
🌟 Awan kelabu dan petir sudah menghampiri rumah tangga Bima dan Diah yang sudah terbina selama 8 tahun ini. Dari awal yang sangat sulit untuk menyesuaikan diri dengan sesamanya.
Kini harus kembali seperti orang asing lagi bila itu terjadi dan tak di akhiri.
Tubuh Bima terbaring di tempat tidur, namun pikirannya melayang kemana - mana.
Begitu sulit hari - hari di lalui oleh Bima, bahkan lebih sulit kali ini dalam mengambil keputusan dari yang kejadian kemarin harus keluar dari rumah ibunya.
Diah yang tak mengerti apa - apa pasti suatu saat akan tahu dari mulut Tiara atau orang lain selain dari mulut ku. Bima hanya takut memang, tapi ketakutannya itu karena takut di tinggalkan oleh istrinya.
"Mas, kamu kenapa dari tadi aku perhatikan gelisah terus sih? tidur dan pejamkan mata mu, biar kau merasa sedikit segar dan tak gelisah lagi. Apa mas butuh obat? obat apa yang mas mau mama ambilkan?"Diah terus saja bertanya namun Bima hanya diam dan memperhatikan wajah istrinya saja.
"Mas? mas?!" Diah memanggil suaminya.
" Iya ma, mas tidur dulu." ucap Bima datar.
Bima pun memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, siapa tahu bisa sedikit jernih pikirannya itu.
"Andaikan ini mimpi pasti aku akan langsung bangun dari tidur ku, agar tak terjadi sesuatu dengan rumah tangga ku." bisik nya Bima dalam hatinya.
Diah merasa heran dengan suaminya, yang beberapa minggu ini sudah agak berbeda. Diah melihat suaminya lebih banyak cemasnya dan tidur malam juga sering gelisah.
"Apa ada sesuatu yang di sembunyikan mas Bima dari aku kah? Tapi kenapa harus di sembunyikan? takut apa?" dalam benaknya.
Setelah selesai menyetrika Diah mengambil kunci motor Bima yang tergantung di dinding. Dia ingin menjemput Aira pulang dari rumah Sania. Diah bisa naik motor tapi hanya berani di gang atau di jalan kecil saja.
Kalau di jalan raya besar Diah tak berani, karena dia pernah jatuh dari motor dulunya waktu belum menikah.
Diah menutup pintu rumahnya, dan pergi mengendarai motor bima dengan perlahan - lahan memberanikan dirinya.
Rumah Sania memang begitu jauh kalau naik motor ke sana, tapi kalau berjalan kaki mungkin bisa beli minum lima kali berhenti.
Diah sampai di depan rumah Sania, dan memarkirkan kendaraannya di depan rumahnya saja.
Terdengar suara kunci pintu yang sedang di buka oleh Sania.
cek, cek, cklek..." pintu pun terbuka.
"Assalamualaikum..." Diah pun masuk.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..., mbak datang menjemput? maksud saya nanti akan mengantarnya saja kalau sudah mandi sore." Sania berkata.
"Mama...!" Aira keluar dari kamar Mutiara yang tadi lagi asik bermain.
"Aira pulang yuk?! papa sudah pulang tuh di rumah, tadi tanyai kamu." ucap Diah.
"Em.., Aira masih mau main loh ma..?" ucapnya Aira.
"Besok kan bisa main lagi... iya kan adik Mutiara?" tanya Diah.
"Iya kak Aira, besok ke sini lagi saja. Mutiara juga ngantuk nih ma..." ucap Mutiara yang duduk di pangkuan mamanya.
"Tuh, Mutiara sudah mengantuk, kamu juga tidur siang di rumah yuk. Papa di rumah lagi tidur, mama kunci rumahnya karena gak ada orang yang jaga nanti." Diah mengajak Aira pulang.
"Iya deh ma, kakak Aira pulang dulu ya Mutiara..., tante Sania terima kasih." Aira pun pulang dengan Diah naik motor Bima.
Dalam perjalanan motornya tiba - tiba berhenti dan tak bisa hidup.
Diah sudah mencoba hidupkan mesinnya tapi tak hidup juga. Lalu Diah menatap ke spidometernya, ternyata minyak motornya habis terpaksa Diah mendorong motornya ke tempat pengisian yang ada di pinggir jalan.
Setelah sampai Diah pesan minyak untuk motornya, Aira yang sudah turun dari motor menepi di pinggir jalan. Hari itu cuacanya sangat panas sekali, makanya Diah menjemput Aira dengan motor Bima.
Diah yang tak menyadari langsung menutup jok motornya, Aira yang sadar kalau kertas itu jatuh dari dalam jok memungutnya. Dan ketika mesin motor telah di hidupkan lagi, Aira memberikan kertas itu ke Diah.
"Ma, ini kertasnya jatuh tadi ma." kata Aira ke mamanya.
"Kertas apa sih itu? sudah kamu pegang saja dulu ya sayang..., atau kamu kantongi dulu deh nanti baru kasi ke mama." Diah pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.
Tak beberapa lama Diah sudah sampai di rumah, motor di parkir begitu saja di halaman rumah.
Pintu rumah di buka oleh Diah dan mereka pun masuk ke dalam rumah.
Diah melihat ke kamarnya, dan ternyata Bima masih tidur di sana, tapi wajahnya masih tak bersemangat.
"Ma, Aira tidur ya, tadi sudah makan siang di rumah tante Sania." ucap Aira yang sudah lelah dan ngantuk karena kepanasan di luar tadi.
"Iya sudah tidurlah kalau begitu. Mama juga mau istirahat karena dari tadi banyak kerjaan mama." ucap Diah yang lelah juga tadi mendorong motornya.
Sementara kertas itu masih di kantongi oleh Aira, dan dia lupa akan hal itu. Aira pun langsung terlelap dalam tidurnya tanpa berlama - lama lagi. Siang itu kipas angin di hidupkan, cuaca memang sangat menyengat kulit.
__ADS_1
***
Duar!
Duar!
Petir tiba - tiba menyambar, dan Diah terkejut karena suara itu dia pun terbangun dari tidurnya.
"Astagfirullah..., ya ampun kok gelap sekali ya? agh..., jemuran ku...!" teriak Diah yang langsung berlari mengangkat jemurannya yang tadi sudah 2 belum kering.
Bima pun bangun dari tidurnya dan melihat Diah mengangkat jemuran dengan panik.
Cehss...!
Cehss...!
Hujan pun telah turun membasahi bumi, tanah yang tadinya tandus karena panasnya mentari, kini telah sejuk dan basah kembali.
Semua tanaman dan dedaunan sabah karena hujan turun dengan tiba - tiba saja. Bunga - bunga tanaman hias Diah pun segar kembali di halaman rumahnya.
"Kamu kena hujan ma?" tanya Bima khawatir.
"Enggak kok mas, alhamdulillah tak sempat kena, itu motornya kena hujan yah?!" ucap Diah yang menunjuk ke arah luar rumah.
"Biar sajalah hitung - hitung dicuci gratis sama air hujan, kasihan panas terus biar dingin." ujar Bima yang sedikit becanda.
"Ada saja kamu mas..., mas.." Diah ngedumel.
"Sayang maaf ya mas belum bisa kasih apa - apa ke kamu saat ini. Mas doa kan kamu saja, agar menjadi ibu yang tangguh untuk anak kita, menjadi wanita yang kuat untuk diri kamu sendiri...Amiin..." Bima berdoa untuk istrinya.
"Loh kok cuma untuk anak kita saja, doa untuk jadi istri yang baik nya gak mas?" tanya Diah yang seperti mengharapkan itu.
"Gak perlu sayang, kamu sudah cukup dan amat sangat baik kepada ku dari dulu sampai sekarang." Bima memeluk istrinya dan sedikit merasa sedih.
"Diah... kamu bahkan terlalu baik untuk diri ku yang sering tak bisa memahami mu, dan sekarang saja aku sudah berbohong kepada mu." dalam batin Bima.
__ADS_1