
Sampainya dirumah Aira di beri minum obat oleh Diah, dan disuruh istirahat setelah itu. Aira masih sangat lemas, dia kekurangan cairan tubuh saat dia pingsan.
"Ayah.., temani Aira tidur ya yah..," pinta Aira pada Bima ayahnya.
"Iya sayang, ayah akan disini temani kamu." Bima pun menurutinya.
Diah memperhatikan kebersamaan anak dan ayahnya itu, membuat matanya itu berlinang. Tanpa dia sadari telah membuat anaknya harus memendam rasanya dan memikirkan egonya saja. Sementara Aira yang harus berkorban untuk semua yang tak tahu apa penyebabnya.
"Ibu.., sepertinya Aira ini memendam sesuatu, dan selalu tak diungkapkannya. Coba ibu bawa cerita dan tanyakan apa saja yang ada di benaknya, kalau begini terus akan fatal bagi dirinya." ucapan dokter itu masih terngiang-ngiang dalam pikirannya.
"Apa yang sudah aku lakukan pada anak ku, tapi ini lah jalan garis hidup ku. Dan Aira harus mengerti itu, tapi aku juga tidak boleh egois kepadanya. Nanti akan ku tanyakan apa maunya saat ini, akan ku ajak cerita dari hati ke hati." ucapnya dalam hati.
Aira sudah tidur dan Bima masih menemaninya di kamar. Bima terlihat juga tertidur disampingnya Aira, Diah gak tahu mau bagaimana jadi dia pergi ke butik Sriana.
"Diah?"
"Kenapa kamu kesini?"
"Dimana Aira?"
"Kau jaga sajalah dia di rumah dan hari ini tidak perlu masuk bekerja," ucap bu Sriana.
"Tapi bu, biarlah saya disini sebentar, dia lagi bersama ayahnya tidur di kamar. Mungkin aku harus memberinya waktu bersama Aira untuk berdua saja." kata Diah yang terlihat tegar.
Sriana pun mengerti dan menghormati keinginan Diah saat itu, namun tak ingin bertanya apa pun ke Diah tentang masalah dan urusannya.
Sementara saat Roby dan Tiara pergi sebentar, Bima terbangun mencari keberadaan Diah disekelilingnya.
Dan Bima menelpon Tiara dan Roby dengan ponselnya.
Roby dan Tiara pun datang untuk membelikan makan malam karena hari juga sudah hampir malam.
Beberapa saat kemudian Tiara datang dan melihat mereka semua ada disana.
"Diah, duduklah dulu bersama kami. Ada yang mau aku bilang ke kamu tentang masalah lama kita yang kau ketahui." ucap Tiara dengan cepat dan memegang tangan Diah saat itu.
__ADS_1
Diah pun ikut duduk dan mendengarkan perkataan mereka. Namun wajah Diah hanya datar dan terlihat sedikit sedih serta menunduk.
"Katakanlah apa yang ingin kalian katakan, sebenarnya itu tak perlu kalau kalian hanya ingin memamerkan hubungan kalian." ucap Diah saat itu.
"Diah kau salah sangka, untuk aku akan menceritakan hubungan ku dan mas Bima kepada mu." ucap Tiara yang menatap ke arah Diah.
"Mbak.., maaf ya. Aku hanya ingin menceritakan hubungan ku dengan mas Roby yang sudah menikah kembali saat ini."
"Dan kami kesini karena sedang berliburan berdua untuk berbulan madu."
"Jadi tak ada yang bisa aku ceritakan hubungan aku dengan mas Bima saat ini."
"Kalau kau mau tahu bagaimana hubungannya dan keadaannya tanyakan lah langsung kepadanya, karena aku dan mas Roby harus pergi menikmati liburan kami." ucap Tiara dan langsung pergi dengan Roby.
"Ya itu benar adanya, kami pergi dulu mbak." ucap Roby saat matanya menatap ke arah Roby seperti meminta penjelasan kepadanya.
Sekarang Diah pun terdiam dan kaku tak bisa berkata atau bertanya apa pun. Bima memperhatikan wajah Diah yang selama ini dia mimpikan setiap malamnya.
"Diah istri ku, aku dan Tiara sudah tidak ada ceritanya lagi."
"Selama ini aku hanya sendiri mencari mu kesana kemari seperti orang gila !"
"Bahkan aku hampir putus asa dan papa memanggil ku ke rumah, meminta pertanggung jawaban ku terhadap mu."
"Tapi bagaimana aku melakukannya saat itu, Tiara mendesak dan hampir memenjarakan aku."
"Tapi syukurnya Roby datang mencegah dan aku tak jadi di penjara, polisi pun pergi dari rumah kita." ucap Bima menceritakan kejadian itu.
Bima berjalan dan berlutut di depan Diah istrinya, Bima kembali melamar Diah malam itu.
"Diah kembalilah kepada ku, selama 2 tahun ini aku terus mencari mu dan menunggu Allah menjawab semua doa-doa ku."
"Mungkin ini adalah semua jawabannya sayang, aku mohon jadilah istri ku kembali dan anak kita bisa bersama lagi." kata Bima membujuk istrinya Diah.
"Mas, maaf aku belum bisa mengatakan dan memutuskan saat ini."
__ADS_1
"Karena ini sangat sulit bagi ku, sekarang aku tak bisa berpikir mana yang terbaik bagi kita saat ini."
"Baiklah kalau begitu mas akan pergi dan besok sore mas akan kembali bekerja di Bali."
"Sekarang mas sudah tak tinggal lagi bersama ibu selama 2 tahun ini. Mas hanya tinggal di kosan, saat kamu pergi dan hanya sendiri." ucap Bima yang pergi mencari Tiara dan Roby.
mereka membantu untuk mencari penginapan untuk Bima malam itu.
Bima pun mendapatkannya dan segera tidur di dalam kamarnya, hari ini Bima sangat lelah. Tapi dia senang dapat bertemu dengan istri dan anaknya.
Dan dia juga merasa puas sudah bisa menjelaskan dan berbicara pada Diah yang sebenarnya. Tetapi Bima masih belum puas sepenuhnya, dan menantikan jawaban dari Diah tentang ajakan Bima untuk kembali lagi.
***
Diah di rumahnya...
Malam itu Diah tak bisa tidur, dan dia juga masih terpikir akan perkataan Bima suaminya. Diah masih bingung akan dirinya, hatinya ingin kembali. Tapi egonya tak ingin bersama lagi, tapi Diah semakin dilema perkataan dokter tentang anaknya.
Malam sudah semakin larut rasa kantuk pun menyerang ke diri Diah.
Dia pun bersiap akan tidur dikamarnya.
Namun ketika Diah ingin tidur, Aira tiba-tiba mengatakan sesuatu dalam tidurnya.
"Ayah..., jangan tinggalkan Aira lagi. Aira tak mau ayah pergi tinggalkan Aira dan mama disini. Ayah.., jangan pergi yah.., jangan pergi." Aira mengigau tak ingin ayahnya pergi.
Diah semakin tak tega melihat Aira anaknya yang memanggil ayahnya. Air mata Diah berlinang lagi dan dia menangis sejadinya dengan menutup mulutnya agar tak terdengar oleh anaknya.
Hati Diah sangat dilema, dan tak tahu mau bagaimana. Tetapi tak di pungkiri dia masih cinta dengan Bima sampai saat ini. Bahkan jauh dari dalam lubuk hatinya Diah sangat merindukan Bima suaminya itu.
Akhirnya malam itu dia tertidur karena sudah lelah dan habis tenaganya karena menangis. Dan rasa sesak di dadanya sedikit berkurang karena sudah tersiram dengan air mata dari tadi.
Bantalnya basah, dan matanya sembab, Diah sangat terluka dan gelisah harus memilih mengikuti egonya atau mengalah mengikuti kata hatinya dan mengingat anaknya.
Malam itu dia sudah memikirkannya dan besok akan dia putuskan segara apa pun yang akan terjadi.
__ADS_1