Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 106. Suka Merendahkan


__ADS_3

Konsep sudah jadi, semua sudah di tata dengan tapi. Sekarang tinggal di jalankan saja oleh Raisa saat ini, sementara Diah sudah harus mengandalkan orang karyawan kepercayaannya.


Karena sebentar lagi Diah akan istirahat total dan hanya memantau saja. Dan mulai dari sekarang Aira pun sudah diajarkan oleh Diah untuk berbisnis sejak dini. Agar dia terbiasa dan dapat hidup mandiri nantinya setelah dewasa.


Dan memang sebenarnya Aira sangat suka dunia bisnis, jadi Bima dan Diah tak akan mencampuri keinginannya yang mau menjadi seorang pebisnis.


Aira dan semua karyawan mamanya sudah pada kenal, semua karyawannya ada lima di butik.


Sekarang saat sudah pulang sekolah Aira yang pegang kasir saat mamanya tak disana. Sambil mengerjakan tugas sekolahnya dia juga yang melayani di butik mamanya.


Aira sangat ahli dalam berhitung, dia termaksud sangat smart dan selalu cepat otaknya berpikir.


Jadi tak heran dia selalu juara di kelasnya, bahkan selalu mengikuti cerdas cermat mewakili sekolah mereka.


Saat ada pensi di sekolah Aira juga pandai promosikan gaun-gaun milik mamanya yang di butik untuk mereka membelinya, dengan cara melihat dari koleksi foto-foto gaun itu yang dikenakannya. Bahkan dia secara live promosikan ke teman-teman di group sekolahnya itu.


Sepertinya Aira mengikuti jejak mamanya saat berjualan online di butiknya bu Sriana.


Sampai Diah heran begitu banyak pesanan dan orderan yang membludak dan pendapatan yang sangat meningkat masuk ke rekening miliknya.


Semua karyawan Diah juga mendapat keuntungan dan sedikit bonus dari kerja keras mereka.


"Aira kamu ini masih muda sudah bisa sukses jadi wanita karir." goda para karyawan mamanya.


"Ah, gak juga kok kak.., ini semua saya dapat dari mama. Dulu dia membesarkan Aira dengan begini juga, dan sampai aira bisa bersekolah disana." Aira menjelaskan kepada mereka semua.


Para karyawan baru tahu kalau Diah juga dulu seorang pekerja sama seperti mereka. Namun menjadi jaya karena kerja kerasnya sendiri dan mau terus belajar. Karyawan yang bekerja pada Diah menjadi lebih semangat lagi kerja mereka.


***

__ADS_1


Rumah papanya Diah di Palembang...


Diah menyuruh Dena untuk mengecat dan merenovasi mana yang rusak. Dena sekarang sudah pulang kerumah itu, dan di tempatkan di Palembang lagi oleh atasannya.


Diah ingin rumah itu tetap berdiri kokoh dan indah kembali sama seperti masih ada mama dan papanya disana. Jadi Diah menyuruh Dena mencari tukang untuk memperbaiki rumah itu. Diah ada sedikit rezeki lalu ingat akan rumah papanya.


Sedangkan Sania sudah ikut suaminya pindah ke luar kota ikut suaminya yang sudah menjadi manager di rantau orang. Dan mereka hanya bisa saling menatap dari komunikasi video call saja dari ponselnya.


Sania juga sudah mendengar kabar kehamilan Diah yang sekarang sudah 8 bulan tapi tidak memberi tahu jenis kelaminnya. Diah dan Bima ingin semua menjadi kejutan saja nanti saat sudah lahiran.


Aira juga sangat senang dengan kehamilan Diah saat ini, karena dari awal dia juga ingin memiliki adik. Tapi usia mereka terpaut sangat jauh sekali, jadi Aira lebih fokus ke pekerjaan butik mamanya dari pada perkembangan adiknya yang masih di dalam perut mamanya.


***


Atasan Bima yang dulu...


Hari ini Bima harus pergi untuk cek semua yang ada di hotel yang dia kelola milik Dito. Dari seluruh kamar dan juga melihat ke alat-alat listrik untuk keamanan. Bima sebenarnya bisa saja menyuruh orang dan tidak perlu untuk melakukannya sendiri.


Saat Bima ingin kelantai atas dengan liftnya, gak sengaja dia bertemu dengan atasan lamanya yang dulu pernah mengusirnya saat dia lagi ada masalah.


Bima melihat dan mengerutkan dahinya, sambil berpikir dengan lamanya.


"Pak Bagus ya? Yang dulu jadi atasan di Pt. xxx?" tanya Bima.


"Oh iya, kamu Bima? kenapa bisa disini? Oh, liburan ya ke Bali, sudah banyak uang dan bergaya pakai dasi serta jas. Macam seperti bos saja kamu ya?" ujar Pak Bagus.


Bagus mengejek Bima yang menurutnya tak pantas mengenakan jas dan dasi itu. Tapi Bima hanya diam dan tersenyum membalas ucapan pak Bagus mantan atasannya dulu.


"Ah, bapak bisa saja. Saya tak berlibur kok cuma..," terhenti.

__ADS_1


Tring...


Tring...


Terdengar suara ponsel Bima yang berbunyi. Bima langsung mengangkatnya dan menjawab telpon dari Dito itu, karena tidak bisa di tunda dan harus segera.


"Oh iya pak Dito, baiklah nanti akan segera saya kirim setelah jam makan siang. Baik..," ujar Bima dan pembicaraan pun terputus.


"Oh.., kamu hanya ikut bos kamu disini. Ya saya pikir pun gak akan bisa kamu ke sini sendirian dan bermimpi menjadi bos yang suka menyuruh." kata Bagus lagi.


Ting...


Pintu lift pun terbuka di lantai 10, Bagus keluar dari lift itu dan berjalan begitu saja. Bima hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum saja dengan memperhatikan atasannya dari belakang.


Bima melanjutkan lagi naik lebih atas lagi, dia akan ke lantai 20 untuk melihat gudang kelistrikan disana. Setelah itu Bima akan turun kembali dan masuk ke ruangannya untuk siapkan laporan penginapannya itu ke Dito setelah jam makan siang nanti.


Dan pas makan siang Bima akan bertemu dengan kliennya dari Palembang yang sudah Dito katakan tadi di ponselnya. Bahwa kliennya itu ingin melihat perkembangan hotel selama setahun dan bila cocok dia akan investasi disana.


Makanya Dito juga ingin tahu salinan berkas itu dari Bima, yang Dito berharap akan bisa mendapatkan investasi itu. Lalu Dito akan memperbesar hotel miliknya dan menjadi semakin maju dan berkembang. Karena biar bagaimana pun, di Bali sangat berpengaruh dengan penginapan dan hotel-hotel untuk para wisatawan yang ingin berlibur ke Bali.


Makan siang pun telah tiba, Bima menunggu klien Dito yang katanya juga menginap di hotel milik Dito. Kadi Bima tidak akan jauh dan keluar dari area hotel tersebut, mereka membuat janji resto hotel lantai satu dekat dengan pantai.


Disana Bima sudah siapkan semuanya dan menjelaskan semuanya mengenai hotel mereka itu. Bima sudah melihat dari jauh kliennya yang hanya memakai kaos dan celana pendeknya.


Saay sudah mendekat Bima pun berdiri dan menyambut kedatangannya dengan ramah.


"Selamat siang pak Daud, saya orang utusan dari pak Dito yang sekarang mengelola hotel ini " ucap Bima.


Mereka makan siang duduk di meja yang berdekatan dengan pantai, jadi makan dengan pakaian kasual tak akan di permasalahkan. Bagus yang berada di samping pak Daud terkejut melihat Bima ternyata yang memegang pengelolaan hotel tersebut.

__ADS_1


Bagus menjadi malu dan wajahnya memerah, dia malu saat mencela Bima tadi di dalam lift saat itu. Namun Bima hanya tersenyum dan tak mengatakan apa pun serta dengan berpura-pura tidak mengenali Bagus saat itu.


__ADS_2