
Malam saat Dito menjaga papa di rumah sakit, papa memerhatikan anaknya dan memanggilnya.
Dito mendekat di samping papanya, dengan lembut memperhatikan papanya berbicara padanya.
"Dito.., kapan kamu menikahi Raisa? Kasihan dia dan adiknya harus terus tinggal di rumah itu." tanya papa.
"Iya pa, tadinya bulan depan Dito akan menikahinya tapi...," Dito berhenti berbicara.
"Jangan tunda lagi nak, segerakan bulan depan akad nikahnya saja dulu. Agar Raisa dan adiknya bisa tinggal dirumah kita dan jadi tidak khawatir dengan keselamatan mereka diluar sana." ucap papanya Dito yang perhatian.
"Baiklah pa kalau memang begitu kemauan papa. Nanti Dito akan menikah di sini saja depan papa langsung bersama Raisa." Dito sedikit lega papa maunya begitu.
***
Perjalanan menuju sebulan kedepannya Dito sangat sibuk sekali dan tidak sempat mau memberikan seserahan kepada Raisa. Dito sudah menjelaskannya kepada Raisa dan menyuruh Raisa nya sendiri saja yang membeli keperluannya.
Seperti membeli baju untuk akadnya nanti, dan Dito juga sudah membicarakan tentang pernikahannya itu dan Raisa bisa mengerti saat ini.
"Iya mas, Raisa mengerti. Kesehatan papa mas Dito lebih penting lagi kok, papa sampai segitunya memikirkan kami." ujar Raisa.
Intan adiknya Raisa sekarang sudah masuk universitas dan Raisa tinggal beberapa bulan lagi akan lulus dari kuliahnya. Raisa langsung akan mengelola Resto yang sudah di konsep oleh Dito bisnis barunya saat ini.
2 Minggu sudah berlalu dan papanya Dito belum juga pulang kerumah. Tapi sudah ada kemajuan, tangannya sudah bisa di gerakkan untuk saat ini.
Sekarang Dito sibuk kekantor dan mengurus papanya di rumah sakit, sedangkan Raisa sedang berjuang untuk ujian dan skripsinya yang akan selesai dua Minggu lagi akan sidang.
Mereka sangat sibuk sendiri sampai- sampai sudah mau menikah saja dalam sebulan itu belum ada bertemu sama sekali. Mereka hanya berbicara lewat ponsel saja dan itu pun hanya menanyakan kabar diri masing-masing saja.
Waktu sudah menguras tenaga dan pikiran meraka selama sebulan ini dan akhirnya minggu depan mereka akan menikah. Jumat ini Raisa akan wisuda dan lulus dengan nilai terbaik di fakultasnya.
Boy yang mengetahui akan prihal itu datang mengunjungi Raisa. Dan Boy melihat Raisa di jemput oleh seorang pria kaya ternyata. Boy pun mengikuti mobil Dito dari belakang dan mengetahui dimana Raisa tinggal sekarang.
Raisa turun dengan wajah senangnya dan Boy sangat menginginkan Raisa saat itu. Mobil Dito sudah pergi dan Boy siap beraksi, dia turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati Raisa yang akan membuka pintu rumahnya itu.
"Hai sayang.., kau semakin lama sakin cantik saja."
"Pria kaya mana yang sudah berhasil kau rayu tadi? Dan kau sudah berhasil berapa pria setahun ini?" tanya Boy yang membelai pipi Raisa.
__ADS_1
"Raisa sayang ku.., saat ini aku sangat menginginkan mu. Ingin memanjakan mu, apa kau mau merasakan semua itu sayang?" Boy berbisik di telinganya.
Lalu Boy memegang tangan Raisa dengan genggaman yang sangat kuat. Dia mencoba mencium Raisa saat itu juga, tapi Raisa menepisnya dan mendorong Boy dari sisinya.
"Jangan kurang ajar kau ya!"
"Pergi kau dari sini Boy!"
"Aku tak sudi disentuh oleh mu!"
Raisa sangat marah dan juga merasa takut, dia teringat akan kelakuan gilanya Boy saat melampiaskan nafsu liarnya dengan wanita yang pernah dia bawa ke rumah papanya dulu.
"Kurang ajar kau, jangan sok suci deh kau sekarang!"
"Kemana pun kau lari, hari ini harus aku dapatkan diri mu." ucap Boy yang bergegas berlari saat Raisa akan masuk ke dalam rumahnya.
Raisa dengan cepat ingin menutup pintu rumahnya, namun Boy dengan cepat mencegah dengan sepatunya yang menolaknya.
Argh...!"
"Jangan takut sayang.., aku akan bersikap lembut pada mu kalau kau menuruti kemauan ku saat ini." Boy kembali membual.
Dito dalam perjalanan...
Tring...
Tring...
"Hah? Suara ponsel siapa itu?" Dito menepikan mobilnya dan melihat ke bawah tempat duduk.
"Astaga ini kan ponsel Raisa yang tertinggal, bisa gawat kalau tak ada ponsel dia nanti. Lebih baik aku putar arah dan kembalikan ponselnya dulu."ucap Dito dalam hatinya.
Dito pun memutar arah dan meluncur ke rumah Raisa kembali. Tak beberapa lama kemudian Dito sampai di depan rumahnya Raisa.
Saat Dito turun dan ingin masuk ke dalam rumah Raisa, dia mendengar teriakkan dari suara Raisa.
"Tolong...!"
__ADS_1
"Tolong...!"
"Brengsek kamu Boy, jangan lakukan ini Boy. Aku mohon pada mu..!" ucap Raisa yang menangis.
Dito lalu berlari dan masuk kedalam rumah Raisa, dia melihat Boy sudah menyobek baju Raisa dan ingin melampiaskan nafsu bejatnya ke Raisa. Dito menarik Boy dan menonjok wajahnya Boy seketika.
Bugh!
"Kurang ajar kau, bugh!"
Dito menghajar Boy tanpa henti-henti, dia tak memberi Boy untuk dapat memukulnya. Raisa menangis ketakutan di sudut kamarnya dan menutupi tubuhnya dengan kain selimut yang ada di kasurnya.
Sekarang Boy sudah tak berdaya, Dito segera menelpon polisi dan melaporkan kelakuan Boy terhadap Raisa hari itu juga.
Dito mendekat ke Raisa, dan memeluk wanita itu yang sedang menangis ketakutan.
Tak beberapa lama polisi pun tiba di rumah Raisa dan membawa Boy pergi bersama mereka. Raisa dan Dito akan menyusul memberikan pernyataan atas laporan kejahatan Boy. Raisa akan kesana setelah berganti pakaiannya dan pergi ke kantor polisi bersama Dito nanti.
Dito memberikan semangat dan dukungan agar Raisa tak takut untuk mengatakan semuanya kepada polisi dan Raisa juga melakukan pemeriksaan di tubuhnya yang terluka. Setelah itu Dito pun semakin ingin menjaga Raisa dan adiknya.
Mamanya Boy ibu tiri Raisa...
"Kenapa kau bisa di penjara nak? Apa yang kau perbuat sampai harus begini?!" tanya mamanya.
"Ini semua salah Raisa anak tiri mama yang memenjarakan aku!" kata Boy menyalahkan Raisa.
"Raisa kau bilang? Punya kuasa apa dan apa yang sudah kau perbuat ke dia?!" mamanya sangat kesal mendengar nama Raisa.
" Dia membuat laporan kalau aku akan memperkosanya ma!"
"Melihat dia saja aku tak selera dan tak pernah dalam pikiran ku terlintas untuk menyentuhnya." kata Boy yang tak jujur pada mamanya.
"Dasar perempuan tak tahu diri, sudah di besarkan malah tak tahu balas budi. Dia pikir dia siapa saat ini, dan begitu angkuhnya memenjarakan kau yang tak bersalah apa-apa."
"Mama akan membuat perhitungan padanya nanti, akan mama permalukan dia di depan umum sampai dia tak ada muka lagi untuk mengangkat kepalanya ke atas." ujar mama Boy yang itu adalah ibu tirinya Raisa.
Mamanya tak pernah suka pada Raisa karena dulu papanya sangat membedakan Raisa dan Boy saat itu. Jadi mamanya itu tidak menyukai Raisa sama sekali dari sejak dulu saat papanya masih hidup.
__ADS_1