Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 105. Bekerja dan Bisnis


__ADS_3

Bima keesokan paginya sudah mengatur janji dengan rumah sakit yang lainnya untuk memeriksa keadaan Diah. Bima bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan semuanya dengan sangat cepat.


Sementara hari ini juga Aira masuk sekolahnya, sekarang sudah masuk SMP dan semakin pintar dalam segala hal. Bima saja yang berdebat dengannya kalah untuk mengelak dari diri Aira untuk beberapa hal.


Setelah mengantar Aira ke sekolahnya, Bima memutar setir mobilnya dan pergi ke arah rumah sakit saat itu juga.


"Mas, kita mau kemana sih? Bukannya mas harus masuk kantor sekarang? Dan mama harus ke butik pagi ini mas..," ucap Diah mengingatkan.


"Iya mas ingat semua kok, ini sebentar saja ada urusan sama dokternya." ujar Bima sambil tersenyum.


"Sudahlah mas, aku sudah tidak bisa hamil lagi. Rahim aku kan sudah di angkat kemarin itu." Diah tertunduk sedikit sedih.


"Lagian kalau kamu memang mau punya anak lagi kamu bisa menikah lagi saja kok mas.., Aku gak apa-apa." Diah memberi saran kepada Bima suaminya.


Bima hanya diam saja, tanpa menanggapinya. Dia hanya fokus ke jalanan dan tujuannya saja ke rumah sakit. Diah terlihat sedih dan merasa dirinya tak berguna di hadapan suaminya.


Mobil berhenti dan mereka segera turun dari mobilnya, Bima mengajak istrinya Diah untuk masuk ke dalam bertemu dengan dokter.


"Apa keluhannya ibu saat ini tentang siklus bulanan ya bu?" tanya dokter itu.


"Kenapa dokternya tahu ya? Padahal kan belum saya beri tahu." berkata dalam hatinya.


"Baiklah bu, kalau gitu kita periksa dari urin saja dulu ya." dokter menyuruh susternya segera.


"Tapi dok, saya sudah tidak punya rahim lagi. Dan mana mungkin akan bisa hamil lagi dok?!" Diah menjelaskan.


"Saya sudah membaca catatan medis ibu beberapa tahun yang lalu dan itu bukan pengangkatan rahim." ucap dokter itu.

__ADS_1


"Ibu hanya operasi pembuangan indung telur yang sebelah kiri saja." dokter itu menjelaskan.


"Ternyata mas Bima sudah menyiapkannya saat ini." dalam hatinya bergumam.


Diah pun mengeceknya dengan testpack, dan suster melihatnya kembali. Suster akhirnya mengangguk dan membenarkannya. Dokter itu pun menyuruh Diah untuk berbaring di tempat tidur dan mengecek keadaan rahimnya.


Diah dan Bima sangat ingin tahu keadaan penyakitnya Diah yang lama dulu. Diah berbaring dan dokter itu memeriksanya, mengecek dengan alat melihat dilayar monitor.


"Semua bagus, dan ini sudah tiga bulan usia kandungannya. Semua sempurna dan perkembangan sangat sehat, hanya saja jenis kelamin belum terlihat dengan jelas." dokter memberi tahukan.


"Hah?! Saya hamil tiga bulan dok?!" Diah terkejut sekali mendengarnya.


Diah menatap ke arah Bima dan suaminya itu tersenyum kepadanya. Diah masih bengong dan merasa tak percaya akan rahmat yang Allah berikan kepadanya. Diah menangis dan sedikit shock untuk adanya bayi di dalam rahimnya.


Bima menggenggam tangan istrinya karena merasa senang, kali ini Bima sudah pasti kalau dokter mengatakannya secara langsung dan bukan praduga di dalam hatinya.


Diah dan Bima pun selesai pemeriksaannya dan sudah menebus obat serta vitamin. Bima sepanjang jalan sangat senang dan tersenyum terus selama menyetir.


"Mas apa ini...," Diah terhenti.


"Sudah jangan banyak dipikirkan lagi, terima kasih ya sayang ku.." Bima sangat senang dan berencana akan membuat kejutan nanti malam sepulang dari kantornya.


****


Lastri mulai tinggal di rumah sakit namun di kunci di ruangan jeruji bagai dalam penjara, karena dia mengalami gangguan mental yang dulu pernah di lakukan orang kepadanya. Dan itu juga karena faktor stresnya serta impiannya yang terlalu serakah ingin memiliki semua yang dia mau.


Setiap hari dia memanggil Rendy terus sambil mengamuk-ngamuk di dalam kamar berpintu jeruji itu. Suster juga gak berani masuk sendirian kalau Lastri sedang mengamuk dan kambuh begitu.

__ADS_1


🗓️ Lima bulan sudah berlalu...


Lastri berangsur-angsur membaik, tapi masih perlu terus disuntik obat ke dalam tubuhnya. Sekarang Lastri lebih sering menangis dan merindukan anak-anaknya, dan sebenarnya dia butuh dukungan perhatian dari keluarga.


Tetapi keluarganya tak ingin melihatnya karena takut akan menjadi marah dan mengamuk kembali seperti yang sebelumnya. Ketika siang itu di jenguk oleh Vera dan dia malah marah dan memukul Vera dengan benda yang ada disana.


Maka dari itu keluarga dan anak-anaknya takut untuk melihatnya disana. Karena keadaannya belum stabil walau sudah sedikit berkurang tak seperti biasanya. Dokter juga menyarankan untuk membawa foto-foto saja yang bisa dia lihat bila rindu dengan keluarganya.


Anak Lastri yang paling besar sudah bekerja sekarang dua bulan yang lalu telah lulus dari sekolahnya. Tapi dia tak mau melanjutkan pendidikannya, dia malah menelpon ayahnya untuk bisa ikut bekerja bersamanya.


Ayahnya pun juga mengerti keinginan anaknya, jadi Agus anak pertama Lastri dan Rendy pun ikut pergi merantau bekerja di luar kota. Dan 3 bulan sekali baru kembali saat cuti selama 2 pekan, lalu kembali lagi pergi setelah selesai cutinya.


Agus sebenarnya lebih memilih kerja karena ingin menghilangkan pikirannya tentang kedua orang tuanya dirumah itu. Belum lagi adik-adiknya yang masih memerlukan biaya untuk sekolah mereka serta uang makan dan biaya mama mereka ( Lastri ).


Agus kini sudah memikul berat beban dari perbuatan orang tuanya yang bercerai dan hancur seperti ini. Sempat dia ingin menghindari kenyataan dan ingin pergi tak ingin kembali. Tapi dia terpikir adik-adiknya yang sudah tak diurus oleh mamanya lagi dan kini harus menumpang lagi di rumah nenek mereka.


***


Ibunya Bima sudah sehat dan sekarang sudah mulai jualan lagi di depan rumahnya, kini Bima membantu memberi modal kepada kedua orang tuanya.


Namun Bima tak lupa akan menabung untuk segera membeli rumah mereka sendiri, karena rumah yang di tempati sekarang adalah milik perusahaan Dito yang menjadi fasilitas untuk Bima saat ini.


Bima juga mensuport bisnis Diah yang sekarang sudah berkembang pesat, ibu Sriana juga pernah datang melihat-lihat sekalian ada urusan juga dengan kliennya yang mau nikahan di Bali. Dan bu Sriana memperkenalkan Diah kepada kliennya itu, jadi kalau ada sesuatu gak perlu jauh-jauh untuk memesan bisa lewat Diah saja.


Diah sudah membuka butik ya selama setahun, dan bulan depan akan ada resto yang akan di buka Dito pas di samping butik Diah. Dito juga sudah tahu aspek akan sangat menguntungkan. Diah juga gak keberatan, dan konsepnya diserahkan kepada Diah dan Bima yang akan mengaturnya.


Sedangkan Raisa akan memilih konsep menu dan minuman yang akan di jual disana. Karena Raisa lebih ahli dalam bidang hal itu, sebab dia sudah berpengalaman di bidangnya. Dan Raisa sudah bekerja di cafe menjadi pelayan sudah 2 tahun, jadi seluk beluk yang anak muda suka serta yang lagi di idamkan Raisa mengerti dan tahu semuanya saat ini.

__ADS_1


Diah juga pernah mencicipi masakan Raisa yang sederhana tapi rasa sangat menakjubkan, saat Raisa main ke Bali survei dan menginap di rumah Diah tidur bersama Aira di kamarnya hanya satu malam saja.


Bersambung....


__ADS_2