Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 99. Kondisi Mertua


__ADS_3

Hari weekend, Bima dan keluarga Sania pergi ke wahana permainan. Itu merupakan tiket gratis dari Dito yang Bima dapatkan bonus pekerjaannya saat hari itu. Diah tidak ikut pergi mereka, dia ingin bersama papanya merawat papanya hari itu.


Karena besok Senin Diah dan keluarga kecilnya akan kembali pulang ke Bali lagi. Jadi hari itu Diah ingin menghabiskan waktunya dengan papanya saja di rumahnya.


Diah ingin menebus kesalahannya yang mengabaikan orang tuanya saat pergi untuk waktu yang lama. Dan Diah tak pernah terpikirkan kalau semua akan jadi seperti ini. Dalam benaknya ada rasa rindu namun, tak tahu mau bagaimana menghubungi mereka karena Diah tak memiliki nomer mereka. Ponselnya di curi saat di dalam bus yang mereka naik saat mau ke Yogyakarta.


Saat dirumah papa banyak cerita pada Diah tentang mamanya yang selalu menunggu kabar dirinya. Mamanya memang sudah lama sakit, ditambah mendengar Diah pergi dari rumah mamanya bertambah kritis karena memikirkan Diah anaknya yang paling besar.


Diah sangat sedih saat mendengarkan papanya bercerita. Dan kini papanya harus tidur siang setelah minum obat seperti yang di katakan oleh Sania.


Dan Diah pun mengikuti peraturannya, papanya pun hari ini sangat senang bisa bersama dan melihat anak kesayangannya itu. Dua tahun papanya ikut mencari namun karena kondisi istrinya yang sakit dan meninggal pencariannya terhenti.


Hari-harinya suram dan penuh luka, istri tercinta pergi meninggalkan dia dan putri kesayangannya pun entah kemana. Sekarang di usianya yang sudah renta masih bisa Diah melihat senyuman di wajahnya itu.


***


🗓️ Flash Back


Saat keesokan harinya setelah satu malam tidur di rumah papanya Diah. Mereka ke rumah sakit menjenguk ibunya Bima, dan disana ada bapak dan Vera adiknya Bima.


Diah menyapa Vera fan menyalami mertuanya yaitu bapaknya Bima.


Lalu Diah berjalan beberapa langkah untuk melihat dari dekat kondisi ibu mertuanya.


Diah menyentuh tangan mertuanya dan mengelusnya. Dalam hatinya dia melihat itu adalah tangan dari sosok seorang ibu.


"Tangan ini begitu hangat saat di genggam olehnya, apa lagi dari tangan ini juga dapat di rasa kasih sayang yang tulus."

__ADS_1


"Mama aku sudah pergi, belum sempat aku menyentuh tangannya lagi. Tangan mama yang selalu menjadi penolong bagi anak-anaknya." Diah menangis dan berkata dalam hatinya.


Diah menyeka air matanya saat Vera datang menghampiri.


"Mbak ibu kepalanya terbentur saat terjadi kebakaran dan sampai saat ini belum sadarkan diri."


"Tapi aku hampir putus asa, tiap hari mengajaknya bicara namun ibu tak sadar juga. Dokter berkata dia tidak bisa sadar membuka matanya, akan tetapi dia bisa mendengarkan kita berbicara."


"Dokter juga menyarankan beri dia selalu respon dari kata-kata kita, dan dia bisa mendengar dari alam bawah sadarnya. Itu bisa cepat membantunya keluar dari komanya selama ini." ucap Vera menjelaskan dari tadi.


Diah pun mengerti, lalu Diah mencoba mengajaknya berbicara dengan masih menyentuh tangan ibu mertuanya.


Sementara Bima dan bapak keluar entah kemana, mereka hanya pamit ingin pergi saja ke Vera.


"Bu, ini Diah datang untuk melihat ibu. Maaf sudah menyusahkan ibu selama dua tahun lebih ini karena kepergian ku bu. Diah minta maaf ya sama ibu dan bapak juga."


"Sekarang Kami tinggal di Bali bertiga, Aira juga sudah besar dan semakin cantik. Tapi Aira tidak ikut karena kami masih harus pergi ke tempat yang lain karena urusan jadi sepakat untuk tidak membawanya."


Bima dan bapak kembali dan mereka mengajak Diah untuk pergi ke rumah. Bima ingin melihat kondisinya sekarang ini, dan setelah dari rumah ibunya Bima akan kerumah Dito selanjutnya. Tapi mengantar Diah pulang terlebih dahulu, karena masih harus mengurus papanya saat malam. Karena Sania akan kembali pulang kerumahnya setelah habis magrib.


"Sayang ayo kita pergi, mas ada pertemuan lagi dengan pak Dito. Dia sudah menelpon dan membuat jam pertemuan dirumahnya, jadi mas tak ingin terlambat." ucap Bima ke Diah.


"Vera, abang pergi dulu ya? Dan ibu, Bima pamit pulang, besok Bima akan kesini lagi bersama Aira cucu ibu yang cantik." kata Bima dan mencium kening ibunya.


"Bu.., Diah pamit ya.. segeralah sembuh dan nanti Aira akan senang melihat ibu." Diah pun pergi.


Diah juga pamit ke Vera saat dia mengantar ke depan pintu kamar ibunya yang dirawat.

__ADS_1


Sel syaraf di otak ibunya sedikit bekerja, dan mulai ada respon disana, jarinya sedikit bergerak tapi Vera tak mengetahuinya.


Ibunya sangat ingin berkata jangan pergi ke Bima dan Diah, karena dia sangat tersiksa tak ada mereka. Ibunya sangat rindu saat Diah merawat ketika dulu ibunya sakit, menantunya yang menolong dan membantunya. Semua segala urusan di rumah Diah yang melakukannya, bahkan tak pernah menyusahkan mertuanya dari anaknya Aira.


Bima, Diah dan bapaknya pulang kerumah untuk melihat kondisinya sekarang bagaimana. Dan Diah tidak pernah tahu kalau rumah ibunya itu terbakar karena anak-anak Lastri penyebabnya.


Mereka sampai di rumah, orang tuanya Bima. Diah melihat di lingkungan sekitar tak banyak yang berubah. Tapi bangunan rumah mereka sekarang sangat banyak berubah, Diah berjalan masuk ke gang dan menyapa mereka yang Diah temui.


"Bu.., apa kabar?" tanya Diah.


"Bu, lagi apa nih..?" tanya nya lagi.


Senyumnya selalu merekah kepada tetangga di sekitar rumah mertuanya.


Dan mereka yang disapa Diah juga hanya membalas tersenyum ramah.


"Siapa dia ya? Seperti tak asing wajahnya..?!" ucap salah satu dari para tetangga itu.


Diah pun berjalan mengikuti Bima dan bapaknya yang masuk ke dalam rumah bercat putih biru itu. Diah melihat sekelilingnya dan memperhatikan kondisi diluar rumah mertuanya itu.


Semua tampak sangat berbeda dan Diah pun pangling, ternyata sedikit parah berarti saat kebakaran itu terjadi pikirnya. Diah lalu masuk melihat-lihat kembali dan mengingat kenangan dirinya saat masih tinggal di rumah itu.


Diah teringat lagi kata-kata yang pernah membuat hatinya sakit dan segala macam yang pernah dia terima. Tapi Diah langsung menggelengkan kepalanya dan tak ingin mengingat kejadian itu lagi saat ini.


Apa lagi itu sudah berlalu cukup lama dan tak baik kalau harus mengingatnya terus pikir Diah begitu.


"Baiklah pak, semua sudah selesaikan? Dan semua sudah aku urus pembayaran melalui teman ku itu, dan ini akan kerumahnya. Dialah atasan di perusahaan ku saat ini, dan hari ini sudah janji akan bertemu." ucap Bima menjelaskan ke bapaknya.

__ADS_1


"Baiklah nak, bapak sekali lagi berterima kasih atas bantuan mu untuk rumah ini." ucap bapaknya.


Bapaknya juga berterima kasih kepada Diah yang masih perhatian ke ibu mertuanya dan mengingat orang tua sampai sekarang.


__ADS_2