Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 40. Terbongkar


__ADS_3

" Nak..., kau kenapa bisa begini?" tanya ibunya yang datang bersama adiknya.


" Ibu?!"


" Ngapain ibu kesini?! ibu mau menertawakan saya kan?! iya kan?!" ucap Tiara kepada ibunya.


" Tidak nak..., ibu ingin menemui mu dan melihat mu. Ibu sangat rindu pada mu dan juga adik mu." kata wanita paruh baya yang sedih melihat keadaan anaknya.


" Pergilah ibu dari sini, pulang saja ke kampung!"


" Sudah tahu dan berjumpa dengan ku kan?" Tiara sangat tak menyukai ibunya.


" Nak..., jangan begitu kepada ibu nak. Ibu tak bisa pulang melihat mu seperti ini. Kenapa kamu bisa masuk penjara Tiara?" ibu itu menangis dikantor polisi itu.


" Sudah ku bilang pergi ! pergilah !"


" Aku tak ingin melihat wajah ibu lagi...!" Tiara berteriak histeris.


Dia seperti orang gila disana, dengan wajah pucat dan baju lusuhnya. Ibunya merasa kasihan pada Tiara, namun dia tak mau dikunjungi ibunya.


Dan wanita paru baya itu pun pergi dan kembali ke kampungnya. Hatinya sakit sekali dengan perilaku anaknya itu.


Dan mereka pun menaiki bis kembali lagi ke kampungnya.


Bima yang sudah selesai makan sore itu, langsung naik dan menemui Diah di kamarnya. Terlihat Diah masih tidur di atas kasurnya, Bima pun masuk dan menatap wajah istrinya dengan kelam.


" Bagaimana aku sekarang, apa harus aku berkata padanya sekarang?"


" Atau aku harus diam saja sampai nanti waktunya tiba, baru akan aku katakan." pikir Bima itu yang terbaik.


" Tok, tok, tok.., permisi pak ini makan malam untuk bu Diah." ucap suster pengantar makanan.


" Baiklah terima kasih ya suster." kata Bima yang kembali menutup pintu kamarnya.


Diah masih tidur tapi harus makan segera, Bima berinisiatif untuk membangunkannya.


" Diah, sayang bangunlah dulu. Kau harus makan sekarang karena sudah waktunya minum obat hari ini." kata Bima yang mengambil makanannya.


Bima membantu Diah untuk duduk di atas ranjangnya, dan menyuapi makanan itu ke mulut Diah.


Diah menatap wajah Bima, dan tak beberapa lama Diah bertanya pada Bima.

__ADS_1


" Mas, sebenarnya aku sakit apa mas? Dokter bilang apa saat kamu tanya mas?" Diah ingin tahu.


" Tidak ada sakit apa - apa, hanya pingsan saja kamu nya tadi." Bima mencoba menutupi.


" Tolong jangan membohongi ku mas.., aku tadi sudah tanya ke suster. Dan katanya aku keguguran karena kecapean dan rahim ku rusak akibat aku terjatuh dan pendarahan hebat." Diah menjelaskan kepada Bima yang pura - pura tak tahu.


" I..iya sayang, maaf mas sudah berbohong. Dan sekarang kamu sudah tidak bisa lagi memiliki anak, karena rahim kamu sudah diangkat oleh dokter." ucap Bima yang sedikit menangis.


" Mas, kenapa ini bisa terjadi pada ku mas.., hiks, hiks, mengapa?!" Diah sedikit berteriak.


" Sudah sayang jangan menangis, kan kita masih punya Aira anak kita. Kalau kau tak bisa lagi punya anak tidak masalah sayang..." Bima mencoba menenangkan dengan cara memeluknya.


" Tapi mas...?!" Diah terdiam tak sanggup melanjutkannya lagi.


" Ayo makan lagi, nanti kamu akan minum obatnya." Bima kembali menyuapi Diah.


Diah pun makan dengan baik dan meminum obatnya saat itu juga.


Diah kembali berbaring di kasurnya, dia kembali merasa mengantuk karena efek dari obat tersebut.


" Maafkan mas sayang, mas sudah berbohong sekali lagi. Mas tak mau mengatakannya sekarang ini. Lebih baik sekarang kamu tak mengetahuinya karena kondisi kesehatan kamu." Bima berkata dalam benaknya.


***


" Mama..., ayah..." Aira mencari dan memanggil kedua orang tuanya. Namun tak ada yang menghiraukannya, dan mereka malah sibuk membuka kado pesta pernikahan itu.


" Nek, dimana mama dan ayah?" tanya Aira ke neneknya.


" Ada dirumah sakit, kenapa? Aira mau makan ya?" tanya neneknya.


" Iya Aira lapar." kata gadis kecil tersebut.


Neneknya pun mengambilkan makanan untuknya dan membawanya duduk di atas kursi yang sedikit jauh dari mereka berkumpul.


Aira pun makan sendiri disana, dia anak yang mengerti dan baik, serta penurut. Setelah selesai makan dia letak piringnya di tempat kotor dan duduk kembali lagi di kursi itu.


Mereka sangat


riuh saat membuka amplop pernikahan itu, sementara Diah yang di rumah sakit tak ada yang menjenguknya.


***

__ADS_1


Malam pun menyapa, Aira tidur dengan Vera di kamarnya. Anak itu hanya diam saja tanpa berkata apa pun sama sekali. Namun dalam hatinya dia merindukan mamanya tidur bersama.


Malam itu Diah tak bisa tidur dan dia harus 5 hari dirumah sakit baru boleh pulang kerumah. Sementara dia tak ingin disana karena Aira dirumah tak bersamanya.


Lalu Bima berinisiatif besok akan membawa Aira ke rumah sakit dan tidak masuk ke sekolah dulu untuk beberapa hari bersama mamanya.


Sampai jam 3 pagi matanya Diah masih terbuka dan tak mau tidur juga, Bima sudah mengatakan besok akan membawa Aira padanya tetapi sepertinya ada hal lain yang Diah pikirkan.


Bima tak tahu itu apa karena Diah tak mau menceritakannya pada Bima.


Lalu setelah jam 4 pagi Diah baru tertidur dengan nyenyak saat itu, Bima juga akan pergi bekerja setelah menjemput anaknya untuk bersama mamanya dirumah sakit.


Diah masih tidur sewaktu di tinggal pergi pulang kerumah oleh Bima. Suaminya itu ingin menjemput dan membawanya ke rumah sakit. Bima juga sudah menjelaskan kepada suster bahwa Diah tidur baru jam 4 pagi dini hari.


Lalu Bima pun pulang dengan motornya, Bima membawa putrinya sangat pagi - pagi sekali. Karena nanti jam 7 dia harus berangkat kerja setelah mengantarnya.


" Assalamualaikum.." ucap Bima.


" Ayah!" Aira mendengar suara ayahnya.


" Waalaikumsalam...!" ibunya Bima menyahutnya.


" Kau sudah pulang pagi sekali, dimana Diah? kenapa kau pulang sendiri?" tanya ibunya.


" Diah disana sampai 5 hari, Bima pulang mau jemput Aira untuk di bawa kesana bersama Diah. Bima juga harus berangkat kerja lagi setelah mengantar bu." ucap Bima yang segera mandi dan membawa Aira ke rumah sakit.


" Ngapain sih sampai 5 hari disana? Memang sakit apa? kok manja sekali berlama - lama disana, apa gak mengerti dirumah urus anak dan suaminya." kata ibu Bima yang sedikit ketus.


" Bu! tolong ibu punya rasa kemanusiaan sedikit kenapa sih bu!"


" Diah itu mengalami keguguran karena kecapean pesta kemarin, ibu lihat sendiri kan bagaimana kondisi saat jatuh pingsan kemarin..?! rahimnya rusak dan menjadi bermasalah !" kata Bima menjelaskan.


" Ibu itu seorang ibu, tapi di mana hati ibu sesungguhnya?!" kata Bima lagi.


" Ayo Aira kita pergi ke tempat mama, Aira mau disana kan?" tanya Bima dengan lembut ke anaknya.


" Iya ayah, Aira sudah rindu sama mama." ucap Aira dengan polosnya.


Ibunya Bima hanya terdiam dan melihat kepergian mereka, sementara dirumah itu belum ada yang pada bangun. Monik masih tidur dengan suaminya, mereka masih libur dan mengambil cuti sehabis pesta pernikahan.


Ibunya Bima terpukul saat tahu Diah hampir meninggal saat kejadian itu terjadi. Dokter sudah mengatakan semuanya kepada Bima, namun Bima tidak mengatakan hal itu kepada istrinya Diah. Bima menutupi dan tidak membicarakannya pada Diah sekarang, karena itu semua ada hubungannya dengan Tiara.

__ADS_1


__ADS_2