Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 35. Membingungkan


__ADS_3

🌟 Impian seorang wanita dapat bahagia bersama pasangannya seumur hidup. Adapun penghalang dan pengganggu namun tak kan mudah goyah bila pasangannya menjadi penguat dalam hidupnya...


Pagi itu Monik berangkat kerja seperti biasa, dari rumah tak ada apa - apa dengan motornya atau yang lainnya.


Sampai tempat kerja pun dia selamat tak terjadi apa - apa.


Hari dan jam pun berjalan tanpa terasa, hari sudah sore saja.


Diah yang sudah siap semua dengan aktivitasnya pun ingin menutup pintu rumahnya.


Tiba - tiba Monik pulang bersama temannya, dan dia di bonceng temannya. Dia berjalan terlihat pincang dan tak stabil, Diah hanya memperhatikan saja dari dalam rumah.


" Terima kasih ya sudah mengantar ku pulang " ucap Monik ke temannya.


Ibunya keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu. Setelah temannya pulang dan ingin masuk ke dalam rumah. Monik mengeluh kesakitan.?


" Ibu..., huhuhu..." Monik menangis saat ibunya melihat dia telah pulang.


" Monik !"


" Kau kenapa nak? apal yang terjadi pada mu?" tanya ibunya panik.


" Bu.., Monik ditabrak dari belakang. Tadi teman Monik yang mengantar pulang. Hiks, hiks...' ucap Monik yang masih menangis.


" Sudahlah diam ibu akan mengobati mu sekarang." ucap ibu mereka.


Mertuanya Diah segera pergi mengambil obat untuk luka.


Tubuh Monik banyak yang lecet karena di tabrak dan terseret ke aspal.


Tangan, kaki dan lututnya semua penuh luka.


Monik juga demam karena akibat terjatuh dari motornya itu.


Diah berjalan masuk ke kamarnya dan Monik masih menangis tersedu - sedu sangat kasihan.


" Ma, ibu Monik kenapa? kok dia menangis?" tanya Aira.


" Iya ibu Monik terjatuh dan sakit, kakinya luka jadi menangis." ucap Diah memberi tahu anaknya.

__ADS_1


Aira pun mengerti dan hanya diam mengangguk saja. Diah menutup pintu kamarnya dan menyalakan tv nya, Aira saat itu ingin menonton.


………………………………………………………………


Semua orang sibuk meladeni Monik saat semua tahu Monik terjatuh dari motornya. Semua sangat perduli pad Monik, sementara Diah yang jatuh dari motor dan sampai tulang rusuknya patah semua orang tak ada yang simpatik.


Bahkan mertuanya masih sempat menyuruhnya membeli beras 5 kilo ke warung. Diah pun meladeni permintaan mertuanya itu, karena memang sudah tak ada lagi beras dan harus dimasak saat itu juga.


Beras itu pun Diah angkat dan di bawanya, Diah mencoba saja jalan perlahan membawanya walau terasa sedikit sakit tulang yang patah itu.


Masih sibuk dengan Monik


" Aira, nanti di sekolah kalau sudah pulang ke rumah bu Mona saja dulu ya." ucap Diah kepada Aira.


" Oh, mama mau main kesana? ya ma?" tanya Aira.


" Iya sayang, mama nanti akan kesana. Kamu ingat jangan main di jalan ya!" kata Diah lagi.


" Iya ma..." ujar anaknya.


Diah yang suntuk melihat adegan demi adegan di rumah itu yang terlalu lebai, akhirnya dia pergi main ke rumah Mona lagi. Diah disana sampai sore lagi disana, semua berkumpul dan anak - anak pada sibuk mengerjakan PR mereka.


Diah juga membawa bekal untuk makan siang anaknya dan dia ke rumah Monik.


" Kak !"


" Kakak, iparnya Monik ya?" tanya teman Diah kepadanya.


" Iya kenapa? kok kamu kenal dengn nya?" tanya Diah penasaran.


" Iya kenal lah kak, aku kan teman dia juga dulu. Tapi teman gitu - gitu saja, aku malas terlalu akrab. Sifatnya yang aku tidak suka kepadanya, tapi tak aku pusingkan sekali." ucapnya.


" Oh begitu..., iya semua orang pada sibuk perhatian padanya semua. Kemarin baru jatuh di tabrak motor dia dari belakang jatuh dan terseret." ucap Diah kepada temannya itu.


Setelah bercerita lalu sudah tak membahas itu lagi, ternyata hari sudah sore dan Diah serta Aira pun pulang kerumah berjalan bersama.


Sampai dirumah Diah tak perduli dengan yang lain. Diah mengurus anaknya mandi dan dia juga mandi setelah itu.


Kali ini urusan dapur tak dia hiraukan sama sekali, mertuanya tadinya ingin menyuruhnya. Diah langsung menepis dengan berkata bahwa nanti malam masak indomie saja.

__ADS_1


Lalu mertuanya terdiam dan tak bisa berbicara lagi. Diah tak mau ambil pusing lagi dengan tingkah pola dan drama mereka. Semua sudah Diah hapal dan dia perhatikan semuanya. Jadi Diah sudah tak mau mengikuti cara mereka, tapi tak semuanya.


Diah juga bukan tak pakai hati dan pikiran, tinggal menumpang sampai tak tahu diri. Tapi apalah daya masih Diah dan suami usahakan untuk bisa keluar dari rumah itu.


Pertama awalnya mereka saah di usir Lastri, ibunya Bima mertuanya Diah melarang dan tak mau di tinggalkan oleh Bima. Sampai saat itu ibunya jatuh sakit dan masuk rumah sakit penyakitnya kambuh karena memikirkan itu.


Karena hal itu Bima jadi iba dan simpatik ke ibunya, sehingga mengurungkan niatnya untuk pindah dari rumah itu.


Maka terakhir Diah lah istrinya Bima harus mengalah lagi sekarang.


Sementara Lastri semakin geram melihat Bima dan Diah yang tak kunjung keluar dari rumah ibunya.


Segala macam sudah pernah Lastri lakukan kepada Diah.


Dengan memfitnahnya, dengan menghasut Diah secara langsung, dengan mengadu dombanya ke ipar yang lain, bahkan nama Diah sampai di bicarakan di kampung.


Dan orang kampung yang datang kerumah tak suka melihat Diah dengan pandangan sinis mereka.


Lastri juga pernah berkata sesuatu pada Diah dan bahkan mengajarinya.


" Diah kenapa sih ibu kami baik kali san respek sekali kepada mu?" ditanya Lastri.


" Kakak mertua kakak cerewet kali dan gak care sama kakak? Apa yang sudah kamu berikan atau kamu buat ke ibu?" tanya Lastri lagi.


" Tak ada kok kakak, aku gak pernah buat apa - apa. Aku juga gak tahu kenapa bisa begitu." ucap Diah yang pura - pura bodoh saja di depannya.


Lastri selalu terkenal tak pernah aku dengan ipar - ipar dan bahkan sama mertuanya dari keluarga suaminya.


Banyak yang tak mau perduli dengannya, bahkan dimana dia bertempat tinggal tetangga selalu tak ada yang suka dengannya.


Lastri dimana bertempat tinggal selalu suka memamerkan apa pun kepada tetangganya. Jadi semua banyak yang tak suka padanya, di lihat dari perekonomian sama saja tetapi mulutnya suka melebih - lebihkan.


Banyak tertipu dengan wajah Lastri yang lembut dan kalem sikapnya. Namun di balik semua itu, seorang kakak saja sanggup mengadu domba adik kandungnya dan berpura - pura tak tahu apa - apa.


Padahal Lastri itu seorang guru SD yang seharusnya memiliki jiwa yang luhur dan beretika baik. Namun itu tak tercermin pada diri dan prilakunya.


Terkadang Diah tak habis pikir dengannya, karena ulah kakak kandung sendiri adik bisa bertengkar dan pukul - pukulan di depan mata Diah sendiri dan di depan para tetangga yang datang menyaksikan.


Bersambung manteman....

__ADS_1


Dukung terus karya saya dengan memberi 🌟, Favorite, like, dan komen teman - teman sangat berarti bagi saya.


Salam hangat dari saya Radiah❤️


__ADS_2