
Seminggu telah berlalu, Aira sudah mulai masuk sekolah kembali. Siang itu Aira diam-diam menelpon ayahnya (Bima), dia begitu banyak bercerita pada ayahnya.
Namun ketahuan oleh Diah yang baru saja datang ke rumahnya saat ingin istirahat makan siang. Diah tak sengaja melihat anaknya memegang ponsel dan bercerita ke ayahnya dengan senang.
"Aira, kamu bicara sama siapa?" tanya Diah yang penuh curiga.
"Gak ada kok ma," ucap Aira dan mematikan ponselnya dengan cepat.
"Lalu dari mana ponsel itu kamu dapat dan punya siapa itu." tanya Diah dengan sabar.
Aira hanya diam dan tidak mau menjawabnya, Aira takut kalau berkata jujur mamanya akan marah kepadanya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawabnya mama tak akan bertanya lagi ponsel itu."
"Tapi kalau ada apa-apa dengan semua itu, mama gak akan ikut campur urusannya." Diah pun tak menanyakannya lagi.
Diah pun mengambil makan siangnya dan duduk sambil menghela nafasnya karena merasa lelahnya hari ini.
Aira kasihan melihat mamanya yang setiap hari harus mencari uang untuk kehidupan mereka.
Lalu Aira teringat akan surat itu, dengan cepat dia mencarinya dan mengeluarkannya dari tasnya. Surat itu pun diserahkannya kepada mamanya setelah selesai makan dan istirahat.
"Ma, ini ada surat. Aira lupa ingin memberikannya pada mama." ujar Aira dan menyerahkannya.
Diah pun menerimanya dan membuka surat itu, dia membacanya dalam hati dengan perlahan.
...^^^Diah istriku, melalui surat ini aku katakan isi hati ku pada mu.^^^...
...Karena bila berbicara secara langsung kau pasti tak akan mau mendengarkannya....
...Sampai saat ini aku masih mencintaimu, dan tak ingin aku dengan yang lain....
...Aku sudah berusaha selama dua tahun ini dan tak mendengar semua perkataan buruk orang tentang kau apa pun itu....
Yang aku percaya sekarang hanya dari ucapan di bibir mu saja.
Memang dulu itu kesalahan ku yang tak pernah mendengar dan memperhatikan penderitaan yang kau alami selama di rumah orang tua mas.
__ADS_1
Sekarang mas sudah berubah dan mas akan membawa keluarga kecil kita hidup mandiri dan tanpa mendengar orang berkata buruk sana-sini lagi.
Bulan depan mas akan jemput kalian disana dan tinggal bersama mas di rumah kita sendiri bersama-sama.
Mas Bima suami mu ❤️
***
Diah menangis membaca isi surat itu, karena sampai saat ini Bima benar-benar masih mencintainya. Aira melihat mamanya menangis menjadi sedih dan merasa bersalah.
"Ma, sebenarnya ini ponsel dari ayah, saat ayah mau pulang, Aira di berikan ayah ponsel agar kami bisa saling berbicara bersama ma...," ujar Aira yang sangat sedih karena melihat mamanya juga sedih.
"Ya tidak apa-apa sayang, mama mengerti kok dengan perilaku kamu begitu."
"Ya sudah mama mau kembali bekerja lagi ya? Kamu jangan lupa buat pekerjaan sekolah kamu segera, dan obatnya serta istirahat." Diah mengingatkan anaknya.
"Iya ma, Aira mengerti." Aira menjawab.
Diah pun tenang hatinya dan tak akan mempermasalahkan ponsel itu lagi. Dulu memang Diah membawa ponsel di tas kecilnya. Namun saat di perjalanan menaiki bus, ponsel itu hilang dan tak tahu kemana.
***
Malam sudah larut, tapi Diah belum juga tidur. Dia masih ingat akan isi surat itu, dan ingin mengambil suatu keputusan. Tapi Diah masih belum bisa bertindak untuk saat ini, karena dia belum membicarakannya ke bu Sriana.
Dilihatnya ponsel itu berkedip lampunya tapi tanpa ada suara, Diah mengambilnya dan melihat serta membuka pesan yang ada disana.
"Maaf Aira sayang, ayah tidak tahu ada pesan dari kamu tadi. Ayah baru saja pulang dari kantor karena ada begitu banyak pekerjaan ayah disana. Kamu tidurlah hari sudah sangat malam, dan besok kamu sudah harus ke sekolah pagi-pagi sekali." isi pesan tersebut.
"Iya mas, Aira sudah tidur." Diah membalas pesan itu.
Bima pun merasa terkejut karena yang membalas pesan adalah istrinya Diah. Bima segera membalas pesan itu lagi kepada Diah, kali ini dia membalasnya dengan sangat senang sekali.
"Sayang kamu belum tidur?" tanya Bima suaminya.
"Belum mas, masih duduk sambil menatap surat dari kamu itu." kata Diah dengan polosnya.
"Sayang, kali ini aku tak akan mengecewakan kamu lagi dan lebih mengutamakan keutuhan rumah tangga kita."
__ADS_1
"Kembalilah kepada ku, dan menjadi istri mas lagi. Aira sangat menantikan hari itu, dan bulan depan mas akan datang." ucap Bima dalam pesan ponsel itu.
Diah hanya diam dan tak membalas lagi. Ponsel itu pun dimatikannya dan dia segera pergi tidur karena memang matanya sudah mengantuk sekali.
***
Ibu Bima masuk rumah sakit lagi...
"Bu.., bu..!"
"Asik kerumah sakit terus-terus sih buk, ini rumah sakit bu. Dan kalau sakit itu perlu uang!"
" uang sulit dicari bu! Kok malah ibu enak-enak mengeluarkannya. Suruh tuh anak ibu Bima yang rawat dan minta dong uang tuk perawatan ibu." ucap Lastri yang terus saja mengomel.
Lastri selalu mengeluh dan tak pernah tulus menjaga ibunya sendiri. Dengan mertuanya juga dia sangat tidak cocok dan ke para ipar-iparnya.
Tut...
Tut...
"Hallo?" ucap Bima.
"Hei Bima ibu sakit nih di rumah sakit. Jangan kau tak perduli setelah bekerja jauh dengan gaji mu yang tak seberapa itu."
" Kirim uang pengobatan ibu setidaknya kalau kau tidak bisa mengurusnya." Lastri pun menutup ponselnya tanpa mengucapkan salam.
Bima langsung memberi tahukan kepada orang untuk membayarkan semua pengobatan untuk ibunya yang sekarang sedang ada di rumah sakit.
Bima tak ingin ribut dengan kakaknya, masalah uang itu bukan hal yang sulit lagi bagi Bima sekarang. Bima semakin hari semakin banyak belajar menjadi anak, suami dan ayah yang baik saat ini.
Monik juga sudah tak mau mengurus ibunya yang selalu keluar masuk rumah sakit. Monik merasa selama ini hanya dia saja yang mengeluarkan uang untuk ibunya. Makanya sekarang dia sudah tak memperdulikannya lagi. Monik sekarang hanya fokus dengan dirinya dan rumahnya.
Monik ingin rumahnya di isi dengan barang-barang mewah dan sangat mahal. Tapi dia tak melihat sedikit pun ibunya yang ada di rumah sakit.
Monik hanya mengirim roti dan kue saja ke rumah sakit dengan sistem pengantar, bukan dia yang datang.
Kali ini ibunya merasa sedih memiliki anak-anak yang begitu perhitungan sekali tenaga, uang dan perhatian kepada ibu kandungnya sendiri. Bahkan suaminya sendiri pun selalu yang dipikirkan mencari uang tanpa menjaga istrinya sama di rumah sakit.
__ADS_1