Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 113. Kabar dari Rendy


__ADS_3

Sorenya Diah datang ke rumah Raisa, mereka janjian akan bertemu. Karena Raisa tidak bisa keluar rumah, jadi Diah yang datang ke rumahnya saat itu.Raisa menyambut ke datangan Diah dengan hangat, dan menyuguhkan makanan dan minuman untuknya di meja.


Lalu Diah keluarkan gambaran dan konsep-konsep beberapa desain yang dia buat. Raisa melihatnya satu persatu dan memilih gaun mana yang akan dia buat untuk resepsinya. Tapi Raisa sangat bingung mau yang mana, lalu dia memanggil suaminya Dito untuk memilihkan warnanya saja.


"Oh, ada tamu rupanya. Kamu kenapa sayang?" tanya Dito ke istrinya.


"Mas, kamu mau kita pakai warna apa mas nanti?" Raisa bingung dan nanti takut Dito suaminya tidak menyukainya.


Dito pun memilih warna hijau yang jadi warna favorite, lalu Dito bertanya tentang Bima kepada Diah.


"Bima tidak ikut bersama mbak ya?" tanya Dito.


"Oh, gak pak. Bima masih disana katanya masih ada yang belum siap dikerjakan." ujar Diah kepada Dito.


"Loh, bukannya 3 hari yang lalu sudah selesai dan sudah di kirim."


"Kenapa masih ada ya, dan pak mamat sudah saya kirim kesana untuk mengawasi selama Dito cuti lebaran." Dito menjelaskan kepada Diah.


Diah hanya diam saja tanpa bicara apa pun kepada Dito, lalu Dito pun pergi ke ruangannya karena ingin menelpon Bima disana. Namun sayang ponselnya Bima tidak bisa di hubungi, sepetinya ponsel Bima mati atau di matikan.


Diah semakin khawatir memikirkan Bima disana, karena menurut di dalam hatinya Bima sedang berbohong padanya saat ini.


Diah dan Raisa melanjutkan lagi pemilihannya, sekarang Diah sudah mengukur. Nanti Diah tinggal memotong dan menjahitnya setelah tiba di Bali lagi. Kali ini Diah pun pulang setelah urusannya semua selesai dia kerjakan disana.


Diah masih memikirkan Bima disana, dia sudah menelpon Bima tapi ponselnya tidak aktif sama sekali.


Jadi Diah hanya diam dan menantikan penjelasan dari Bima nanti ketika sudah sampai di Palembang.


****


Sore itu ibunya Bima dan Vera menyiapkan makanan biasa untuk saat lebaran disuguhkan. Mereka berdua memasak makanan favorite untuk Bima, karena mereka tahu kalau Bima akan ke Palembang saat lebaran nanti.


Ibunya juga akan mengunjungi Lastri dengan masakan mereka nanti saat sudah masak. Dan membawa anak-anaknya Lastri mengunjungi mamanya di rumah sakit penjara.


Bapak dan ibu serta Vera juga anak Lastri akan datang kesana semuanya.


Mereka memberikan makanan itu dan melihatnya saat Lastri menikmatinya.


Ibunya menangis melihat keadaan Lastri, padahal lebaran lalu Lastri masih bersama mereka dan tanpa kekurangan apa pun.

__ADS_1


Tring...


Tring...


Monik menelpon dan memberi kabar bahwa dirinya sudah ada di depan rumah. Dan lagi dia juga memberi tahu kalau Rendy suami Lastri sudah meninggal. Monik tahu dari tetangga ibunya yang memberi kabar itu kepadanya.


Bapaknya terkejut dan merasa tak percaya, padahal baru saja tadi menelpon bertanya pada cucunya anak Lastri keadaan papanya disana.


Tapi ternyata sudah meninggal dunia sore ini, bapaknya Lastri langsung menelpon cucunya disana.


Dan menyuruh membawa pulang papanya ke rumah untuk di makamkan Palembang saja.


Tapi cucunya berkata bahwa papanya hanya mau di makamkan disana saja. Karena akan banyak biaya untuk membawanya pulang bila terjadi apa-apa padanya. Dan teman-temannya juga sudah tahu akan hal itu dan sekarang ini sedang di siapkan untuk segera di makamkan secepatnya.


itulah yang dikatakan oleh Rendy papa dari anak-anak Lastri juga, jadi setelah mendengarkan itu kakeknya tak bisa berkata apa pun lagi saat itu.


Telpon pun ditutup dan diakhiri, tak beberapa lama mereka semua pulang dari penjara rumah sakit itu. Tapi sang kakek belum cerita apa pun ke pada mereka semua, bapak Bima itu akan cerita nanti ketika mereka sudah sampai di rumah.


Anak-anak Lastri masih terlihat lesu karena hanya bisa menatap mamanya dari jauh saja dan sebentar saja bertemu. Kakek masih menatap dan ragu ingin mengatakan berita duka itu kepada semuanya.


Padahal esok adalah hari kemenangan bagi mereka semua, seharusnya bergembira tapi malah mendapatkan kabar duka dari papanya.


"Besok seharusnya hari dimana seluruh keluarga berkumpul dan seharusnya merupakan hari yang menyenangkan."


"Tapi ada kabar duka dari papa Alvin dan Alwi. Papa mereka disana telah meninggal dunia, abang Doni yang mengatakan pada kakek tadi."


"Kakek minta kalian jangan terlalu bersedih ya, dan doakan papa agar mendapat kelapangan dalam kuburnya." ucap kakek mereka.


Kedua anak itu pun menangis dengan keadaan yang membuat mereka semakin sedih. Mamanya tak ada di rumah, papanya pun meninggal dunia, anak-anak yang tak bersalah harus mendapat tak mengenakan dari kesalahan orang tuanya sendiri.


Padahal anak-anak hanya ingin mendapat kasih sayang dan perhatian saja dari orang tua. Dia tak tahu yang lain-lainnya itu, tapi harus hancur impian mereka karena keegoisan dari orang tua mereka.


Semua terdiam mendapat kabar duka itu, hanya kedua anak itu menangis dan tak bisa menahan air mata mereka. Keluarga kecil Lastri kini hancur dan berimbas pada anak-anaknya yang harus menanggung semuanya.


Lastri masih harus di tahan sampai 10 tahun lagi, yang seharusnya bisa saja seumur hidup. Tapi lantaran dia ada gangguan mental jadi dapat keringanan saat itu. Lastri pun harus menerima hidup dalam penjara tanpa sering bisa bersama anak-anaknya lagi seperti biasanya.


Lastri sungguh meratapi nasibnya sekarang, dulu yang begitu arogannya dan selalu jahat pada orang-orang disekitarnya. Para tetangganya semua sudah tahu bagaimana nasib Lastri sekarang. Mereka sering menceritakan Lastri tanpa di ketahui semua keluarganya.


Sekarang hanya tinggal anak-anaknya yang harus mandiri tanpa mama dan papanya.

__ADS_1


Malam itu Diah datang dengan beberapa pakaian untuk anak-anak Lastri dan anak Vera. Dia membelikan mereka baju untuk di pakai keesokan harinya, anak Lastri yang di pesantren sudah pulang. Anak Vera juga sudah pulang dari kerjanya dan mendapat cuti selama seminggu di rumah.


Monik juga ada disana jadi malam takbiran itu semua pada kumpul di rumah ibunya Bima.


Tapi semua pada tanya keberadaan Bima saat itu, jadi Diah hanya berkata apa yang dikatakan suaminya saat itu.


Diah juga membelikan bapak dan ibunya mas Bima pakaian dan juga beberapa kue untuk di makan. Tak lupa beberapa buah-buahan, ibu terlihat senang Diah datang bersama Aira cucunya yang sudah lama tak bertemu.


Monik pun saat itu juga meminta maaf kepada Diah kakak iparnya yang dulu sudah jahat. Sekarang baru Monik ucapkan setelah bertemu langsung padanya.


"Mbak, aku gak tahu mau bagaimana bicara pada mbak."


"Sebenarnya aku sangat malu dan tak kuasa bibir ku berkata, maafkan kesalahan aku yang dulu ya mbak."


"Aku.., sangat malu sekali saat ini dan tak tahu mau berbuat apa." Monik menundukkan wajahnya.


Mereka berbicara hanya berdua saja saat yang lainnya sedang sibuk membongkar tas yang berisi oleh-oleh dan beberapa baju untuk mereka semua.


"Sudahlah Mon, mbak juga mungkin yang tak peka pada kamu."


"Dan terjadilah ke salah pahaman itu diantara kita."


"Semua sudah sangat lama berlalu, biarkan saja seperti itu tidak perlu kita ingatkan lagi."


"Mbak sudah lama melupakan itu semua dan mbak gak pernah mengingat kenangan tak baik itu lagi." ucap Diah yang memeluk Monik saat itu.


Monik menangis di depan Diah dan sangat malu dengan Diah yang sangat berbesar hati sudah memaafkannya dengan begitu mudah.


"Mbak, begitu mudah memaafkan. Aku bukan hanya malu pada mbak, pada Allah juga Monik sangat malu dengan akhlak yang tak baik Monik punya." kata Monik yang sekarang sudah menyadari kesalahannya yang dulu itu.


"Monik.., yang terpenting Monik sudah paham dan sadar akan yang Monik lakukan."


"Jadikan itu pelajaran dan renungan dalam diri, dan lain kali pikirkan dahulu sebelum bertindak dan juga berucap."


"Jangan sampai kita menyakiti orang lain dengan lisan maupun dengan tindakan."


"Sudah jangan menangis lagi ya sayang, mbak sayang sama kalian semua."


"Kamu juga sudah jadi seorang ibu, berilah contoh pada anak mu juga itu yang baik ya sayang..?" kata Diah kepada adik iparnya yang paling kecil.

__ADS_1


Monik pun tersenyum dan mereka sudah menyelesaikan kesalahan yang mereka perbuat, dan sekarang saling berbahagia dan menjaga silaturahmi.


__ADS_2