Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 60. Pesan Di Ponsel Bima


__ADS_3

🏵️ Sore itu hujan deras, Bima pulang dengan basah kuyup seluruh tubuhnya. Diparkirkan motornya di depan rumah, dan dia mengetuk pintu rumahnya.


Tok, tok, tok.., ma..., Aira..., mama...!" teriaknya memanggil istri dan anaknya.


Tapi tak ada yang menyahut dan membukakan pintu untuknya, dia sudah kedinginan dan menggigil berada diluar rumahnya.


" Mama..." tak ada tanda-tanda keberadaannya orang disana.


Bima mulai bingung dan tak tahu bagaimana, lalu dia berpikir untuk mencari kuncinya di sela-sela atau di bawah bunga-bunga itu. Namun tak ada juga, lalu Bima pergi ke rumah Sania yang tak beberapa jauh dari rumah mereka.


Bima pun menyalakan kembali motornya yang terparkir dan menekan gas motor lalu pergi kesana. Hujan masih turun dengan lebatnya, perlahan berjalan di jalanan dan menembus hujan deras.


Sampai disana Bima pun segera turun dari motornya dan mengetuk pintu rumah Sania.


Tok, tok, tok...


"Sania..., Aira..., Diah...!" semua orang dipanggil Bima saat itu.


"Siapa ya?" tanya Sania yang ingin membuka pintunya.


"Ini Bima, ada mbak Diah di dalam San..?" menanyai istrinya yang tak ada di rumah.


Ceklek....


"Mbak gak ada mas, tapi ini kunci rumahnya ada sama saya. Mbak katanya mau pergi dari rumah makanya titip kunci kalau nanti mas Bima pulang katanya." Sania menceritakan.


Bima semakin bingung dan merasa aneh dengan Diah.


" Pergi kemana mbak mu Sania?!" tanya Bima yang semakin kesal.


" Tak tahu mas, tapi tadi katanya sudah bilang ke mas." Sania mempertegas bahwa Bima mengetahuinya.


"Aku katanya tahu? maksudnya bagaimana ucapan Sania itu...?!" batinnya bertanya.


Bima lalu membuka ponselnya dan melihat pesan dari Diah yang sudah beberapa jam belum di bacanya.


Bima pun pulang ke rumahnya lagi, tanpa berkata apa pun ke Sania.

__ADS_1


..."Mas..., aku pergi dari rumah mu dan rumah tempat tinggal kita. Kau lebih memilih untuk tinggal dan menepati janji mu padanya kan? aku pun mengerti akan hal itu, jadi aku putuskan kita sampai disini saja....


...Jangan mencari ku atau mencari anak ku, aku paham kenapa kau tak mau aku ajak pergi bersama. Sampai disini dulu ya mas, selamat menempuh hidup mu yang baru bersamanya." isi pesan yang ada di ponselnya....


Bima menangis dalam hujan deras, air matanya mengucur deras. Bima terkejut akhirnya Diah pergi dari dirinya dan meninggalkannya. Bima pun sampai di rumahnya lagi dan masuk ke dalam dengan kunci yang diambilnya dari Sania tadi.


" Sebenarnya ada apa sih ini?" tanya dalam batin Sania yang tak tahu menahu permasalahan mbaknya sendiri dengan suaminya.


Bima membuka pintu rumahnya, masuk kedalam dengan memandangi semua sudut rumah itu. Dia teringat anaknya Aira yang suka menyambutnya dengan pelukan hangatnya dan berlari ke dirinya.


Bima juga melihat semua sudut kamarnya, dan teringat Diah selalu ada di dalam kamar saat Bima baru pulang. Biasanya Diah pasti baru selesai mandi dan akan berpakaian di kamarnya.


Kini rumah itu sepi dan sunyi, anak dan istrinya sudah pergi meninggalkannya. Bima sangat sakit hatinya, dan terasa sesak dadanya.


" A---argh----h.... !" Bima berteriak sekuat-kuatnya dalam rumah dan di hujan yang begitu deras itu.


Bima merasa sangat menyesal tak menjelaskan kepada Diah bahwa dia tak akan menikahi Tiara dan tak akan pernah sekali pun.


"Diah....!"


"Kenapa kau pergi meninggalkan aku..! Aku sangat mencintai mu! dan tak akan aku dengan yang lain...!" Bima sangat hancur sekali.


Bima mencoba mengambil ponselnya dan menghubungi ponselnya Diah saat itu. Tapi tiba-tiba petir menghentikannya untuk menelpon disaat hujan badai.


Duar!"


Duar!"


Suara petir yang sangat keras membuatnya harus mematikan ponsel genggamnya saat itu juga.


***


Sementara Diah dan Aira sudah naik bus yang dengan jurusan ke daerah Yogyakarta. Diah ingin pergi dari kota itu agar tak melihat suaminya yang berbahagia bersama wanita lain. Diah juga terpaksa pergi dari kota itu, dia mau pergi meninggalkan keluarga dari suaminya itu.


Diah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya mampu tanpa Bima, yang mereka kira Diah hanya menghabiskan uang Bima suaminya saja.


Orang tua Diah pun tak tahu kalau Diah sudah pergi dari kota itu. Sania juga tak tahu apa-apa yang mengiranya Diah mbaknya pergi main atau ke rumah orang tuanya saja.

__ADS_1


Bima lalu tertidur di lantai dalam keadaan pakaiannya basah saat itu. Dan dia masih tersedu-sedu dalam tidurnya dan bahkan dalam mimpinya.


***


Hujan mulai reda dan suara guntur pun sudah tiada, Bima terbangun dalam keadaan lemah dan tubuhnya sakit semua.


"Aku merasa pusing sekali, dan lemas...," Bima mencoba untuk berjalan perlahan-lahan dengan berpegangan ke dinding rumahnya.


Lalu dia melihat ada nasi dan lauk pauk di atas meja makannya. Dia ingat bahwa dia belum makan nasi dari tadi pagi sampai sekarang.


Jadi Bima memutuskan untuk mengambil piring dan menyantap makanan itu.


Bima makan dengan secepat mungkin, dia terlihat sangat kelaparan dan tak dapat menahannya lagi.


Tok, tok, tok," terdengar suara pintu rumahnya di ketuk seseorang.


"Iya siapa ya? tunggu sebentar..." Bima berjalan dengan perlahan menghampiri pintu rumahnya yang tidak terkunci.


"Ya siapa?" tanya Bima yang membuka pintunya.


"Mas maaf saya jadi kepikiran sama mbak Diah? Sebenarnya kemana mbak Diah nya mas?" tanya Sania penasaran.


Ternyata Sania yang datang dan ingin tahu ada apa dengan mereka sebenarnya sehingga mbaknya harus pergi tanpa ada yang tahu kemana.


Karena Sania sudah menghubungi mamanya dan adik-adiknya yang ada di rumah mamanya. Tapi Diah tak ada disana, dan bahkan mereka heran dengan Sania kok menanyakan keberadaan mbak mereka ke rumah mamanya. Padahal rumah mereka berdekatan dan tak perlu harus seperti orang panik bertanya.


Sania menjadi merasa bersalah karena di tadi yang mengantar sampai depan pasar jalan besar untuk menemukan angkutan disana.


Tapi Sania tak menunggunya sampai Diah menemukan angkutannya, dia sudah meninggalkan Diah dan Aira begitu saja, karena anak-anaknya ada di rumah hanya berdua saja jadi dia takut kenapa-kenapa sama anaknya.


***


Akhirnya Bima pun menceritakan permasalahan mereka kepada Sania. Namun mereka hanya diluar saja bicaranya, dan Sania sudah pun mendengarkannya.


Sania merasa tak percaya kalau ternyata mbak Diah nya akan pergi dari kota tersebut dan menjauh dari mereka semua.


"Mas Bima saya tak tahu kalau mbak Diah memiliki masalah begitu besar sama mas. Dia tak pernah bicara apa pun ke saya, diah juga selalu hanya diam saja dan lebih sering melamun saat sendirian.

__ADS_1


"Maaf mas, saya tak tahu kalau mbak Diah akan pergi dari mas. Kalau saya tahu saya pasti akan mencegahnya dan menelpon mas untuk memberi tahukannya." Sania terlihat sedih dan bingung harus bagaimana.


__ADS_2