juga.


Sementara Damar harus menyiapkan semua keperluannya saat mau pergi kerja. Saat itu Monik tak bisa masuk kerja, dan itu sudah seminggu lebih dia tak masuk. Jadi Monik berpikir untuk keluar dari kantornya saja demi kesehatan anaknya dalam kandungan.


Monik dan suami sudah sangat lama menantikan buah hati tersebut, 2 tahun lamanya. Jadi Monik dan Damar tak ingin terjadi sesuatu kepada calon anaknya.


4 bulan kemudian...


Hari sudah berganti hari, bulan sudah terlampaui. Dan sekarang usia kandungan Monik sudah 5 bulan.


Dan sudah terasa pergerakan dari dalam perutnya, Damar juga dapat merasakannya saat menyentuh perut Monik istrinya.


Hari bahagia lagi menghampiri mereka, Damar sangat memanjakan Monik. Segala sesuatu apa yang dia suka dan inginkan pasti di turuti.


Mereka juga mempunyai rencana untuk membeli rumah dengan sistem KPR selama 15 tahun.


Namun belum dapat yang cocok mau tinggal dimana.


Saat pagi itu Monik bangun dari tidurnya jam 10 pagi, dan Suaminya baru pulang dari dinas malamnya.


Monik ingin ke kamar mandi, namun karena masih mengantuk dan kamar mandi tak ada di gosok jadi sangat licin.


Monik melangkahkan kakinya ke dalam dan dia terhempas ke lantai saat itu juga.


" Brukkk!"


" Agh...! mas...! mas Damar...!" teriak Monik memanggil suaminya.


" Iya sayang ada apa?" tanya suaminya sambil berlari.


" Astagfirullah Monik, kau mengeluarkan darah...!" ucap Damar.


Damar bergegas mengangkat Monik dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Monik menangis karena perutnya sangat terasa sakit sekali, dia tak kuasa dirinya pun pingsan.


" Monik ! Monik !" Damar memukul pipi Monik perlahan untuk membangunkannya.

__ADS_1


Tetapi Monik tak bangun juga dari pingsannya.


" Suster tolong istri saya pingsan dan mengalami pendarahan, dia sedang hamil 5 bulan tapi tadi pagi terjatuh di kamar mandi." Damar menjelaskan kejadiannya.


Para medis segera menangani dan memeriksa Monik ke dalam ruangan khusus. Damar tidak di perbolehkan masuk kesana, dia hanya menunggu di luar ruangan itu saja.


Damar tiba - tiba ingat ingin memberi tahu mamanya dan ibunya Monik.


Damar menelpon mamanya...


" Hallo ma? Monik pendarahan ma, dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Sekarang dia masih berada di dalam ruangan bersama dokter dan suster." kata Damar.


" Kok bisa nak? apa dia tak jaga kandungan? begitu saja tak becus menjaga kandungannya." kata Mertuanya dari ponsel Damar mengomel.


" Iya sudah ya ma, kami ada di rumah sakit kandungan xxx. Damar mau beri tahu ibunya Monik lagi saat ini." kata Damar menutup pembicaraannya.


Damar pun memberi tahukan keadaan Monik kepada Ibunya dan kakaknya. Mereka semua sangat terkejut atas kabar itu, dan segera pergi ke rumah sakit itu.


Sedangkan mamanya Damar belum melihat kesana, dia masih banyak kerjaan dan nanti siang saja kesana sekalian mengantar makan siang untuk anaknya.


Kini Monik tak ingin berbicara sama siapa pun saat itu. Dia hanya diam saja karena merasa sedih dan terpukul atas kehilangan anaknya itu.


Rencana yang sudah terbayang kebahagiaannya seketika hancur begitu saja.


Monik juga belum boleh banyak bergerak, dan pikirannya harus tenang dan di bawa happy.


Suster melarang mereka untuk berbicara yang terlalu mengganggu pikirannya.


Jadi Damar juga tak banyak bicara hanya mengelus kepala dan pipi istrinya saja. Damar juga tak bisa jauh - jauh dari istrinya Monik, karena dia tak mau di urus atau meminta bantuan dengan yang lain selain suaminya.


Siang itu pukul 02:00 mamanya Damar datang kesana dengan bawaannya. Namun orang tua dari Monik sudah pulang kerumah tanpa bertemu dengan mamanya Damar.


" Damar...?" mamanya masuk dan langsung disambut oleh Damar dengan mengambil bawaan mamanya.


" Monik baru saja tidur ma.., kata dokter dia sangat ketakutan karena kehilangan anaknya. Mama jangan bangunkan dia ya ma?" kata Damar berpesan ke mamanya.


" Iya baiklah..., kau sudah makan apa belum? ini mama ada bawa makanan untuk kamu." sambil membuka bawaannya.

__ADS_1


" Damar belum makan siang ma, Monik gak mau di tinggal sebentar saja. Jadi Damar belum makan apa - apa dari tadi." kata Damar yang sangat semangat mamanya membawa makanan karena sudah lapar banget.


" Dasar, udah dia yang membuat aku kehilangan cucu malah ini anak aku gak bisa makan karenanya. Apa keluarganya gak mengerti membantu atau mengantarkan nasi tuk anak ku makan apa? Menyusahkan saja tahunya." ucapnya dalam hati.


Damar sangat lahap sekali memakan makanannya, mama Damar hanya duduk saja dan memainkan ponselnya disana.


Tak berapa lama jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sebentar lagi Erni adiknya Damar pulang kuliah.


Dan mamanya sudah memberi tahukan kalau sekarang ada di rumah sakit xxx dan itu dekat dengan kampusnya. Mamanya ingin Erni menjemputnya disana agar bisa pulang bareng bersama, dan mengirit ongkos juga.


Dan Erni pun datang kesana, namun Monik masih tidur juga dan belum bangun dari tadi. Suster sengaja memberikan obat tidur agar Monik tak selalu memikirkan hal yang aneh - aneh tentang dirinya karena keguguran itu.


Ibu dan kakak monik...


Keluarga Monik pulang tadi sudah membawa janin yang keguguran itu, dan sekarang sudah di kubur di pemakaman umum masih di daerah rumah mereka juga.


Ibunya Monik tak terlalu dekat dengan Monik, karena Monik selalu suka menyakiti hati ibunya itu. Jadi ibunya hanya memberikan perhatian sekedarnya saja kepadanya, ibunya takut di marahi dan di bentak oleh monik.


Makanya ibunya sangat menjaga diri dan tak ingin terulang lagi kejadian disaat Monik mau menikah hari itu.


Janin itu di kubur dan di tulis dengan nama seorang lelaki, karena dokternya bilang adalah seorang lelaki. Janin tampan itu harus pergi untuk selamanya dari ibunya sebelum dia dilahirkan.


Malamnya Monik terbangun dan mencari suaminya Damar, sambil panik karena tak ingin sendirian.


" Mas...?! mas Damar...?!" Monik berteriak.


" Mas...! mas Damar...!" Monik berteriak kembali sekali lagi.


Damar masuk dan memeluknya, Monik seperti ketakutan dia berkata sesuatu yang tak jelas di dengar telinga Damar.


" Ada apa sayang...?" tanya Damar.


" Mas, anak kita ada disana tadi mas..., dia memanggil ku dengan sebutan mama. Dia disana mas...?" kata Monik menunjuk ke suatu sudut


Damar menjadi sedikit takut dan bergidik, memang disitu tadi plastik janin itu di letakkan sebelum di bawa pulang. Tapi Sekarang sudah di kuburkan oleh ibu mertua dan kakak iparnya Damar di rumah.


Damar dan Monik berpelukan dan suaminya mencoba untuk tegar dan memberi semangat selalu kepada Monik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2