
Bima tak setuju akan hal itu, dia tak mau melarikan diri karena sudah menanda tangani surat perjanjian bermaterai.
Karena bisa - bisa dia akan di jebloskan ke penjara, dan kalau itu terjadi maka akan lebih parah lagi nasib Diah dan anaknya.
Bima saat ini masih belum ada solusi untuk hal ini, dia tak tahu mau bagaimana.
Sampai saat itu Bima ingin membuat Tiara membencinya dengan cara selalu kasar dan tempramen yang tak stabil.
Sampai saatnya tiba hari pernikahan yang sengaja di percepat. Tiara semakin kesal melihat kebahagiaan Bima dan Diah sekarang. Tiara tak mau lagi bermain - main dan dia juga tak sabaran, untuk dapat memiliki Bima dengan kelembutannya saat bersamanya.
"Ma, ada yang mau aku bilang ke mama." ujar Bima yang ingin memberi tahu sesuatu.
Bima lalu memberikan ponselnya yang berisi pesan dari Tiara, Diah membacanya dan menangis ketika tahu hal itu.
"Hiks, hiks, jadi apa yang akan kamu lakukan mas? Apa yang akan kamu lakukan...?! hiks, hiks..." Diah sudah tak mengerti lagi saat ini.
"Kalau kau tetap mau bersamanya mas, lebih baik kau pulangkan aku ke orang tua ku dan kita bercerai saja mas." pekik Diah yang sudah tak sanggup lagi.
Diah yang kesal pergi masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar itu.
Aira keluar dari kamarnya, dan dia ingin mengambil minum karena sudah haus.
"Dimana mama yah?" tanya Aira.
" Oh.., mama di kamar katanya capek sayang...?" ujar Bima yang menutupi ke tidak akurnya mereka hari ini.
"Kenapa? Aira mau apa?" tanya ayahnya.
" Gak ada yah, Aira cuma mau ambil minum saja di dapur. Dan Aira juga mau tidur ya yah!" kata Aira yang tak tahu kalau ayah dan mamanya sedang tak bersahabat.
__ADS_1
***
Lastri kakaknya sekarang suka datang ke rumah Monik, dia selalu suka bercerita yang mengada - ngada.
Lastri suka sekali mencuci pikiran saudara atau tetangganya, bahkan ibunya sendiri sudah dia hasut dan terjadilah mertua dan menantu yang jadi tak harmonis.
Kehidupan Monik sekarang agak lumayan dari Lastri, jadi Lastri ingin memanfaatkannya.
" Assalamualaikum... Monik." Lastri mengucap salam.
kau apa kabar sekarang? kami sekeluarga pada sakit, anak - anak kakak juga sakit."
"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat di rumah kak, kenapa kak?" tanya Monik.
"Tapi ibu dan bapak untungnya gak sakit. Maksud kakak...., kakak mau minjam uang mu beberapa ratus saja."
"Kakak lagi gak ada uang, suami kakak juga sakit dan belum kerja sudah seminggu di rumah saja."
"Oh, iya kak nanti aku kasih ke kakak ya.., mas Damar aku suruh mampir ke sana nanti saat pulang kerja." ucap Monik yang prihatin ke kakaknya.
"Terima kasih ya Monik, semalam kakak dan ibu mencoba datang ke rumah Bima pagi - pagi sekali untuk pinjam uang ke sana. Tapi Bima ke buru sudah pergi kerja, kakak dan ibu bingung mau kemana jadi kakak coba pinjam ke kamu."
"Ibu dan bapak sebenarnya sedang kekurangan uang untuk makan, sedangkan kakak saja dan abang ( suaminya ) sudah tak bekerja seminggu ini, dan uang simpanan kakak juga sudah mulai habis. Sekarang ibu pergi ke kampung untuk mencari pinjaman di sana."
"Sedangkan pinjam sama Bima istrinya yang ada di rumah marah - marah dan mengusir kakak sama ibu saat itu. Hiks, hiks.." Lastri memainkan dramanya dengan sangat sempurna.
" Atau begini saja kakak, nanti aku transfer saja ke rekening kakak, nanti kirim saja no rekeningnya ya kak. Oke, aku mau masak lagi, nanti akan segera ku kirim dan itu semua tak perlu kakak bayar ke aku." ucap Monik yang langsung mematikan ponselnya.
Lastri pun tersenyum puas karena sebentar lagi dia akan mendapat kiriman dari Monik, dan itu semua tak harus membayar hutang kepadanya.
__ADS_1
"Hahaha..., ternyata enak juga ya punya adik orang kaya. Sedikit memelas dan uang pun di kirimkan, mungkin harus rajin aku mainkan peran akting ku." ucap Lastri dalam hatinya.
Monik tak tahu kalau dia sedang di mainkan oleh Lastri kakaknya, Monik saat ini pun mulai terpengaruh untuk membenci Bima dan Diah istrinya.
Lastri berbohong dan memutar cerita tersebut ke Monik, padahal Lastri dan ibunya saat ke rumah Bima karena mau melabrak dan menghinanya di sana.
***
Sementara Diah sudah menyusun baju - bajunya di rumah dan memasukkan ke dalam tasnya.
Dia sudah bersiap akan pergi dari Bima yang gak bisa mengambil keputusan atau mencari solusinya.
Bima saat ini pergi mencari pekerjaan baru, Diah tak tahu kalau suaminya sudah di pecat dari pekerjaannya itu.
Pagi ini memang Bima pergi seperti biasa dan tak ada yang aneh sehingga Diah tak ada curiga apa pun.
Bima yang ke sana kemari tak tahu kalau Diah ingin pergi darinya. Lalu tiba - tiba ponsel Bima masuk sebuah pesan dari Diah, tapi Bima tak mendengarnya saat sedang di jalan mencari - cari pekerjaan.
Saat jam pulang sekolah sudah tiba, dan Aira sudah pulang sampai di rumah, Diah langsung pergi dari rumah itu.
Karena menurutnya Bima sudah tak perduli lagi padanya karena tak membaca dan bahkan tak membalas pesan darinya tersebut.
Dan Diah mengira Bima akan tetap menikahi Tiara karena tak mau ikut pergi bersamanya. Bima malah menolak untuk pergi bersamanya untuk meninggalkan kota itu dan pindah ke kota yang lain.
Bima pun tak berani untuk pulang karena belum mendapatkan pekerjaan siang itu. Bima tak makan di luaran, dia hanya mengganjal perutnya dengan sepotong roti yang harganya hanya 2 ribu dan aqua gelas satu cup saja demi menghemat pengeluarannya.
Dengan tak sengaja Tiara melihat Bima yang sedang duduk kepanasan dengan roti yang dimakannya. Tiara pun membelikan nasi bungkus dan memberikan kepadanya saat itu.
"Mas, kamu ngapain di sini? Masa calon suami ku kepanasan..., masuk ke mobil ku yuk mas pulang ke rumah dan kita bisa bersenang - senang. Lagian gak apa - apa dong... kan sebentar lagi kita akan menikah." pekik Tiara yang menggodanya.
__ADS_1
"Sudah pergilah kau dari sini. Aku tak sudi melihat kau. Dan aku tak akan datang ke pernikahan itu, kau jangan harap bisa memaksa ku." ujar Bima yang kesal kepadanya.
" Ya..., terserah mas saja bagaimana. Bagi ku yang penting Minggu depan akan tetap berjalan seperti yang aku inginkan. Oh iya sayang makanlah nasi, nanti kau kelaparan dan saat pernikahan kita kau tak terlihat tampan. Apa lagi saat malam pertama kita nanti mas Bima gak akan kuat melawan ku di sana." Tiara tanpa rasa malu mengatakan semua itu kepada Bima yang jelas - jelas tak menyukainya.