Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 51. Apakah Ada Penyelesaian?


__ADS_3

🌟 Monik sudah pulang ke rumahnya tapi dia masih belum pulih sepenuhnya. Dia masih terbayang dari kejadian itu, dan di saat dia ingin ke kamar mandi di rumah itu dia sangat takut dan sering manahan tak kesana.


Sekarang dia lebih takut untuk sendirian dirumahnya, bila saat Damar pergi kerja dan dia harus dirumah.


sekarang Monik mengajak adiknya Damar ( Erni ) untuk tidur dirumahnya saat Damar masuk kerja malam.


Lalu Damar dan Monik mempercepat mencari rumah baru dan segera membelinya. Mereka tak jadi mengambil KPR, Damar dan Monik sepakat untuk meminjam uang dari bank dan langsung membeli rumah komplek yang akan di jual.


Mereka mencari - cari dan ketemu di daerah yang sedikit tak beberapa jauh dari rumah ibunya Monik.


Dan Damar pun setuju akan hal itu, tapi ada beberapa yang harus diperbaiki di dalam rumahnya saat itu.


Jadi mereka tak bisa langsung pindah kesana, harus menunggu beberapa minggu lagi, baru bisa di tempati.


***


Di tempat kerja Bima...


Sekarang sudah 2 tahun 6 bulan, dan 6 bulan lagi tepat di bulan 2 Tiara akan bebas dari penjaranya. Bima semakin bingung dan cemas akan hal itu, tapi di satu sisi Bima harus menepati janjinya kepada Tiara.


Di tempat kerjanya Bima tak bisa konsentrasi dan dia malah membuat marah atasannya.


" Bima !"


" Bima !"


" Kamu kalau kerja tolong jangan melamun lah..., bagaimana ini barang akan keluar kalau belum kelar juga..!" atasannya marah kepadanya.


" Iya pak, maafkan saya " ujar Bima yang merasa bersalah.


" Hai Bima, ada apa dengan mu sih Bim? Dari tadi aku lihat kamu gelisah seperti memikirkan sesuatu." tanya temannya Ali.


" Iya ini Al, aku bingung mau bagaimana. Ini masalah rumah tangga ku, jadi bingung mau cerita sama kamu. Maaf ya Al.." kata Bima yang sedikit ragu untuk menceritakannya.


" Iya gak apa - apa kalau kamu rasa itu tak bisa di ceritakan. Semoga ada jalan untuk penyelesaiannya ya Bima." Ali temannya mendoakannya.


" Iya Ali, terima kasih." ucap Bima.


Bima dan Ali pun melanjutkan lagi pekerjaan mereka.

__ADS_1


" Ali, kesini kamu!" atasannya memanggil Ali.


Ali pun pergi menghampiri atasannya dan masuk ke dalam kantor, mereka disana membicarakan sesuatu.


Namun entah apa yang di bicarakan mereka, Bima hanya menatap dan sambil berpikir surat perjanjian itu.


Surat itu masih di simpan oleh Bima di jok motornya. Dan Diah gak tahu sama sekali tentang hal itu sampai sekarang.


Sebisa mungkin Bima merahasiakan hal itu dari Diah, niatnya Bima tak ingin menyakitkan hati Diah. Tapi sebenarnya bila semakin lama di sembunyikan akan semakin sakit bila ketahuan oleh Diah.


Bima semakin pusing dan tak tahu harus mau bagaimana lagi.


Saat sore harinya, ketika akan pulang ke rumah, Bima membuka jok motornya untuk meletakkan tempat bekalnya di dalam jok.


Tanpa sengaja kertas itu jatuh dan di dapatkan oleh Ali temannya Bima.


***


3 Minggu kemudian...


Monik dan Damar pun sudah pindah ke rumah barunya yang mereka beli dari pinjaman bank. Dan mereka akan membayar cicilannya selama 5 tahun mulai dari bulan depan dari gaji Damar suaminya.


Monik pun bersabar dan selalu menunggu akan panggilan dari surat lamarannya. Rumah baru mereka pun segera di isi dari uang sisa kemarin dan beberapa uang simpanan.


Peralatan dan juga lainnya untuk keperluan memasak serta alat makan dan yang lainnya.


Sementara Damar setiap hari harus lembur untuk mencari uangnya, sekarang hobi Damar sudah tak bisa sering dilakukan seperti dulu sebelum menikah. Dia lebih memilih berhemat untuk melunasi pinjaman di bank tersebut.


Sementara Monik sibuk dengan keinginannya untuk belanja melengkapi isi rumahnya agar terlihat penuh dan tidak kosong.


Monik terlalu gengsi dengan para tetangga dan saudara - saudaranya dengan kehidupannya.


Semenjak bertengkar dengan Vera, Monik jadi menjauh darinya. Dan malah lebih dekat dengan Lastri kakaknya, namun Monik belum tahu bagaimana keadaan dirumah ibunya saat ini.


Karena Monik juga semenjak menikah dia tak pernah main atau mengunjungi orang tuanya dirumahnya.


Sampai para tetangganya bertanya kepada Diah saat mereka main kesana.


" Diah, kenapa Monik tak pernah nampak ya? tanya Tetangganya kepada Diah yang hendak pergi ke warung di dekat rumah mertuanya.

__ADS_1


" Tak tahu juga buk..., mungkin lagi sibuk dan banyak pekerjaannya." ujar Diah yang tak ingin terlalu banyak bicara.


" Tapikan bisa hari libur datang berkunjung.." ucap tetangganya yang punya mulut seperti netizen yang selalu kepo.


" Iya saya juga gak tahu bu.., kan baru masuk rumah baru jadi sedikit sibuk. Lagian kalau hanya ingin bertemu mereka juga sering ke toko tempat jualan kok." ucap Diah yang mengarang bebas.


Memang Monik semenjak menikah sudah tak pernah lagi ke rumah hanya sekedar main - main.


Melainkan ibunya yang suka datang ke rumahnya main karena kangen dengan anaknya.


Ketika Bima dan Diah berduaan...


Hari ini Diah sangat merasa senang, dan dia ingin bersantai bersama suami di ruang tv mereka.


Malam itu Diah sudah atur agar Aira tidur dengan cepat dan tak terganggu olehnya.


Siangnya Diah sudah siapkan kopi susu bungkusan untuk di minum berdua dengan ubi goreng kesukaan Bima.


Setelah semua beres dan Aira juga sudah tidur, Diah pun menyuguhkan minuman itu dan camilannya saat Bima sedang menonton acara tv nya.


Kebetulan malam itu sedang turun hujan, dan udara terasa sejuk untuk duduk di luar.


" Wah, enak sekali ini ma, kamu sepertinya sudah menyiapkan ini dari awal ya?" tanya Bima ke istrinya.


" Hehehe.., iya mas. Aku hanya ingin bisa duduk menikmati suasana seperti ini bersama mu selamanya mas." ucap Diah.


Kata - kata Diah menyayat hati Bima yang menurutnya tak mungkin bisa dia berikan lagi nanti ketika dia sudah tak bersamanya lagi.


" Maafkan aku sayang, suasana yang sesederhana ini saja tak bisa ku berikan lagi nanti untuk mu. Karena sebentar lagi kau pasti akan tahu tentang kebohongan ku saat itu telah tiba." ujar dalam hatinya.


Diah lalu berbaring di pangkuan Bima dan bersikap manja kepadanya.


Diah sangat mencintai suaminya itu, yang pada awalnya selalu mendukung dan mensupport dirinya.


" Mas, jangan tinggalkan Diah ya mas.., Diah bersyukur memiliki kamu di dalam kehidupan ini mas." kata Diah yang memegang tangan Bima.


Bima membelai rambut Diah dengan lembut, hatinya menangis dan sangat terasa pilu saat itu.


" Andai saja ada pilihan yang lain saat itu Diah, mas gak akan mengambil resiko atas semua ini dan kamu harus menanggungnya." batinnya berkata lagi.

__ADS_1


__ADS_2