
Saat sedang makan, Dito menanyakan tentang diri Raisa. Berasal dari mana, nama orang tuanya dan lain sebagainya.
Raisa pun sebenarnya sedikit heran dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh Dito kepadanya. Namun Raisa pun mengatakannya juga dengan jujur, karena sudah di traktir makan malam oleh Dito.
Raisa pun bercerita tentang dirinya dan tiba-tiba Dito terkejut saat mendengar nama kedua orang tuanya Raisa. Lantas Dito memotong pembicaraan Raisa langsung saat itu.
"Kau tidak berkata bohong kan?"
"Kamu anak ibu Sarmi yang dulu pernah tinggal di Banten?" tanya Dito.
"iya pak., itu ibu saya yang sekarang pun masih tinggal disana." kata Raisa sambil menikmati makanannya.
Lalu bagaimana bu Sarmi sekarang? Fan kenapa kamu bisa disini dan ibu mu ada di Banten?" tanya Dito.
Raisa pun menceritakan semuanya ke Dito, dia pun mengerti dan yakin bahwa ibunya Raisa itu adalah yang dia cari selama ini. Tapi Dito masih harus melihatnya secara langsung untuk memastikannya.
Lalu Dito dan Raisa berjanji akan bertemu lagi dan pergi menemui ibunya Raisa weekend depan di Banten. Selama ini Raisa hanya mengirim uang beberapa ratus saja dan menurut keterangan dari Raisa ibunya sedang sakit keras dan ingin Raisa segera pulang.
Namun Raisa tak ada ongkos untuk pulang ke rumah dimana ibunya berada. Dito pun mengajaknya pulang yang seperti di janjikan saat itu, Dito juga tak lupa membawakan surat yang ada di amplop putih yang seharusnya dulu di serahkan ke ibunya Raisa.
Dulu mamanya Dito sakit dan ibunya Raisa yang merawat mamanya di rumah dan juga merawat Dito serta papanya. Malam itu, Raisa di antar pulang ke kosannya, dan temannya sudah duluan sampai ke kosan melihat Raisa turun dari mobil mewah.
Temannya itu pun iri kepadanya dan menanyakan tentang pria yang bersama Raisa saat itu.
Raisa hanya berkata pria itu adalah pelanggan yang makan di resto tempat mereka kerja.
Tapi temannya itu malah menduga Raisa ada main dengan Dito dan mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Berapa kau dibayarnya semalam?" tanya temannya itu.
__ADS_1
"Aku tak ada menemaninya seperti yang kau bayangkan itu. Dia hanya bertanya mama kandungku dan ingin bertemu." ucap Raisa.
"Dasar munafik!" namun teman sekamar kosnya itu tidak percaya.
Raisa tak menghiraukan lagi temannya itu, dia lebih memilih tidur karena sudah sangat lelah.
Makanan yang dibawanya pulang disimpannya di kulkas kecil dikamarnya, dan akan dipanaskan nanti pagi untuk sarapan.
****
keesokan harinya Bima datang ke rumahnya Dito dan mereka berbincang mengenai proyek yang akan dibuka lagi di sekitar Bali. Tapi Dito kali ini ingin Diah istrinya Bima yang memegang proyek itu.
Dito ingin membuka resto dan bergabung dengan usaha Butik baju yang Diah akan jalankan.
Dan nanti Dito akan mengirim seseorang untuk membantu Diah disana.
Tapi Dito buka resto masih lama tahun depan karena butuh persiapan lagi. Cuma dia sudah membicarakannya rencananya itu ke Bima teman karibnya saat ini.
Dito pergi dengan Raisa, mereka pergi pagi-pagi sekali agar cepat sampai disana. Dan Raisa juga bisa bertemu dengan ibu kandungnya dengan waktu yang lama.
Ibu kandungnya Raisa sebenarnya masih hidup, dan dia di bawa ayahnya untuk ikut tinggal bersama ibu tirinya. Dan bersekolah disana, namun baru saja ayahnya meninggal Raisa di usir dari rumah ibu tirinya. Dan Boy anak dari ibu tirinya itu pernah ingin melampiaskan kelakuan liarnya kepada Raisa. Tapi Raisa selamat dari itu semua, dan dia di usir begitu saja oleh ibu tirinya.
Sampai di Banten, Dito melihat kondisi ibunya Raisa yang sudah lemas tak berdaya.
"Ibu! Ibu..., Raisa pulang bu...!" kata Raisa yang langsung memeluk ibunya terbaring lemah di dalam kamar.
"Raisa.., kamu sudah pulang sayang..?" tanya ibunya.
"Maafkan Raisa yang gak bisa jaga ibu dan adik." ucapnya sambil menangis.
__ADS_1
"Raisa siapa dia nak..?" tanya ibunya.
Lalu Raisa menceritakan selengkapnya dan Dito pun memberikan amplop isi surat itu.
Raisa membacakan isi surat itu di depan ibunya, seketika ibunya pun sadar kalau Dito adalah anak yang pernah dia asuh dahulu. Dan dalam surat itu Dito telah di jodohkan oleh mamanya dengan Raisa.
Ternyata itu adalah wasiat mamanya Dito sebelum meninggal dunia. Dan ibu Sarmi juga tahu itu, sebagai buktinya mereka menyimpan patahan liontin yang mereka simpan satu sama lainnya.
"Raisa ambilkan sebuah kotak yang ada di laci lemari itu, dan perlihatkan pada Dito sekarang." ucap bu Sarmi.
Dan Dito pun melihat serta mencocokkan patahannya, dan itu memang pasangannya. Namun tiba-tiba ibu Sarmi sesak nafasnya dan mengejang, dia juga berkata sesuatu dengan nafas tersengal.
"Nak Dito, saya... titip... anak... saya, Raisa, dan Intan. Jaga.. lah, mereka..," ucapnya yang terakhir.
"Ibu...!"
"Bu.., bangun bu...!" kedua kakak beradik itu pun menangis sangat histeris dan tak bisa menahan dirinya.
Dito pun sedih melihat mereka dan Dito teringat atas kematian mamanya yang lalu. Dia juga tahu bagaimana itu rasa sakit di dalam dada, terasa sesak dan dunia hancur berkeping-keping. Mama yang tercinta pergi meninggalkannya, dunianya langsung berubah 360 derajat saat itu juga.
Dito berjanji akan merawat dan menjalankan wasiat dan amanah dari kedua wanita yang memiliki pangkat seorang ibu dan mama.
Dito juga baru tahu setelah surat itu di bacakan untuk pertama kalinya.
Sekarang semua sudah jelas dan tak ada penuh tanda tanya lagi dalam hati Dito saat ini. Dan Dito juga akan secepatnya menikahi Raisa untuk menjadi istrinya, tapi sebelum itu Dito harus berbicara dulu ke papanya dan menjelaskannya.
Acara pemakaman pun sudah dilaksanakan dan semua sudah di jalankan sesuai jalannya. Ibu Tari adik dari ibunya Raisa pun juga sudah tahu dan mengerti sekarang, akhirnya mereka pun pergi dari rumah ibu Tari setelah tiga hari disana dengan dijemput supir pribadi dari Dito.
Dito tak berada disana, karena saat setelah selesai pemakaman Dito harus kembali karena masih banyak pekerjaan. Dia hanya berjanji akan menjemput mereka lagi setelah semuanya selesai.
__ADS_1
Dito juga mentransfer sejumlah uang untuk bu Tari, Raisa yang mengambilkannya dan memberikan kepada bu Tari sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawat ibunya setiap hari.
Raisa dan Intan pun pergi dari sana dan menuju ke rumah Dito sekarang mereka tinggal. Papa Dito juga sudah tahu, dan dia setuju dengan semua itu, jadi tidak ada masalah dengan semuanya. Kini Dito dan Raisa sudah mendapat restu dari papanya Dito, sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi setelah menikah dan menjadi suami istri yang sah.