Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 104. Istirahat


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu dan polisi memberi kabar pada Rendy, mereka menjelaskan bahwa ini sangat sulit dan belum pasti. Tapi semua mengarah pada Lastri mantan istrinya itu, walau terlihat sangat tak mungkin dia pembunuhnya.


Sikapnya lembut dan tidak pernah berbicara sama sekali dengan korba selama seminggu sudah menyewa di sebelah rumahnya. Tapi itu semua masih praduga yang polisi beri tahu kepada Rendy, belum ada barang bukti yang bisa untuk menangkapnya.


Sampai sebulan kemudian anaknya Lastri yang buka suara, saat dia bertemu dengan Rendy di warung sedang berbelanja.


"Papa saat hari itu mama ke rumah tante, istri papa yang baru."


"Mama membawa beberapa camilan, tapi saat pulang camilannya malah di makan sama mama dan sambil tertawa."


"Setelah itu mama tertidur karena sudah kenyang, dan beberapa hari ini mama seperti bukan mama yang dulu lagi."


"Dia sering tersenyum sendiri dan marah-marah sendiri tanpa sebab, dan kami sering dimarahinya tanpa tahu apa kesalahan kami." anaknya mengadu kepada papanya.


Akhirnya Rendy mengerti dengan ucapan anaknya itu, dia segera menghubungi polisi dan menceritakan semuanya. Akhirnya Lastri di tangkap dan di interogasi polisi, apakah dia bersalah atau tidak.


Dan polisi melihat ada yang aneh dengan kondisi mental Lastri, ucapannya selalu kemana-mana dan suka tertawa sendiri. Polisi pun mengerti dan membawanya ke dokter spesialis untuk memeriksa keadaan mental dan jiwa Lastri.


Dokter pun memeriksanya, seketika Lastri mengamuk dan memberontak. Dia tak senang kalau di periksa, dan mengaku dia sangat sehat tak ada sakit sedikit pun.


"Aku sehat, aku tak sakit, hahaha...," Lastri sikapnya berubah-ubah.


"Dia memang ada gangguannya sedikit dan mungkin terlalu stres atau yang lainnya." ucap Dokter.


Polisi pun memberi tahukan hal itu ke Rendy, dan dia mengerti. Rendy lalu membawa anak-anaknya bersamanya ke rumah orang tua Lastri. Sampai disana Rendy berbicara berdua saja pada bapaknya Lastri.


"Iya memang sewaktu gadis dulu dia pernah begitu, dan itu karena mulutnya dan sifatnya yang suka mengusik orang lain."


"Dia pun menjadi menggila saat itu kumat pada dirinya. Padahal sudah bapak obati, tapi tak disangka dia akan sampai membunuh orang lain seperti itu." bapaknya Lastri menangis dan merasa sedih melihat anaknya.


Karena Lastri itu adalah anak kesayangannya dari dulu, namun karena dimanja jadi sikapnya kurang baik kepada orang-orang. Ibunya Lastri masih istirahat di dalam kamarnya dan siang itu baru minum obat.


Rendy yang datang ke rumah bapaknya itu ingin meletakkan anaknya di rumah orang tuanya Lastri.

__ADS_1


Karena Rendy bermaksud akan merantau dan dari atasannya dia di tempatkan ke NTT besok. Tapi akan tetap memberi nafkah untuk anak-anaknya. Itu yang Rendy ingin katakan ke bapaknya Lastri, dan mereka harus tahu kenyataannya bahwa Lastri harus membayar perbuatannya dengan berada di penjara saat sudah membaik di rumah sakit.


****


Diah yang membuka butiknya...


Diah selama ini tak ada mengeluh apa pun saat ini, tapi sudah dua bulan ini dia tak ada datang bulan seperti biasanya. Dia sudah cek ke rumah sakit dan tidak ada apa-apa saat ini, dia juga sudah USG untuk melihat keadaan disana.


Bima sebenarnya merahasiakan sesuatu pada Diah yang tentang pengangkatan rahimnya. Diah sangat phobia penyakitnya dulu, yang ternyata hanya indung telurnya saja sebelah yang sudah rusak dan harus diangkat. Bima tak ingin istrinya ketakutan akan penyakitnya yang dulu di deritanya, karena Diah pernah berpikir bahwa dia akan meninggal karena penyakitnya itu dan mengkhawatirkan anaknya Aira yang masih kecil.


Tapi Bima pernah melihat Diah melihat foto-foto bayi lelaki di ponselnya, dia menangis dan tersenyum tipis di wajahnya. Bima mengerti akan keinginannya untuk hamil kembali, diam-diam Bima berdoa agar di beri amanah lagi untuk dititipkan seorang malaikat kecil kepada mereka.


"Mas, aku sekarang kok baru merasakan pusing setiap bangun pagi. Dan mual banget rasanya mas, apa aku sakit ya mas?" tanya Diah yang tak bangun dari tempat tidurnya.


"Ya kalau kamu sakit gak usah ke butik saja dulu sayang..., kalau sarapan biar aku yang siapkan, bagaimana?" ucap Bima yang mengecup dahi istrinya.


" Tapi kan mas..., butik aku itu...," Diah tidak melanjutkannya lagi.


Bima sudah pergi dan tak mau tahu akan ucapan istrinya yang selalu keras kepala bila di nasehati.


Diah tersenyum dan merasa malu, dia menarik selimutnya dan kembali tidur lagi di kasurnya.


"Dia sungguh manis pagi ini, hah... aku ingin memeluknya di atas ranjang sekarang." ucapnya dalam hati.


Bima menduga mungkin kali ini istrinya hamil anak mereka yang kedua. Tapi Bima masih berharap itu adalah benar dari tanda-tandanya yang suka mual setiap pagi.


"Besok akan aku ajak dia untuk ke rumah sakit lagi, dan untuk cek sekali lagi."


"Kalau memang begitu, Diah harus banyak istirahat dan aku tidak mau kehilangan anak ku untuk kedua kalinya lagi." kata Bima dengan penuh keseriusan.


"Pagi ayah...?" Aira menyapa ayahnya.


"Ayah mau sarapan? Aira sudah buatkan nasi goreng untuk semuanya...," Aira berkata dengan gembiranya.

__ADS_1


"Aira masak nasi goreng? Kami sudah bisa memasak sekarang?" tanya Bima heran dan terkejut.


"Iya yah, tapi baru nasi goreng, telur ceplok, dan telur dadar saja yah.., yang lainnya belum bisa. Hehehe...," Aira tertawa.


"Wah, kamu hebat. Itu awal yang baik sayang.., nanti juga akan bisa semuanya kok. Asal kamu nya mau belajar terus, tapi hati-hati kalau memasak ya sayang." Bima menasehati anaknya.


"Hem, mama kok gak turun yah?" tanya Aira yang sedang melihat ke arah atas.


"Iya, mama sedikit tak enak badan. Kamu jaga mama di rumah ya..?"


"Kamu kan belum mulai masuk ke sekolah. Nanti antar sarapan mama roti dan susu saja, karena sedikit mual kata mama."


"Hem..., ternyata nasi goreng kamu enak banget loh.., sudah sarapan apa belum?" tanya ayahnya yang memuji masakan Aira.


"Belum yah? Kalau begitu Aira makan juga deh."Aira mengambil Piring dan menyendok nasi gorengnya.


Ayah dan anak begitu gembira sarapan berdua saja disana. Aira sangat mengidolakan ayahnya, karena baginya ayahnya yang terbaik di dunia ini. Mereka sarapan seperti sepasang kekasih saja pagi yang penuh ceria itu.


Lalu Diah turun dari atas dan melihat mereka penuh cemburu.


"Ayah sepertinya kekasih mu sudah datang, dan Aira akan pergi mandi dulu ya ayah, mama..., selamat pagi ma..," ucap Aira yang memang sudah gerah dari pagi tadi menyiapkan sarapannya.


"Kau turun untuk sarapan?" tanya Diah.


"Ya..., kalau tak turun pasti tak akan tahu ada keseruan di meja makan pagi ini." kata Diah yang sedikit cemberut.


"Jangan begitu, lihat ini hasil masakan anak kita. Semua ini dia yang siapkan dari tadi pagi, katanya Aira belajar dari diri mu sayang." ujar Bima.


"Benarkah begitu sayang? Wah.., Aira anak yang hebat dan juga baik sama kita ya mas." Diah sangat senang Aira sudah pandai memasak.


"Ya.., dia seperti diri mu yang terlalu baik dengan siapa pun." ucap Bima.


"Astaga..! Mas sudah terlambat." ucap Bima yang langsung bergegas mengambil tasnya.

__ADS_1


"Mas berangkat ya sayang, jaga kesehatan dan istirahatlah dirumah." Bima menatap Diah penuh cinta.


Diah pun tersenyum dan mendengar nasihat Bima, dia pun akan tetap di rumah dan tak akan membuka butiknya hari ini. Aira dan Diah menghabiskan waktu bersama sambil menonton drakor di rumah saja, di ruang keluarga sambil tiduran dan makan camilan.


__ADS_2