
Tok, tok, tok...
"Non makan siang sudah siap non. Tuan menyuruh saya untuk panggil non ke bawah." kata art di rumah papanya.
"Oh iya mbok, terima kasih." ucap Diah yang menyeka air matanya.
Diah segera ke kamar mandi dan mencuci mukanya, lalu mengelap wajahnya dengan handuk putih yang ada disana. Dia segera keluar dari kamar dan turun segera untuk makan siang bersama. Diah cepat-cepat menggerakkan kakinya turun dari anak tangga satu persatu, karena papanya sudah menunggunya di meja makan.
"Sekarang mama sudah tidak ada, aku yang akan melayani papa makan di meja makan." ucapnya dalam hati.
Diah menatap mereka semua yang sudah duduk di kursi meja makan, dan papa juga ternyata sudah dilayani oleh Sania yang sudah kembali dari tadi. Anak-anak juga sudah duduk di kursi meja makan dengan tenang, mereka belum mulai makan karena masih menunggu Diah datang dan makan bersama.
"Maaf ya semua.., Aira, Mutiara sudah pada lapar ya..?"
"Pa, silahkan makan pa..," ucap Diah yang mempersilahkan.
Papanya Diah pun makan, anak-anak dan Sania juga ikutan makan. Kalau adik-adik Diah yang lain belum pada pulang kerja, jadi dirumah Sania lah yang mengurus papa di rumahnya.
Sekarang papa sedang dalam masa berobat jalan, karena syaraf kaki papa sedang ada masalah jadi tak bisa berdiri atau berjalan terlalu lama.
Setelah selesai makan Sania mengambil obatnya papa agar segera di minum oleh papanya. Lalu satu jam kemudian papa akan istirahat waktunya untuk tidur agar kerja obat lebih maksimal.
***
Sore harinya...
Bima yang duduk di depan teras rumah papa, sambil menikmati teh sorenya yang di buat oleh Diah istrinya. Tiba-tiba Sania datang menghampiri Bima disana, Sania duduk di kursi yang ada disana.
"Mas, maafkan saya waktu itu yang tak tahu. Kalau..., mbak pergi meninggalkan kamu mas." Sania berbicara sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah tak apa Sania lagian bukan salah kamu juga kok. Memang itu sudah jalan cerita rumah tangga kami, dan itu juga salah mas yang kurang memperhatikan istri mas sendiri." ujar Bima yang tak menyalahkan Sania.
Diah yang tadinya ingin menghampiri suaminya kini langkah kakinya terhenti, dia mendengarkan pembicaraan Sania dan Bima di balik jendela dari dalam rumah. Bima tak pernah berkata apa pun dan Diah juga tak mau menanyakan tentang bagaimana yang dirasakan Bima saat ini.
Dari cerita Bima yang di dengarkan Diah dibalik jendela itu, dia jadi tahu kalau Bima sangat berusaha mencarinya kemana-mana. Dan bahkan dia sudah sangat hidup penuh kesulitan saat itu, bahkan dia tinggal menumpang dengan sahabatnya yang menjadi bosnya sekarang yaitu Dito.
Sania juga merasa terharu dan sedih serta kasihan dengan Bima sebagai iparnya. Namun begitulah ujian cinta mereka hingga terlihatlah ketulusan dan kesuciannya sekarang ini. Sehingga memang sudah dipastikan mereka itu berjodoh biar bagaimana pun terpisahnya karena orang-orang yang tak suka pada cinta mereka.
__ADS_1
Tring...
Tring...
Tring...
"Oh, sebentar ya mas.., ada telpon dari mas Rayan." ucap Sania.
"Hallo mas, iya?"
"Oh baiklah mas, dirumah papa juga ada mas Bima baru datang." ucap Sania kepada suaminya.
"Oke mas, aku kesana sekarang kalau begitu." kata Sania.
Telpon pun di tutup dan Sania pamit untuk pergi ke kantor suaminya untuk menjemput suaminya disana. Bima pun mengerti dan membiarkan Sania berlalu dan pergi begitu saja.
Diah lalu datang menghampiri duduk di kursi yang di pakai Sania tadi.
"Mas, kamu mandilah dulu. Biar terasa segar dan beristirahatlah sejenak. Besok kamu bilang mau melihat ibu di rumah sakit, dan pulang ke rumah bapak." ucap Diah yang mengingatkan jadwal Bima.
"Oh iya sayang! Besok aku juga ada janji mau ke rumah pak Dito!" Bima pun terkejut dan belum menelpon Dito.
Diah hanya diam dan melihat Bima melangkah berjalan dari belakang tubuhnya. Bima pergi meninggalkan Diah yang masih duduk di teras depan itu sambil memandang ke taman kecil disana.
Diah menyipitkan matanya melihat lebih dalam lagi ke arah taman itu, ada bunga yang tak asing baginya dan sangat familiar. Diah datang melangkah kesana dan melihat bunga kenangan itu yang pernah ditanamnya dirinya dan mamanya dulu.
"Ini bunga yang dulu aku dan mama beli bersama di toko bunga itu."
"Bunganya masih hidup ma?!" ujarnya dalam hati.
Bunga itu tumbuh dengan indahnya dan bunganya berwarna kuning dan merah. Diah sangat sedih dan pilu bila melihat semua kenangan dan membuka memori lagi tentang mamanya.
"Semua ternyata masih ada dan tak kan bisa dilupakan dalam ingatan ku dan dalam hatiku ma." Diah pun tersenyum manis.
****
Dito dan Raisa
__ADS_1
Malam itu Raisa pulang dengan berjalan kaki untuk bisa sampai ke tempat angkutan umum. Lalu Dito mendekatinya dengan mobil yang dikendarainya. Dito membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil itu untuk menyapa Raisa diluar.
"Hai, kamu Raisa yang kerja di cafe itu kan?" tanya Dito.
"Oh, iya pak. Kenapa ya pak? Ada apa pak?" tanya Raisa.
"Oh, gak ada apa-apa. Boleh saya mengenal kamu lebih dalam lagi?" tanya Dito.
"Hah?! Maksud bapak apa?" Raisa terkejut mendengarnya.
"Bukan, maksud saya ingin tahu kamu dan orang tua mu. Soalnya kamu seperti tidak asing bagi ku." kata Dito menjelaskan.
"Kita bicaranya di tempat makan saja bagaimana? Kamu pasti belum makan malam kan?" tanya Dito.
Raisa menunduk lalu menggelengkan kepalanya memberi tanda kalau dia memang belum makan malam. Dito pun menyuruh Raisa masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari jalan itu menuju tempat makan yang Dito inginkan.
Sampai disana Dito membiarkan Raisa untuk memesan makanan yang dia inginkan.
"Pesanlah apa saja yang ingin kamu makan, nanti semua akan aku yang membayarkannya." ucap Dito memandangi Raisa.
Raisa pun memesan beberapa makanan dan minum untuk dirinya. Lalu dia melihat kearah Dito dengan wajah yang ingin bertanya.
"Pak, kamu tak pesan juga? Aku tak bisa makan jika kamu tidak ikut makan juga." seru Raisa yang menatap Dito.
"Hah.., Baiklah kalau begitu."
"Beri saya Nasi satu dan ayam panggang satu Minumnya es jeruknya saja." ucap Dito kepada pelayan itu.
Pelayan itu sudah mencatatnya dan memberikan pada koki yang ada di dapur. Makanannya pun segera di proses dan disiapkan.
Raisa hanya pesan Nasi goreng spesial saja dan es kosongnya satu gelas. Dito sedikit terkejut dan tak menyangka dia memesan terlalu sedikit sekali.
"Pak, boleh gak saya bungkus satu ayam panggang?" tanya Raisa.
"Kenapa di bungkus? Apa kamu suka makan tengah malam?" tanya Dito.
"Bukan begitu, Aku ingin membungkusnya untuk makan saya besok pagi. Nanti bisa saya panaskan untuk sarapan." ujar Raisa.
__ADS_1
Dito yang mendengarkannya sedikit tersenyum dan merasa Raisa sangat polos sekali dalam berkata-kata. Dan dia juga terlalu polos untuk seorang wanita yang usianya sudah dewasa.
Dito semakin ingin tahu tentang diri Raisa dan sangat penasaran sekali. Makanan pun sudah datang, pesanan mereka pun terhidang di depan mereka. Raisa sangat terlihat kelaparan saat makanan terhidang, pandangannya tak berkedip melihat makan malamnya itu.